drh. Chaidir, MM | Legenda Sungai Carang | PARADE kapal hias Sungai Carang sebagai salah satu agenda dalam Festival Sungai Carang 2016 di Tanjung Pinang, adalah sebuah gagasan cemerlang. Wajar bila Menteri Pariwisata, Arief Yahya terkagum-kagum.
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Legenda Sungai Carang

Oleh : drh.chaidir, MM

PARADE kapal hias Sungai Carang sebagai salah satu agenda dalam Festival Sungai Carang 2016 di Tanjung Pinang, adalah sebuah gagasan cemerlang. Wajar bila Menteri Pariwisata, Arief Yahya terkagum-kagum. "Keren, Kepri luar biasa," ujarnya. Parade kapal hias Sungai Carang ini digagas oleh penyair dan budayawan Melayu Rida K Liamsi, merupakan bagian dari Festival Bahari Kepri 2016.

Saya tak ragu menyebut, parade kapal hias Sungai Carang ini adalah sebuah gagasan brilian yang berpotensi besar menjadi sebuah agenda pariwisata kelas dunia. Ribuan pengunjung wisnu dan wisman malam (29/10) dua hari lalu, memadati pantai Tanjung Pinang yang sudah didesain indah, menyaksikan banyak sekali kapal yang mengikuti parade dengan lampu-lampu indah mengagumkan berwarna-warni dalam berbagai bentuk. Sebuah malam yang sangat indah dan sangat mengesankan. Apalagi Sungai Carang dimana parade tersebut diselenggarakan, adalah sebuah sungai yang penuh dengan legenda.

Sungai Carang yang berhulu ke Gunung Bintan adalah saksi bisu dari banyak peristiwa sejarah dalam jatuh bangunnya Kemaharajaan Melayu selama hampir delapan abad, sebagaimana diulas panjang lebar oleh Rida K Liamsi (2016) dalam bukunya Prasasti Bukit Siguntang dan Badai Politik di Kemaharajaan Melayu 1160-1946. Moleknya, buku sejarah Kemaharajaan Melayu itu diluncurkan pula di Kota Tanjungpinang yang sejarahnya sama tuanya dengan sejarah bermulanya peradaban Melayu di Sungai Carang, pada saat bersamaan dengan penyelenggaraan parade kapal hias itu.

Bagi komunitas yang belum akrab dengan sejarah Melayu dan Kepulauan Riau khususnya Bintan, Sungai Carang agaknya terasa asing. Sungai Carang tak sepanjang Batang Rokan, Sungai Siak, Batang Kampar dan Sungai Indragiri, yang meliuk-liuk dari Bukit Barisan untuk kemudian bermuara di Selat Melaka. Tapi Sungai Carang memiliki sejarah yang sangat panjang sebagai penunjang kehidupan dan eksistensi Kemaharajaan Melayu selama berabad-abad. Bagi sejarawan Portugis, Belanda, Inggris, apalagi bagi sejarawan Melaka, Johor, Singapura, Selangor, Terengganu, Pahang, Bintan, Lingga, Tanjung Pinang, Batam, Siak, Pelalawan, Kampar, Indragiri, Aceh, Palembang, dan Bugis, Sungai Carang pasti dikenal dan dikenang sepanjang hayat. Sebab Sungai Carang merupakan urat nadi Kemaharajaan Melayu. Bahkan Marcopolo pelaut Venesia, Italia, pernah singgah di Bintan pada 1292 dalam pelayaran ekspedisinya.

Sungai Carang di Bintan selalu terbilang dan menjadi penting sebagai pusat pemerintahan dan pertahanan perang. Beberapa kali hancur, tapi kemudian di tepi Sungai Carang ini kembali dibangun pusat pemerintahan untuk meredakan ketegangan politik dan menyusun kekuatan baru. Dalam proses pembangunan pusat pemerintah Kesultanan Johor yang baru di hulu Sungai Carang itulah berasal nama Riau. Para pedagang dan armada perang Portugis yang mencari pusat ibukota yang baru, menyebut sungai itu Rio (sungai). Sementara itu orang-orang Melayu, menandai suasana riuh rendah pembangunan dan hilir mudik kapal-kapal yang membawa berbagai bahan bangunan dan makanan, menandai tempat baru itu sebagai tempat yang "riuh dan rioh". Kemudian Sungai Carang itu disebut Riau, dan setelah itu disebut pula Riau Lama (Rida K Limasi, 2016:104).

Seperti diceritakan Rida, perang sengit yang meletus antara Panglima Raja Haji yang mempertahankan kedaulatan Kerajaan Riau-Johor melawan armada perang Belanda pada 1783 juga terjadi di muara Sungai Carang dan perairan di sekitarnya. Puluhan kapal perang Belanda dengan ribuan pasukan perangnya terlibat dalam pertempuran sengit dengan pasukan Panglima Haji. Sampai pada suatu malam salah satu kapal perang Belanda, Malakka's Walfaaren yang ditumpangi langsung oleh Panglima Perangnya, Arnoldus Lemker kandas di perairan Pulau Paku, dan tentu saja menjadi sasaran empuk meriam Raja Haji. Kapal perang Belanda itu meledak berkeping-keping, seluruh serdadu kapal perang tersebut tewas termasuk panglimanya. Belanda kemudian mundur ke Melaka.

Lama tak ke Tanjungpinang, saya merasakan betapa denyut pembangunan di kota ini luar biasa dahsyatnya. Tanjung Pinang beruntung memiliki Sungai Carang, Pulau Penyengat, potensi bahari dan memiliki Rida K Liamsi yang tak pernah letih bermimpi. Pemerintah sudah membangun Kompleks Kota Rebah di Sungai Carang, Jembatan Sungai Carang yang indah, museum Gonggong, dan berbagai monument bahari lainnya. Bila potensi bahari Sungai Carang terus dikemas dan dipoles, berbagai kisah romantika sejarah Sungai Carang dinovelkan dalam novel-novel sejarah yang indah seperti novel Bulang Cahaya, dan buku sejarah kontemporer Prasasti Bukit Siguntang dan Badai Politik di Kemaharajaan Melayu 1160-1946 yang diluncurkan pekan lalu, Tanjungpinang dan Sungai Carang akan mendunia, melebihi Andrea Hirata dengan Pulau Belitungnya. Syabas Rida.

kolom - Koran Riau Pos 31 Oktober 2016
Tulisan ini sudah di baca 616 kali
sejak tanggal 31-10-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat