drh. Chaidir, MM | Akhirnya Septina.. | DALAM dunia perjodohan ada sebuah adagium usang:
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Akhirnya Septina..

Oleh : drh.chaidir, MM

DALAM dunia perjodohan ada sebuah adagium usang: "sebelum janur melengkung". Maknanya lebih kurang, sebelum dilangsungkan kenduri pernikahan, segala sesuatu masih mungkin terjadi. Karena satu dan lain hal, pasangan pengantin bisa saja bernasib malang, batal duduk bersanding di pelaminan. Bukankah juga ada adagium maju tak gentar versi "ajaran sesat" dalam dunia perjodohan? "Cinta ditolak dukun bertindak."

Jalan yang ditempuh Septina Primawati menuju kursi Ketua DPRD Provinsi Riau sebagai pengganti antar waktu, sempat berada dalam ketidakpastian. Ada resistensi, tapi bukan pada ruang publik, resistensi justru berasal dari kalangan internal, baik di infra maupun di supra struktur politik. Biasalah. Politik memang kek gitu perangainya, sarat kepentingan. Bila ada kepentingan yang "belum duduk", barang itu digoreng kian kemari, ke hulu ke hilir. Praduga pun sempat merebak ketika SK Mendagri yang dinanti, tak kunjung turun. Berita yang tersiar, persyaratan administrasi belum lengkap. Jangan-jangan "masuk angin barang tu".

Tapi akhirnya, seluruh keraguan itu terjawab. Hari ini Septina Primawati dilantik dan tercatat dalam sejarah Provinsi Riau menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPRD Provinsi Riau. Sebuah posisi strategis, simbol politik daerah. Betapa strategisnya posisi tersebut terlihat dari simbol BM 3, kendaraan dinas jabatan yang bakal dipergunakan Septina hari-hari ke depan.

Pelantikan Septina Primawati mengakhiri kontroversi pengisian jabatan Ketua DPRD Provinsi Riau yang telah menjadi konsumsi publik dalam setahun terakhir ini, namun menjadi awal babak baru pertunjukan di panggung politik Riau. "Penonton" kini menanti dengan harap-harap cemas, gerangan lakon seperti apakah yang akan diperankan oleh Septina sebagai nakhoda baru di Gedung Lancang Kuning itu. Ibaratnya, layar kini sudah terkembang. Dan dalam mitos Melayu, walau tujuh samudra terbakar api, kapal tetap berlayar, berpantang surut ke belakang. What ever will be, will be; que sera sera; apa yang terjadi, terjadilah.

Namun demikian, masyarakat harus paham dan bersabar, pedang kekuasaan yang berada dalam genggaman Ketua DPRD tak akan serta-merta menyelesaikan banyak masalah dan menjawab berbagai pertanyaan. Sebab, kekuasaan seorang Ketua DPRD sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan, dijalankan secara kolektif kolegial bersama Wakil-Wakil Ketua, bahkan untuk hal-hal yang sifatnya prinsip harus dibicarakan dalam rapat Badan Musyawarah.

Tidak hanya masalah kewenangan, banalitas panggung politik DPRD "kekinian" tak mudah dipahami dan diselami. Belum ditemukan gaya kepemimpinan politik yang efektif yang berpengaruh signifikan terhadap kinerja lembaga. Satu dan lain hal disebabkan oleh dimensi kognitif yang melatarbelakangi dan pada akhirnya membentuk budaya politik dan kompetensi para anggota sangat bervariasi.

Oleh karena itulah pakar politik Alfan Alfian (2016) dalam buku "Mengapa Politik Menarik -- Memperbincangkan Urgensi Kepemimpinan Politik" menyebut, seseorang yang memilih lintasan politik, mustahil tidak memimpikan kekuasaan. Namun banyak yang kerap melupakan petuah bijak bahwa kekuasaan itu bukan tujuan, melainkan alat untuk mencapai tujuan akhir: kesejahteraan rakyat. Ketika kekuasaan menjadi tujuan, ia berubah menjadi labirin yang bisa membuat sang empunya kekuasaan itu terperangkap dan terjerembab. Dan itulah yang sering terjadi.

Plato dan Aristoteles menganggap politik sebagai suatu usaha untuk mencapai kehidupan masyarakat yang bahagia karena memiliki peluang untuk mengembangkan bakat, bergaul dengan rasa kemasyarakatan yang akrab, dan hidup dalam suasana moralitas yang tinggi. Pandangan normatif ini kemudian terdesak oleh definisi-definisi lain. Tujuannya sebenarnya sama, yakni untuk kehidupan masyarakat yang lebih baik (the better life). Tetapi penekanannya lebih banyak pada kekuasaan, pembuatan keputusan, kebijakan, alokasi nilai, dan sebagainya. Peter Merkl menyebut bahwa politik dalam bentuk yang paling baik adalah usaha mencapai suatu tatanan sosial yang baik dan berkeadilan, betapa samar-samar pun.

Panggung politik susah untuk dikatakan tidak dipenuhi absurditas, paradox, intrik, dan nafsu kekuasaan yang overdosis. Namun kita secara terus menerus perlu mengenali absurditas politik itu sekaligus menengok kembali wajah mulianya. Ungkapan bijak budayawan Prancis Albert Camus agaknya tepat, satu-satunya yang bisa mengalahkan absurditas adalah kejernihan hati dan pikiran. DPRD Riau selama ini belum pernah dipimpin oleh seorang ibu, barangkali karena itu sering tampil dalam absurditas yang susah dikenali. Septina mungkin memiliki kejernihan itu dan tampil sebagai pembeda. Semoga.

kolom - Riau Pos 24 Oktober 2016
Tulisan ini sudah di baca 151 kali
sejak tanggal 24-10-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat