drh. Chaidir, MM | Budaya Instan Isi Ulang | BERITA paling hot dalam sepekan terakhir ini apalagi kalau bukan cerita tentang Dimas Kanjeng Taat Pribadi, pimpinan Padepokan Dimas Kanjeng di Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo Jawa Timur. Taat Pribadi, pengasuh Padepokan ini bikin heboh. Sebagaimana disiarkan di media sosial Youtube, ia tamp
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Budaya Instan Isi Ulang

Oleh : drh.chaidir, MM

BERITA paling hot dalam sepekan terakhir ini apalagi kalau bukan cerita tentang Dimas Kanjeng Taat Pribadi, pimpinan Padepokan Dimas Kanjeng di Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo Jawa Timur. Taat Pribadi, pengasuh Padepokan ini bikin heboh. Sebagaimana disiarkan di media sosial Youtube, ia tampak sedang berada di ruangan penuh tumpukan uang. Dan Uang tersebut konon berasal dari kemampuannya menggandakan uang.

Namun kini pimpinan Padepokan tersebut ditahan oleh kepolisian atas dugaan pembunuhan dan penipuan. Pangeran Kanjeng Taat Pribadi diduga terlibat pembunuhan dua orang bekas anak buahnya, yaitu Abdul Ghani dan Ismail Hidayah. Mereka dibunuh karena khawatir akan membocorkan dugaan praktik penipuan penggandaan uang. Kasus ini kelihatannya belum segera akan menjadi terang, karena ribuan pengikutnya, tetap meyakini pimpinan mereka, Taat Pribadi tidak melanggar hukum.

Kontroversinya menjadi semakin menarik ketika berbagai media nasional, memberitakan pula, bahwa salah seorang akademisi dan politisi kita, bahkan dikenal sebagai figur intelektual, yakni Dr Marwah Daud Ibrahim, yang disebut sebagai Ketua Yayasan Padepokan Pangeran Kanjeng Taat Pribadi, meyakini Taat Pribadi, pengasuh Padepokan tersebut, memiliki kemampuan menggandakan uang.

Kegaduhan berita Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, mengalahkan berita tentang padepokan lain, yang beberapa hari sebelumnya tidak kalah gaduhnya, dan menyita perhatian masyarakat, yakni tentang Padepokan Gatot Brajamusti (yang populer dengan sebutan Padepokan Aa Gatot), di Sukabumi Jawa Barat.

Sebagaimana diberitakan media online detiknews (8/10), dan berbagai media lain, Gatot Brajamusti yang telah ditahan dan ditetapkan sebagai tersangka, blak-blakan mengaku melakukan ritual seks menyimpang dengan pengikutnya di padepokan yang mengadu nasib dan berharap seikat janji popularitas. Pengakuan mengejutkan dari Aa Gatot ini diperkuat oleh artis penyanyi Reza Artamevia yang juga menjadi pengikut Aa Gatot di Padepokan tersebut. Ritual seks di padepokan Aa Gatot diawali dengan mengisap sabu-sabu. Kasus ini diusut polisi setelah menerima pengaduan seorang perempuan yang mengaku sebagai korban. Ritual tersebut dilakukan dengan dalih untuk transformasi oksigen bagi jin yang ada di tubuh Aa Gatot. Weleh..weleh...

Keduanya, baik Taat Pribadi maupun Gatot Brajamusti, adalah pimpinan padepokan. Padepokan secara umum dikenal sebagai tempat untuk menuntut ilmu. Dalam padepokan terjadi interaksi belajar mengajar antara guru dan murid. Dalam perspektif pengertian tersebut, maka keduanya notabene adalah guru dan penasihat spiritual bagi orang-orang tertentu yang merasa perlu mencari pegangan atau pedoman. Hal itu biasa saja dalam sebuah masyarakat anomi seperti disebut sosiolog Prancis Emile Durkheim. Dalam lingkungan masyarakat yang berubah cepat, orang seringkali kehilangan pedoman, sebab dalam banyak hal, realitas tak sesuai dengan norma-norma umum yang diyakini dan dipedomani.

Di samping itu, mentalitas budaya instan dalam masyarakat kita, masih belum juga berubah, bahkan seperti selalu diisi ulang. Chaidir (2002) dalam buku "Panggil Aku Osama", menulis tentang budaya instan yang menjadi fenomena dalam masyarakat kita, bahwa orang-orang cenderung ingin cepat mendapatkan apa yang diinginkannya, seperti meniup Lampu Aladin dalam dongeng 1001 Malam.

Ingin cepat kaya caranya merampok, mencuri, main judi, atau korupsi. Ingin cepat dapat titel, titelnya dibeli. Ingin cepat doktor beli saja doktor honoris causa (yang ketika itu sedang trend). Intinya, orang berlomba-lomba ingin cepat sukses, cepat promosi, cepat kaya, cepat dapat untung besar, tanpa harus bekerja keras. Bila ada jalan pintas itu lebih disukai walau tak masuk akal. Fenomena itulah yang terbaca dari kegaduhan penggandaan uang dan jalan pintas popularitas itu. Taat Pribadi dan Aa Gatot memberi memberi respon. Sayang menyimpang.


kolom - Riau Pos 10 Oktober 2016
Tulisan ini sudah di baca 280 kali
sejak tanggal 10-10-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat