drh. Chaidir, MM | Bola, Vela dan Korea | GOL yang disarangkan oleh Carlos Vela ke gawang Afrika Selatan, dianulir karena ia dianggap offside. Vela kecewa dengan senyum memelas sambil merentangkan tangannya ke arah hakim garis. Tapi hanya itu, tak ada pemain Mexico yang memburu wasit.

Padahal, siapapun yang paham sepakbola, yakin, gol Ve
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Bola, Vela dan Korea

Oleh : drh.chaidir, MM

GOL yang disarangkan oleh Carlos Vela ke gawang Afrika Selatan, dianulir karena ia dianggap offside. Vela kecewa dengan senyum memelas sambil merentangkan tangannya ke arah hakim garis. Tapi hanya itu, tak ada pemain Mexico yang memburu wasit.

Padahal, siapapun yang paham sepakbola, yakin, gol Vela sah 100 persen. Presiden SBY yang ikut "Nobar" di Bali pun sampai penasaran. "Kenapa tidak masuk tadi?" Tanyanya heran kepada Menpora.

Kalau saja blunder itu terjadi di tanah air, dipastikan wasitnya akan jadi sasaran tinju. Babak belur. Atau mungkin stadion sudah dibakar. Tapi lihatlah Vela dan kawan-kawan. Mereka kecewa tapi tidak protes berlebihan. Mereka memperlihatkan sikap terpuji.

Sepakbola tidak hanya soal menjaringkan gol ke gawang lawan. Olahraga yang paling digemari sejagat ini memiliki banyak sisi. Sebagai sebuah organisasi, tim sepakbola hanya akan bisa sampai kepada tujuannya mencetak gol lebih banyak daripada yang bisa dicetak oleh lawan, bila individu-individunya mempunyai kapabilitas dan kapasitas. Perjalanan waktu membuktikan, sepakbola berkembang dengan baik di sebuah negeri dimana tradisi berprestasi dan sportivitas terbangun dan terpelihara.

Lihatlah bagaimana pemain Korea Selatan menunjukkan sikap Spartan. Mereka mampu menundukkan kesebelasan Yunani 2-0. Padahal Yunani bukan kesebelasan anak bawang. Untuk lolos ke Afsel saja mereka harus menyingkirkan beberapa negara Eropa dalam babak kualifikasi. Dan jangan lupa, Yunani adalah Juara Eropa 2004. Kalau pemain Korea terjatuh mereka tidak cengeng berguling-guling minta perlindungan wasit. Kendati pada posisi unggul, sama sekali tak nampak kesan mereka mengulur-ngulur waktu. Begitu menguasai bola, sang kiper dengan cepat melempar bola ke depan.

Ginsengkah rahasianya? Tidak. Jenderal AS berbintang lima, Douglas MacArthur dalam buku biografinya yang ditulis sekembalinya dia bertugas di Korea Selatan pada awal 1950-an, menyebut, Korea Selatan adalah sebuah negeri yang tak akan pernah maju. Alasannya, budaya korupsi di negara itu amat parah. Gadis-gadisnya juga sangat matre.

Tapi lihatlah, MacArthur salah duga. Dalam tempo tidak sampai setengah abad, Korea Selatan tumbuh menjadi sebuah negara industri terkemuka di dunia. Kok bisa? Karena faktor kepemimpinan.

Kebangkitan itu bermula ketika Presiden Korea Selatan, Park Chung Hee melalui keteladanan berhasil membangun tradisi, budaya hidup hemat, budaya disiplin, kerja keras, jauh dari kepura-puraan, dan menghargai prestasi. Park berhasil membangun sikap hidup positif masyarakatnya, sama seperti apa yang dilakukan oleh Dr Mahathir Mohamad di Malaysia, atau Lee Kwan Yew di Singapura.

Sepakbola dan Piala dunia memberi banyak renungan kepada kita. Wajah sepakbola adalah wajah kehidupan masyarakatnya. ***

kolom - Riau Pos - 14 Juni 2010
Tulisan ini sudah di baca 1349 kali
sejak tanggal 14-06-2010

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat