drh. Chaidir, MM | Era Marketing Politik | PILPRES Amerika Serikat (duel head to head Donald Trump vs Hillary Clinton), pilgub DKI Jakarta (duel 3
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Era Marketing Politik

Oleh : drh.chaidir, MM

PILPRES Amerika Serikat (duel head to head Donald Trump vs Hillary Clinton), pilgub DKI Jakarta (duel 3"A", Ahok-Anies-Agus), dan pilwako Pekanbaru serta pilbup Kampar, yang keduanya berpotensi dramatis, menarik untuk disimak. Keempat agenda politik tersebut secara serentak memberi pelajaran, beginilah majunya political marketing atau marketing politik, yang sekarang telah menjadi disiplin ilmu yang diajarkan di kampus, kendati masih tergolong disiplin ilmu yang masih muda.

Istilah marketing alias pemasaran, kini tak lagi melulu milik entitas bisnis seperti yang selama ini kita kenal, misalnya pemasaran sebuah produk dengan merk tertentu dari sebuah pabrik. Ranah politik telah mencaplok istilah marketing tersebut, bahkan jurus-jurus marketing yang sudah menjadi trade mark dunia bisnis sejak zaman kuda makan besi, tanpa basa-basi dicontek habis oleh "makhluk" yang bernama politik itu.

Dalam dunia bisnis, pemasaran merupakan ujung tombak yang sangat penting bagi perusahaan untuk meraup laba. Secara sederhana, dalam pendekatan pemasaran tersebut yang paling penting adalah pendekatan orientasi pasar (market oriented). Orientasi pasar terbagi dua, yakni orientasi pelanggan (customer oriented) dan orientasi pesaing (competitor oriented).

Orentasi pelanggan bermakna, perusahaan produsen harus membuat produk yang laku keras dan disenagi oleh konsumen. Bila pasar meminta gincu bibir berwarna hitam, misalnya, maka pabrik harus banting stir memproduksi gincu berwarna hitam. Prinsipnya, bagaimana memenangkan hati pelanggan, membuat mereka puas dan tetap fanatik dengan produk kesayangan mereka.

Orientasi pesaing pula bermakna, perusahaan produsen yang menjual produk sejenis harus berlomba dengan pesaingnya untuk menawarkan produk yang paling baik, paling bermutu, paling menarik, paling bagus pelayanannya. Masing-masing perusahaan produsen harus berusaha keras untuk memiliki keunggulan bersaing (competitive advantage), sehingga bisa mendominasi pasar.

Kedua orientasi tersebut bisa direbut oleh perusahaan produsen (memenangkan persaingan) bila berhasil menciptakan branding atau pencitraan yang tepat atas produk yang dipasarkan. Dan branding ini tidak bisa dicipakan secara amatiran, melainkan oleh konsultan bisnis antara lain dengan terlebih dulu melakukan market intelligence (riset opini) dan promosi dengan menggandeng jasa berbagai media.

Di negara demokrasi, marketing dalam dunia bisnis itu kemudian mengalami perluasan makna dan aktivitas. Marketing keluar dari prinsip-prinsip institusi bisnis (promosi produk). Dunia politik terutama partai politik dan kandidat yang bertanding dalam pemilihan, kini juga mmenggunakan prinsip marketing bisnis tersebut dengan menggunakan konsultan politik. Bedanya, yang "dijual" bukan produk barang atau jasa seperti dalam dunia bisnis melainkan inisiatif politik, gagasan dan program.

Berpolitik memang mirip dengan berjualan dalam dunia bisnis. Maksudnya, orang yang terjun dan berkompetisi dalam dunia politik haruslah pandai-pandai memperkenalkan diri agar publik bisa mengenal, bersimpati dan akhirnya mau "membeli" dengan memberikan suara.

Marketing politik sebagaimana disebut Firmanzah (2007) dalam bukunya Marketing Politik: Antara Pemahaman dan Realitas adalah seperangkat metode yang dapat memfasilitasi kontestan (individu atau partai politik) dalam memasarkan inisiatif politik, gagasan politik, isu politik, ideologi politik, karakteristik pemimpin dan program kerja kepada masyarakat. Ilmu ini sekarang berkembang dimana-mana di seluruh dunia.

Dan itulah yang serentak dilakukan oleh para kandidat, tak di Amerika, tak di Jakarta, tak di Pekanbaru dan Kampar, sama saja, mereka berebut simpati publik dengan "menjual" branding (pencitraan) yang telah dipersiapkan secara matang. Setali tiga uang.

kolom - Riau Pos 3 Oktober 2016
Tulisan ini sudah di baca 166 kali
sejak tanggal 03-10-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat