drh. Chaidir, MM | Kejutan Agus Harimurti | LUPAKAN sekejap tontonan menarik di panggung pilkada Pekanbaru dan Kampar yang dalam beberapa hari terakhir ini menyita perhatian publik di Riau. Ada kejutan nun di sana di ibukota Jakarta yang resonansinya sampai ke daerah. Pada saat-saat last minute masa pendaftaran, tiba-tiba saja Agus Harimurti
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Kejutan Agus Harimurti

Oleh : drh.chaidir, MM

LUPAKAN sekejap tontonan menarik di panggung pilkada Pekanbaru dan Kampar yang dalam beberapa hari terakhir ini menyita perhatian publik di Riau. Ada kejutan nun di sana di ibukota Jakarta yang resonansinya sampai ke daerah. Pada saat-saat last minute masa pendaftaran, tiba-tiba saja Agus Harimurti (bersama paketnya, Sylviana Murni) mendaftarkan diri sebagai calon Gubernur-Wakil Gubernur DKI Jakarta 2017. Dan mereka langsung digadang-gadang sebagai pasangan kuda hitam.

"Penampakan" tiba-tiba pasangan Agus-Sylviana yang diusung oleh koalisi Partai Demokrat, PKB, PAN dan PPP ini, serta-merta mengubah kontruksi peta politik dan serta-merta pula menghindarkan (atau menyelamatkan?) pilgub DKI Jakarta dari duel head to head Ahok-Djarot vs Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Pertandingan satu lawan satu dalam kondisi sosial-politik seperti sekarang terlalu riskan dipolitisasi dan diseret-seret ke wilayah sensitif oleh penumpang gelap. Isunya akan cepat menjadi viral dan menyebar kemana-mana.

Pada tahap sosialisasi bakal calon saja misalnya, dalam beberapa bulan terakhir ini, isu SARA sudah berada di tubir yang membahayakan semangat persatuan dan kesatuan. Bahkan, kalau mau jujur, sebenarnya isu SARA itu sudah digoreng dalam berbagai kemasan oleh berbagai kepentingan. TKPnya memang Jakarta, tapi "burung" medsos tanpa pandang bulu menerbangkannya ke berbagai penjuru nusantara. Persepsi primitif dikotomis masyarakat diprovokasi sepuas-puasnya, dan ini tentu membuat suasana tidak kondusif. Maka masuknya pasangan Agus-Sylviana menjadikan wajah pilgub DKI 2017 menjadi lebih berona dan menawarkan pilihan yang lebih bervariasi.

Dalam satu sudut pandang, SBY mungkin bisa dianggap lebay. Beberapa waktu lalu (dalam periode sebelumnya), selaku Ketua Umum Partai Demokrat, SBY menunjuk putra kandungnya Ibas (Eddie Baskoro) sebagai Sekjen Partai Demokrat. Kini, Ketum Partai Demokrat itu mengajukan si sulung, Agus Harimurti untuk bertanding dalam pilgub DKI Jakarta. Dramatisnya, memenuhi ketentuan undang-undang, Agus Harimurti terpaksa meninggalkan lintasan cemerlang karirnya di TNI AD pada usia yang sedang ranum-ranumnya.

Publik pasti membaca, Agus Harimurti tentu tak bisa lepas dari bayang-bayang nama besar ayahandanya, kendati Agus adalah seorang anak muda yang brilian. Rekam jejaknya mengagumkan. Pada bulan Juni 2014, Agus menempuh pendidikan militer setingkat Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (Seskoad) di Command and General Staff College (CGSC) di Fort Leavenworth, Kansas, Amerika Serikat. Setahun kemudian dia lulus dengan predikat sempurna (summa cumlaude dengan Indeks Prestasi Kumulatif - IPK 4.0).

Di samping menempuh pendidikan militer, Agus juga berhasil menyelesaikan program Master dalam Kepemimpinan dan Manajemen (MA in Leadership and Management) dari George Herbert Walker School di Webster University, juga di AS, dengan hasil yang juga predikat sempurna (IPK 4.0). Dengan prestasi tersebut Agus sering diundang sebagai narasumber dalam berbagai kesempatan (dalam dan luar negeri), dan menancapkan benderanya sebagai seorang intelektual. Namun di panggung politik dia adalah pemain baru dan pasti dianggap anak bawang.

Betapapun, langkah Agus yang mengejutkan ikut mencalonkan diri dalam pilgub DKI dan rela mundur dari TNI AD, tetap dianggap tak terlepas dari langkah kuda sang ayah. Langkah ini sulit diterka, apatah lagi bila dilihat, Partai Demokrat berhasil merangkul PKB, PAN dan PPP untuk mengusung Agus Harimurti. Bukankah ketiga partai tersebut merupakan partai pendukung pemerintah yang sebenarnya telah mendukung Ahok-Djarot?

Kelihatannya, kalah-menang bagi Agus Harimurti tak jadi masalah. Pandang sajalah ini sebagai sebuah strategi pemasaran politik (political marketing). Koalisi pendukung Agus Harimurti ini barangkali bersiap-siap membangun poros tengah diantara konkurensi Jokowi-Prabowo pada pilpres 2019 yang akan datang. Atau semacam antitesis terhadap tesis kompetisi Partai Gerindra (plus PKS) vs PDIP (plus Partai Golkar). Konstelasi baru ini pasti tak nyaman bagi Jokowi. Tapi Politik memang kek gitu perangainya. Who knows?

kolom - Riau Pos 26 September 2016
Tulisan ini sudah di baca 408 kali
sejak tanggal 26-09-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat