drh. Chaidir, MM | Klimaks Malu | KALAULAH pekan lalu langit bisa merah bersimbah darah, tentulah cakrawala langit Riau tak lagi biru. Gerangan adakah perang tanding atau perang sosoh seperti di zaman Majapahit dulu? Itulah pokok persoalannya. Tidak ada perang tanding, tak ada ribuan pedang yang terhunus. Semua pedang tersarung. Lal
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Klimaks Malu

Oleh : drh.chaidir, MM

KALAULAH pekan lalu langit bisa merah bersimbah darah, tentulah cakrawala langit Riau tak lagi biru. Gerangan adakah perang tanding atau perang sosoh seperti di zaman Majapahit dulu? Itulah pokok persoalannya. Tidak ada perang tanding, tak ada ribuan pedang yang terhunus. Semua pedang tersarung. Lalu darah itu?

Pasti tak sedikit yang mencibir, bahwa itu adalah hal yang biasa saja terjadi di zaman sekarang. "Biasa aja lage", begitu komentar di medsos, sarkastis. Tapi jujurlah, banyak yang mencibir tapi pasti lebih banyak lagi yang terbang darah terkejut tingkat dewa. Darah orang yang sangat terkejut inilah yang terbang ke langit tinggi.

Limbung rasanya, hoyong badan seperti mau tumbang, begitu membaca running text di televisi nasional: ditemukan onderdil pengisap sabu di Gedung Lancang DPRD Provinsi Riau. Di Gedung DPRD? Di gedung tempat para wakil rakyat yang terhormat rapat? Di gedung yang megah itu? Alangkah tragisnya. Tapi ini bukan mimpi di siang bolong, Bro. Diusap pun mata berkali-kali mana tahu itu hanya ilusi belaka running text itu tetap saja melintas tak peduli, impersonal.

Berarti berita itu benar adanya. Itu jelas berita buruk tapi baik untuk diberitakan. Adagium usang dalam dunia pers "berita buruk berita baik" (bad news good news) belum basi, dan belum ada tanda-tanda akan basi. Semakin buruk kejadiannya semakin menarik untuk diberitakan, dulu sekarang dan esok juga begitu. Bahkan kini seakan menjadi trend di era keterbukaan tak bertepi ini, arang di kening saudara pun menjadi berita seksi. Nasihat Demang Lebar Daun, "bila anak Melayu itu salah, dan atas kesalahannya dia patut dihukum mati, hukumlah, tapi sekali-sekali jangan mempermalukan", nampaknya tak lagi dipahami atau tak lagi mampu dipahami.

Nasihat Demang Lebar Daun yang dalam satu versi sejarah Melayu adalah mertua raja Melayu Sang Sapurba, penekanannya adalah pada rasa malu yang harus dijaga. Tidak boleh membongkar aib sesama. Jangan menepuk air di dulang. Betapa pun seseorang itu bersalah, dia tidak boleh dipermalukan. Andai tokoh Demang itu bukan viksi, kita bisa bilang ke arwahnya, orang-orang dulu-dulu memang demikian, Demang. Orang-orang yang lahir di tahun tinggi, tak kan paham. Anak-anak yang lahir di tahun tinggi dengan ringan akan mengatakan, "sapa suruh datang Jakarta, sendiri sana sendiri rasa..." Tangan menyincang bahu memikul, begitulah kira-kira. Kenapa pula orang lain harus ikut menanggung malu?

Tapi DPRD Riau ini adalah lambang politik daerah, mitra gubernur dalam membangun dan menjaga marwah Provinsi Riau. Lembaga itu adalah panggung politik bagi wakil-wakil rakyat dari "dua belas penjuru angin" di Provinsi Riau ini. Wakil -wakil rakyat itu bila telah menggunakan atribut DPRD Provinsi Riau, mereka bukan lagi wakil partai apalagi wakil etnis tertentu. Mereka adalah wakil rakyat, maka semuanya harus menjaga marwah lembaga dengan memelihara sikap dan perbuatan yang terpuji, termasuk cara perpakaian dan bertutur bahasa.

Entah peristiwa alat hisap sabu itu nyata, entah dengan maksud terselubung hendak mempermalukan dan bermaksud menjatuhkan marwah panggung yang menjadi simbol politik daerah, kejelasannya harus diungkap sejelas-jelasnya. Kita percaya aparat keamanan memiliki seribu satu jurus untuk mengungkap peristiwa tersebut.

Bagi DPRD Riau, jadikanlah peristiwa itu klimaks malu yang harus ditanggung setelah serangkaian malu lain yang sering dipertontonkan, baik disengaja atau tidak disengaja, disadari atau tidak disadari, yang merendahkan marwah lembaga. #savedprdriau.

kolom - Riau Pos 19 September 2016
Tulisan ini sudah di baca 311 kali
sejak tanggal 19-09-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat