drh. Chaidir, MM | Menyembelih Sifat Kebinatangan | HARI ini 10 Zulhijjah tahun 1437 dalam hitungan kalender Hijriah. Umat Islam di seluruh dunia merayakan Hari Raya Idhul Adha, atau disebut juga Hari Raya Idul Qurban. Hari Raya ini berkaitan erat dengan ritual ibadah haji yang sedang berlangsung di Tanah Suci. Ritual lain yang merupakan lampiran tak
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Menyembelih Sifat Kebinatangan

Oleh : drh.chaidir, MM

HARI ini 10 Zulhijjah tahun 1437 dalam hitungan kalender Hijriah. Umat Islam di seluruh dunia merayakan Hari Raya Idhul Adha, atau disebut juga Hari Raya Idul Qurban. Hari Raya ini berkaitan erat dengan ritual ibadah haji yang sedang berlangsung di Tanah Suci. Ritual lain yang merupakan lampiran tak pernah terpisahkan adalah penyembelihan hewan qurban seperti kambing, domba, sapi atau kerbau; di negeri Arab sana juga unta.

Setiap kali merayakan Hari Raya Idul Adha, dan memaknai nilai-nilai yang terkandung, setiap kali pula kita diajak melakukan refleksi terhadap kisah perjalanan hidup Nabi Ibrahim as. Nabi Ibrahim adalah nabi yang paling diagungkan oleh agama-agama samawi, ditulis dengan tinta emas dalam kitab suci berbagai agama karena kesediaan dan keikhlasannya mengurbankan anak kandung kesayangannya hanya karena Allah semata.

Jauh sebelum kisah pengurbanan Nabi Ibrahim, manusia telah mengenal sejarah kurban ketika putra-putra Nabi Adam, yakni Habil dan Kabil melakukan ritual kurban untuk Allah Yang Maha Pecipta. Kurban tersebut adalah perintah dari Tuhan kepada Nabi Adam agar anak-anaknya melakukan kurban. Seperti dikisahkan dalam AlQuran, ketika Habil dan Kabil mempersembahkan kurban, yang diterima adalah kurban dari Habil, kurban yang berasal dari Kabil ditolak.

Usut punya usut, ternyata ini masalah keikhlasan. Habil yang peternak, dengan sepenuh hati ikhlas berkurban dengan menyiapkan hewan terbaik yang dimilikinya untuk kurban. Sebaliknya, Kabil, yang petani, melaksanakan perintah tersebut dengan tidak ikhlas, ia merasa terpaksa. Kabil berkurban dengan buah-buahan sortiran. Kisah ini kelak di kemudian hari menjadi iktibar bagi cucu-cucu keturunan Nabi Adam as.

Pada masa-masa Nabi Ibrahim dan sebelum Nabi Ibrahim, manusia sering mempersembahkan manusia sebagai kurban (sesajen) kepada tuhan-tuhan atau dewa-dewa yang mereka sembah. Di Mesir setiap tahun gadis yang tercantik dipersembahkan kepada Dewi Sungai Nil. Di Kanaan, Irak, bayi-bayi dipersembahkan kepada Dewa Baal. Suku Aztec di Meksiko mereka menyerahkan jantung dan darah manusia kepada Dewa Matahari. Orang-orang Viking di Eropa utara yang mendiami kawasan Skandinavia justru mengurbankan pemuka-pemuka agama mereka kepada Dewa Perang "Odin".

Seperti ditulis Quraish Shihab dalam buku Lentera Hati (2007), Nabi Ibrahim hidup pada abad ke-18 SM, suatu masa ketika terjadi persimpangan jalan pemikiran kemanusiaan tentang kurban-kurban yang masih berwujud manusia. Di satu pihak ada yang mempertahankan dan di pihak lain ada pula yang beranggapan bahwa manusia terlalu mulia dan tinggi nilainya untuk dikurbankan kepada Zat yang disembah. Di sinilah ajaran yang dibawa oleh Nabi Ibrahim memberi jalan keluar yang memuaskan semua pihak. Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih anaknya sebagai isyarat bahwa anak tercinta jiwa yang paling berharga di sisi seseorang bukanlah sesuatu yang berarti jika Tuhan telah meminta. Tidak ada sesuatu yang dapat dinilai tinggi jika dihadapkan dengan perintah Tuhan.

Sesaat ketika pisau digerakkan untuk menyembelih sang anak sebagai kurban tanda kesetiaan kepada Tuhan, tiba-tiba seekor domba dijadikan penggantinya. Hal ini memberi isyarat bahwa Tuhan demikian kasih kepada manusia sehingga kurban manusia tidak diperkenankan.

Hari Raya Idul Adha harus mampu mengingatkan kita semua bahwa yang dikurbankan tidak boleh manusia, tetapi sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam diri manusia. Sifat-sifat kebinatangan itu adalah rakus, egois, ambisi yang tak terkendali, menindas, menyerang, tidak mengenal hukum dan norma-norma apapun. Sifat-sifat itu kini menjangkiti masyarakat kita, menjadi viral di sekeliling kita, bahkan mungkin di rumah kita sendiri, sadar atau tidak. Sifat-sifat itulah yang harus kita sembelih, tapi karena tak mati-mati, setiap tahun kita sembelih, sembelih, dan sembelih terus sampai dunia kiamat.

kolom - Riau Pos 17 September 2016
Tulisan ini sudah di baca 302 kali
sejak tanggal 17-09-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat