drh. Chaidir, MM | Apa Kabar Lifting Minyak | RIAU mendapat pukulan beruntun tahun 2016 ini. Sudahlah bagian dari Dana Bagi Hasil mengalami penurunan, sebagian Dana Alokasi Umum mengalami tunda salur pula. Penurunan alokasi anggaran dari pusat ini pasti menurunkan kapasitas fiskal daerah. Penurunan kapasitas fiscal daerah tentu merugikan masyar
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Apa Kabar Lifting Minyak

Oleh : drh.chaidir, MM

RIAU mendapat pukulan beruntun tahun 2016 ini. Sudahlah bagian dari Dana Bagi Hasil mengalami penurunan, sebagian Dana Alokasi Umum mengalami tunda salur pula. Penurunan alokasi anggaran dari pusat ini pasti menurunkan kapasitas fiskal daerah. Penurunan kapasitas fiscal daerah tentu merugikan masyarakat secara umum. Tapi ini bukan salah daerah, ini masalah target penerimaan negara yang tidak tercapai. Dan pengurangan itu tidak hanya dialami Riau, daerah-daerah lain juga ikut menanggung. Oleh karenanya tak dapat akal, untuk sementara daerah terpaksalah mengencangkan ikat pinggang melakukan penghematan, antara lain dengan mengurangi biaya perjalanan dinas. Dapat dipahami.

Dalam kondisi demikian, ibarat kata, tak ada kayu tangga dikapak, tak ada rotan akar pun jadi. Bila langkah darurat itu juga belum nampak liangnya, maka catatan hutang-piutang pun dipelototi, mana tahu ada surplus yang belum tertagih. Dapat satu sen dua sen pun lumayan untuk menambah pundi-pundi daerah.

Dalam semangat konsolidasi itulah saya teringat, dulu semasa Gubernur RZ dan Menkeu Sri Mulyani pada periode pertama (menjabat Menkeu semasa Presiden SBY), Riau pernah mempertanyakan kepada pemerintah pusat berapa sebetulnya jumlah lifting minyak yang berasal dari perut bumi Riau yang dijual setiap tahun.

Lifting adalah volume terukur minyak dan gas bumi yang dikeluarkan dari depot penyimpanan untuk dijual. Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi memiliki Sistem Monitoring Lifting Minyak dan Gas Bumi (SMLM) untuk mengimplementasikan tugas pembinaan dan pengawasan atas produksi dan lifting minyak dan gas bumi. SMLM ini mengumpulkan data produksi dan volume lifting minyak dan gas bumi di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk digunakan sebagai dasar perhitungan alokasi volume lifting yang menentukan besaran dana bagi hasil sektor migas dalam rangka perimbangan keuangan pusat dan daerah.

Dalam rapat yang dipimpin langsung oleh Menkeu Sri Mulyani (2006) itu, Gubernur RZ mempertanyakan tranparansi dalam implementasi SMLM ini dalam menghitung produksi dan lifting minyak Riau. Singkatnya, Riau minta kejelasan. Pemprov Riau merasa ada keanehan, karena data yang diterima selalu berbeda. Tapi apa hendak dikata, jangankan Pemprov Riau, Sri Mulyani saja selaku Menkeu Republik Indonesia ketika itu mengaku tidak tahu berapa persisnya volume lifting tersebut.

Kecurigaan wajar saja timbul sebab pihak kontraktor tidak transparan dalam hal lifting ini. Dan Menkeu jelas tidak mau dianggap mengetahui sesuatu yang tak diketahuinya. Maka dalam pertemuan tersebut secara tegas Menkeu Sri Mulyani minta agar Pemprov Riau dilibatkan dalam menghitung volume lifting minyak dan gas bumi tersebut. Tak boleh ada dusta diantara kita, begitulah kira-kira. Dengan demikian akan menjadi jelas berapa sebenarnya Dana Bagi Hasil yang menjadi hak Riau. Sebab DBH minyak bumi sebesar 15,5 persen yang menjadi hak Riau sebagaimana disebut dalam undang-undang adalah dari hasil bersih setelah potong pajak dan cost recovery. Hitung-hitungannya tentu berawal dari volume lifting.

Sekembali dari Jakarta Gubernur RZ membentuk tim. Namun tak lama kemudian Menkeu Sri Mulyani mengundurkan diri, dan tim yang ditugaskan untuk ikut menghitung volume lifting tersebut bersama petugas dari Jakarta tak jelas lagi ujung pangkalnya. Harusnya ada time series data yang bisa dipublikasikan sehingga semuanya menjadi jelas. Mustahil tidak ada data. Apalagi sekarang, Sri Mulyani sudah kembali ke pos semula sebagai Menteri Keuangan dan dia pasti belum lupa.

Memang, volume lifting pasti jauh berkurang dibanding sepuluh tahun lalu ketika produksi minyak Riau masih berkisar sekitar 900.000 barrel per hari, tapi kejelasan tetap perlu sebagai sebagai sebuah pertanggung jawaban. Hati-hati dengan minyak, salah-salah bisa membuat tergelincir.

kolom - Riau Pos 5 September 2016
Tulisan ini sudah di baca 317 kali
sejak tanggal 05-09-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat