drh. Chaidir, MM | Menjadi ASN Itu Pilihan | BOLEH percaya boleh tidak. Tapi ini sebuah realitas yang sulit dipahami. Status PNS atau ASN yang direbut dengan bersusah payah bahkan sampai berdarah-darah, ternyata dilepas begitu saja hanya karena alasan-alasan sepele yang tak bisa diterima dengan akal sehat. Padahal ada puluhan ribu yang tersing
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Menjadi ASN Itu Pilihan

Oleh : drh.chaidir, MM

BOLEH percaya boleh tidak. Tapi ini sebuah realitas yang sulit dipahami. Status PNS atau ASN yang direbut dengan bersusah payah bahkan sampai berdarah-darah, ternyata dilepas begitu saja hanya karena alasan-alasan sepele yang tak bisa diterima dengan akal sehat. Padahal ada puluhan ribu yang tersingkir karena kalah berkompetisi. Adakalanya, nilai test seseorang cukup tinggi tetapi karena kuota terbatas, apaboleh buat tidak termasuk daftar yang diterima. Dengan kata lain tidak mudah bagi seseorang untuk diterima dan diangkat menjadi PNS atau ASN, saringan masuknya pasti amat ketat karena peminatnya sangat banyak.

Sejak UU No.5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) diberlakukan, ASN dibagi menjadi dua komponen yaitu Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). PNS merupakan pegawai ASN yang diangkat sebagai pegawai tetap dan memiliki nomor induk pegawai (NIP). Sedangkan PPPK merupakan pegawai ASN yang diangkat sebagai pegawai dengan perjanjian kerja sesuai kebutuhan. Baik PNS maupun PPPK, keduanya disebut ASN

Besarnya animo masyarakat Indonesia untuk menjadi ASN, menjadi sebuah fenomena. Pencitraan yang terbentuk, kehidupan pegawai negeri bila mereka tidak aneh-aneh saja umumnya mapan. Status dan kedudukan ASN, memang sangat ampuh untuk mengangkat harkat dan martabat seseorang dan keluarganya. Demikian pula untuk mengendalikan berbagai kegiatan kemasyarakatan. Ada akses ke pusat-pusat kekuasaan. Secara sederhana mungkin alasan-alasan tersebut dapat menjelaskan mengapa menjadi ASN selalu jadi cita-cita orang Indonesia pada umumnya.

Menilik standar gaji (resmi) seorang ASN yang tidak sebesar standar gaji di sektor swasta dan susahnya memperebutkan status sebagai ASN, memberikan kesan secara umum bahwa yang dikejar bukanlah faktor gaji semata. Ada faktor lain seperti, kehormatan, kekuasaan, fasilitas, dan sebagainya, yang secara tidak langsung pada gilirannya dimanfaatkan untuk mengembalikan pengorbanan yang sudah diberikan pada saat penerimaan pegawai negeri. Oleh karenanya mengherankan bila ada ASN yang tidak memiliki kesadaran diri, sehingga menyia-nyiakan status yang dimilikinya.

Memang tidak semua ASN yang menyia-nyiakan kesempatan yang sudah berada di tangan, pasti lebih banyak yang dengan penuh kesadaran mampu bekerja dengan baik, berhasil mengembangkan kompetensi diri menjadi profesional dan membangun karir. Bukankah mereka sudah mengangkat sumpah ketika dilantik sebagai ASN? Tapi perilaku segelintir ASN yang tidak terpuji menjadi ibarat nila setitik yang merusak susu sebelanga. Dan perilaku yang tidak terpuji ini tidak hanya merusak citra (image) pegawai negeri secara keseluruhan, tapi merusak suasana kerja di lingkungan masing-masing.

Bayangkanlah, seorang oknum ASN yang tidak masuk kerja berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan misalnya, tetap dibayarkan gajinya, tentu akan menimbulkan rasa ketidakadilan di lingkungan ASN tersebut, kenapa orang yang masuk kerja dan tidak masuk diberi gaji yang sama. Memang tidak ada jaminan tingkat kehadiran pegawai berbanding lurus dengan prestasi pegawai. Bisa saja terjadi pegawai yang rajin hadir tapi tidak mampu bekerja dengan baik. Atau sebaliknya, pegawai jarang hadir tapi setiap tugas yang diberikan oleh atasan diselesaikan dengan baik. Masalahnya, tingkat kehadiran itu adalah kewajiban pertama yang harus dipenuhi oleh pegawai. Jadi, yang paling bagus itu adalah, disiplin hadir dan prestasi bagus.

Menjadi ASN memang tidak mudah. Tanggung jawab besar ada di pundaknya, mereka bekerja demi negara dan melayani masyarakat. Masyarakat menuntut ASN bak Malaikat, tulus setulus-tulusnya, jujur sejujur-jujurnya, tak boleh lambat, marah atau diskriminasi. Untuk peran tersebut, di samping diberi gaji, ASN memiliki seperangkat hak dan fasilitas, dan untuk pejabat juga memiliki beberapa previlese. Namun ASN memiliki beberapa hal yang tidak boleh dilakukannya, dan itu semua sudah tertuang dalam Peraturan Pemerintah No 53 Tahun 2010 tentang Disiplin PNS, terdapat larangan bagi pegawai negeri dan sanksi yang diberikan jika melanggar. Disinilah dituntut kedisiplinan pegawai. Disiplin pegawai adalah kesanggupan pegawai itu untuk menaati kewajiban dan menghindari larangan yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan, yang apabila dilanggar atau tidak ditaati atau dijatuhi hukuman disiplin.

Menurut Malayu S.P Hasibuan (1996), "Kedisiplinan adalah kesadaran dan kesediaan seseorang mentaati semua peraturan dan norma-norma yang berlaku". Sebenarnya, bila disiplin itu sudah menyatu dengan diri pegawai, maka sikap atau perbuatan (berupa nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, keteraturan, dan ketertiban) yang dilakukan, tidak dirasakan lagi sebagai beban, bahkan sebaliknya akan membebani dirinya bilamana ia tidak berbuat sebagaimana lazimnya. Nilai-nilai kepatuhan telah menjadi bagian dari perilaku dalam kehidupannya.

Disiplin ASN bisa dianggap telah berjalan dengan baik bila beberapa indikator disiplin sebagaimana ditulis Dede Hasan (2002) terpenuhi, yakni 1) Melaksanakan dan menyelesaikan tugas pada waktunya; 2) Bekerja dengan penuh kreatif dan inisiatif; 3) Bekerja dengan jujur, penuh semangat dan tanggung jawab; 4) Datang dan pulang tepat pada waktunya; 5) Bertingkah laku sopan. Bila indikator tersebut terlihat jelas dalam institusi dimana ASN bekerja, maka berita-berita sporadis tentang perselingkuhan ASN, adalah kasuistis, kendati mengganggu, itu bukan sebuah fenomena.

Namun demikian ASN perlu secara terus menerus disadarkan dan dibangkitkan motivasi berprestasinya (need for achievement seperti disebut McCleland). Menjadi ASN itu bukan kewajiban tapi pilihan sukarela yang sudah diperjuangkan mati-matian, jangan sia-siakan dengan mengikuti naluri primitive yang tidak perlu.

kolom - Koran Riau 23 Agustus 2016
Tulisan ini sudah di baca 451 kali
sejak tanggal 23-08-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat