drh. Chaidir, MM | Panggung Septina | SEPTINA Primawati  tak memerlukan waktu lama untuk membuktikan sebuah adagium usang,
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggung Septina

Oleh : drh.chaidir, MM

SEPTINA Primawati tak memerlukan waktu lama untuk membuktikan sebuah adagium usang, "kekalahan adalah kemenangan yang tertunda." Bagi sebagian besar penduduk Kota Pekanbaru, dan Riau pada umumnya, mungkin belum lupa, bagaimana Septina Primawati kalah terhormat dalam pertarungan sengit head to head melawan Firdaus pada pemilihan Walikota Pekanbaru 2010 silam.

Kamis (18/8) pekan lalu Septina Primawati secara resmi diumumkan dan disetujui rapat paripurna DPRD Provinsi Riau, dan selanjutnya diusulkan kepada Menteri Dalam Negeri untuk diterbitkan SK pengangkatannya sebagai Ketua DPRD Provinsi Riau. Pengumuman tersebut menyusul surat penunjukan dari DPD Partai Golkar Riau sebuah surat yang sudah dinanti siang dan malam.

Dengan demikian dalam waktu yang tidak terlalu lama, Septina Primawati akan segera dilantik dan diambil sumpahnya dan menempati posisi terhormat sebagai Ketua DPRD Provinsi Riau, yang nota bene secara protokoler lebih tinggi dari posisi walikota yang dulu tak berhasil digenggamnya. Dan yang lebih fenomenal, Negeri Lancang Kuning ini mencatat sejarah, untuk pertama kali Ketua DPRD Provinsinya dijabat oleh seorang tokoh perempuan.

Tak ada yang salah. Fenomena tampilnya kepemimpinan perempuan pada abad ini sesungguhnya sudah diprediksi sejak lama oleh sejarawan Amerika Will Durat (1885-1981), bahwa salah satu momentum besar abad ini adalah tampilnya kepemimpinan perempuan. Pendapat itu sejalan dengan ramalan futurolog John Naisbitt dan Patricia Aburdene dalam Megatrend 2000, bahwa salah satu gelombang besar abad ke-21 adalah munculnya kepemimpinan kaum perempuan.

Apa yang terjadi di sekeliling kita agaknya hanya sebagian kecil dari fenomena itu. Politisi perempuan Theresa May baru-baru ini terpilih menjadi Perdana Menteri Inggris. Di Jepang, Yuriko Koike adalah gubernur perempuan pertama sepanjang sejarah yang terpilih menjadi gubernur Tokyo, ibukota Negeri Sakura itu (31/7). Di Amerika Serikat tokoh perempuan Hillary Clinton sedang berada di atas angin untuk terpilih menjadi perempuan pertama sebagai Presiden AS (polling sementara unggul dari kompetitornya, Donald Trump). Di negeri kita, tampilnya kembali sosok Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan, menandakan perempuan bisa menjadi seorang profesional hebat.

Ketua DPRD Provinsi tidak hanya sekedar memiliki kedudukan protokoler yang tinggi, berkedudukan sebagai mitra sejajar gubernur; lebih dari itu, DPRD Provinsi adalah sebuah panggung politik, bahkan simbol politik daerah. Dengan demikian, DPRD Provinsi sebenarnya menjadi wajah politik daerah penjaga marwah negeri. DPRD yang berisi politisi terhormat perwakilan rakyat dari berbagai partai politik, senantiasa dituntut menjunjung tinggi sikap terpuji sebagai cerminan kejujuran dan keluhuran akal budi. Bagian tersulit tentulah menyelaraskan kepentingan-kepentingan sempit pribadi dan kelompok dengan kepentingan umum masyarakat luas. Membangun komunikasi interpersonal dan intrapersonal adalah kuncinya. Komunikasi interpersonal diperlukan untuk membangun kesamaan persepsi terhadap berbagai permasalahan, sedang komunikasi intrapersonal adalah komunikasi dengan hati nurani masing-masing. Sebab instrumen inilah yang tak pernah bohong.

Sayangnya, lembaga politik kita dewasa ini, di mana pun, sedang menghadapi social distrust, rendahnya tingkat kepercayaan publik akibat ulah oknum politisi yang tidak kuat memikul amanah. Sebenarnyalah, politisi yang baik tetap lebih banyak, tapi kebaikan dirusak oleh nila setitik sehingga rusaklah susu sebelanga. Sanksi sosial itu berat dan rakyat mencatat.

Panggung itulah yang akan dimasuki oleh Septina Primawati. Sebuah panggung yang banal, penuh dengan keliaran pemain, panggung yang tak lagi memiliki semangat keluhuran dalam jiwa. Semangatnya seakan telah dibawa lari oleh roh jahat. Di tengah banalitas yang hingar bingar itu, sentuhan lembut keibuan seorang pemimpin perempuan agaknya akan jadi sitawar sidingin. Segera saja selenggarakan upacara adat "Upah-upah" supaya semangat kembali ke badan lembaga. Syabas!

kolom - Riau Pos 22 Agustus 2016
Tulisan ini sudah di baca 364 kali
sejak tanggal 22-08-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat