drh. Chaidir, MM | Nasionalisme Riau | MENYANDINGKAN peringatan Hari Proklamasi Republik Indonesia 17 Agustus 1945 dengan Hari Jadi Provinsi Riau 9 Agustus 1957 tentu tidak sepadan. Bukan karena faktor usia, tapi dalam istilah yang sok keren, menyandingkan keduanya bukan
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Nasionalisme Riau

Oleh : drh.chaidir, MM

MENYANDINGKAN peringatan Hari Proklamasi Republik Indonesia 17 Agustus 1945 dengan Hari Jadi Provinsi Riau 9 Agustus 1957 tentu tidak sepadan. Bukan karena faktor usia, tapi dalam istilah yang sok keren, menyandingkan keduanya bukan "apple to apple" maka tidak relevan. Peringatan Hari Proklamasi RI mungkin bisa disandingkan dengan National Day Tiongkok, Amerika Serikat, India, Rusia, atau Brazil, karena sama-sama negara besar.

Namun, karena peringatannya hampir bersamaan, maka demam perayaannya pun berkepanjangan sambung-menyambung, talu-bertalu, tingkah-bertingkah. Dan kondisi itu permanen, setiap tahun akan tetap berlangsung demikian sampai kelak sehari menjelang dunia kiamat (he..he..pinjam istilah ulama Ahmad Safi'i Maarif). Kendati bukan "apple to apple", kedekatan tanggal kelahiran itu sudah takdir, tidak lagi bisa dikoreksi kecuali salah satunya bubar atau hilang ditelan sejarah seperti mitos hilangnya peradaban Atlantis sebagaimana disebut filsuf Plato.

Seringkali, untuk alasan efisiensi, panitia perayaan kedua momen itu menggabungkan acara panjat batang pinang, lomba lari karung, lomba jung, lomba gasing, lomba domino, dan berbagai pesta rakyat lainnya. Selama tidak dipersoalkan oleh yang berwenang, perayaan gabungan itu sah-sah saja. Sederhana saja memandangnya, kegairahan masyarakat lebih baik daripada tidak lagi bergairah merayakan keduanya.

Atau, meriah perayaannya dengan berbagai perlombaan, lengkap dengan ronggeng semalam suntuk tapi lupa maksudnya, bahwa perayaan tersebut adalah dalam rangka memeriahkan hari jadi provinsi dan peringatan HUT Proklamasi. Dengan perayaan tersebut hendaknya meningkatlah rasa cinta kepada tanah air. Andai kata kita tidak merdeka, dengan kata lain masih berada di bawah belenggu penjajah, kita tidak mungkin menikmati kebebasan seperti sekarang, seperti kebebasan berkumpul, kebebasan bermasyarakat, kebebasan beraktivitas, melaksanakan ibadah, dan mengekspresikan kegembiraan dalam bentuk perayaan-perayaan. Banyak aspek kehidupan yang terkekang.

Namun setiap kali merayakan hari jadi provinsi dan peringatan HUT Proklamasi, bagi orang-orang yang mau merenung barang sejenak, pasti akan mengajukan pertanyaan evaluatif dan instrospektif. Apa yang telah dicapai saat ini, apakah itu sudah sesuai harapan? Para pejuang pendiri Provinsi Riau yang kini telah tiada, dengan kesadaran penuh menuntut keadilan dan pemerataan pembangunan. Riau yang kaya sumber daya alam wajar bila menunut pemerataan pembangunan, bukan meminta sesuatu yang berlebihan.

Riau menyimpan sejarah menarik yang selalu dikenang, bahwa wilayah ini dulu menjadi pusat Kesultanan Siak Sri Indrapura (1723 - 1945). Ketika Soekarno-Hatta memproklamasikan Republik Indonesia (RI), Kesultanan Siak Sri Indrapura langsung mengakui lahirnya sebuah negara baru. Sultan Syarif Kasim II (1893-1968), selaku raja terakhir, secara ikhlas menyerahkan seluruh wilayah kedaulatannya. Kekuasaan Kesultanan Siak Sri Indrapura sangat luas. Wilayahnya mencakup pesisir timur Sumatra, pesisir barat Kalimantan, Semenanjung Melaka, hingga ke Deli Serdang, Sumatra Utara.

Selain hak penguasaan tanah, semua harta kekayaan dan properti yang dimilikinya diberikan untuk perjuangan kemerdekaan RI. Termasuk kompleks Istana Asherayah Al-Hasyimiyah di pusat kota Siak Sri Indrapura juga dihibahkan sebagai bentuk dukungan atas kemerdekaan Indonesia. Tidak hanya itu, uang kas kesultanan sebesar 13 juta gulden juga diberikan kepada duo proklamator Indonesia. Dengan penghitungan kurs pada 2011, uang 13 juta gulden itu setara dengan 69 juta euro atau sekitar Rp 1,074 triliun. Salah satu bukti warisan tanah yang diberikan kepada negara adalah lahan yang sekarang menjadi Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II di Pekanbaru.

Sultan (meninggal di Pekanbaru pada 23 April 1968) rela mendedikasikan secara totalitas hidupnya untuk membantu perjuangan, sebab dalam pemahamannya berdirinya RI adalah sebuah keniscayaan yang dinantikan. Setelah ratusan tahun dijajah bangsa Eropa, berdirinya sebuah negara baru lewat proses kemerdekaan merupakan sebuah pilihan paling baik.

Sesaat setelah Proklamasi, ditemani Teuku Muhammad Hasan (gubernur Sumatra pertama), Sultan Syarif Kasim II menyerahkan mahkota kerajaan kepada Soekarno di Istana Negara pada 1945. Dengan berpakaian kesultanan lengkap, penyerahan mahkota tersebut dianggap sebagai simbol bergabungnya seluruh wilayah Kesultanan Siak untuk melebur menjadi bagian RI. Penyerahan mahkota dan seluruh asset Kesultanan Siak adalah wujud dari sebuah nasionalisme tanpa reserve.

Dari fakta sejarah itu, tak ada keraguan terhadap paham nasionalisme di Riau; meragukannya sama saja meragukan bumi itu berputar. Kuatnya tuntutan berbagai komponen masyarakat dewasa ini, terutama pemuda, mahasiswa dan lembaga adat serta berbagai kalangan untuk meminta keadilan pemerintah pusat sesungguhnya mereupakan bentuk komitmen nasionalisme, bahwa Riau sama dengan daerah lain, layak mendapatkan perhatian secara wajar; bahwa Riau bukan anak tiri. Kekecewaan itu tak perlu dipandang sebagai bentuk lain. Justru pusat sebagai bapak harus berlaku adil kepada anak-anaknya.

Bahwa sekarang kita mengamati memudarnya nasionalisme secara umum, kecenderungan itu terjadi di mana-mana, di seluruh nusantara, tak terkecuali di tanah Jawa sekali pun. Indikasinya terlihat dengan jelas antara lain dari menguatnya individualisme, materialisme, fanatisme kelompok, fanatisme sempit agama dan fanatisme kesukuan. Tak terkecuali juga kalahnya loyalitas terhadap negara dengan loyalitas terhadap jaringan bisnis.

Ada dua kelompok masyarakat yang kurang peduli terhadap nasionalisme. Kelompok pertama adalah kelompok masyarakat miskin dan sangat miskin; kelompok ini kebutuhan dasarnya adalah sandang, pangan, papan dan rasa aman terjaminnya perolehan kebutuhan tersebut. Kelompok kedua adalah kelompok orang kaya. Kedua kelompok ini masing-masing punya alasan yang berbeda. Namun tak perlu khawatir, kelompok menengah masyarakat, jumlahnya jauh lebih besar, tetap punya perhatian terhadap nasionalisme. Dirgahayu RI.

kolom - Koran Riau 16 Agustus 2016
Tulisan ini sudah di baca 340 kali
sejak tanggal 16-08-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat