drh. Chaidir, MM | Indonesia Kerja Nyata | KONON bila dunia ini dibelah empat, maka semua negara terbagi habis dalam empat belahan; belahan petama adalah negara-negara yang sedikit bicara sedikit kerja (sudah pendiam pemalas pula). Alhamdulillah Indonesia tidak termasuk dalam belahan ini. Belahan kedua, adalah negara-negara yang banyak bicar
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Indonesia Kerja Nyata

Oleh : drh.chaidir, MM

KONON bila dunia ini dibelah empat, maka semua negara terbagi habis dalam empat belahan; belahan petama adalah negara-negara yang sedikit bicara sedikit kerja (sudah pendiam pemalas pula). Alhamdulillah Indonesia tidak termasuk dalam belahan ini. Belahan kedua, adalah negara-negara yang banyak bicara ("omdo") sedikit kerja; belahan ketiga, negara-negara yang sedikit bicara banyak kerja (maniak kerja alias "Workaholic"). Indonesia tidak termasuk dalam belahan kedua dan ketiga.

Belahan keempat, adalah negara-negara yang banyak bicara banyak kerja (ini baru jagoan). Termasuk dalam belahan ini adalah Amerika. Aneh, Indonesia juga tidak termasuk dalam belahan ini. Belahan sudah terbagi habis, lalu Indonesia masuk belahan mana? Setelah diteropong kian kemari, Indonesia ternyata masuk dalam belahan, lain yang dibicarakan lain yang dikerjakan.

Jangan terlalu serius, itu banyolan versi stand-up comedy. Orang-orang kita kan suka beda, pantang tak hebat, lain dari yang lain. Humor itu sebenarnya sudah usang, sama usangnya ketika suatu masa dulu, Indonesia disebut bukan termasuk negeri barat liberalis, bukan termasuk negeri sosialis, bukan pula termasuk negeri komunis. Ini bukan itu bukan. Kalau begitu, kita negeri "bukan-bukan". Tapi kita memang beda dengan negeri lain, karena kitalah satu-satunya negeri di dunia yang memiliki Pancasila sebagai dasar negara; lima sila Pancasila merupakan satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Negeri lain hanya menonjol dengan satu atau dua sila saja.

Fenomena yang dengan mudah bisa kita amati, kita piawai dalam menyusun konsep tapi lemah dalam implementasi. Pancasila adalah master-peace pendiri bangsa kita, rumusannya sangat bagus. Kita menyadari bahwa nilai-nilai dasar yang terdapat dalam sila-sila Pancasila itu bukan rumusan yang diimpor dari barat, bukan di diadopsi dari timur atau utara, nilai-nilai itu digali dari nilai-nilai luhur bangsa kita sendiri. Logikanya, dengan memahami dan menghayati Pancasila, pelaksanaannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari tentu mudah. Dan karena nilai-nilai itu adalah "kita", maka dengan Pancasila tak ada kusut yang tak bisa diungkai.

Kenyataannya, tidaklah demikian. Program prioritas Nawacita yang menjadi garis-garis besar cita-cita Jokowi-JK, misalnya, dan disetujui oleh mayoritas bangsa Indonesia, sebenarnya sangat bagus, dan masyarakat memiliki harapan besar terlaksananya Nawacita tersebut secara nyata dalam kehidupan. Ada nuansa yang berbeda yang dirasakan oleh masyarakat dan diharapkan membawa perubahan ke arah yang lebih baik dan lebih cepat.

Nawacita sejatinya turunan dari gagasan besar Trisakti Bung Karno. Ketiga prinsip Trisakti itu, yakni berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan. Pokok-pokoknya, pertama, menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga Negara. Kedua, membuat pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya. Ketiga, membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. Keempat, menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya. Kelima, meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia. Keenam, meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional. Ketujuh, mewujudkan kemandirian ekonomi. Kedelapan, melakukan revolusi karakter bangsa. Kesembilan, memperteguh kebhinnekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia.

Bilamana Nawacita itu dijabarkan secara wajar dan rasional, dan dilaksanakan secara nyata, maka Indonesia berdaulat, berdikari dan berkepribadian dalam bingkai Bhinekka Tunggal Ika tidak hanya mimpi. Tak perlu tema HUT Proklamasi panjang-panjang, sulit dicerna. Singkat saja, mudah dipahami: "Indonesia Kerja Nyata"! Selanjutnya fokus. Jangan lain yang dibicarakan lain yang dikerjakan. Dirgahayu RI semoga maju jaya.

kolom - Riau Pos 15 Agustus 2016
Tulisan ini sudah di baca 415 kali
sejak tanggal 15-08-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat