drh. Chaidir, MM | Memaknai Keberagaman | NOVELIS berdarah Lebanon yang bermukim di Paris, Amin Maalouf menulis, sejarah memberi kita lebih banyak pertanyaan ketimbang jawaban, dan banyak jawaban bagi setiap pertanyaan. Sejarah mewadahi semua yang telah dibangun berpuluh-puluh tahun, ingatan, lambang-lambang pranata, bahasa, karya seni, dan
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Memaknai Keberagaman

Oleh : drh.chaidir, MM

NOVELIS berdarah Lebanon yang bermukim di Paris, Amin Maalouf menulis, sejarah memberi kita lebih banyak pertanyaan ketimbang jawaban, dan banyak jawaban bagi setiap pertanyaan. Sejarah mewadahi semua yang telah dibangun berpuluh-puluh tahun, ingatan, lambang-lambang pranata, bahasa, karya seni, dan hal lain tempat orang bisa terikat secara sah. Semua orang yang berpikir mesti mengakui, bahwa masa depan suatu negeri tidak bisa hanya sekadar menjadi lanjutan sejarahnya. Mengerikan bila sebuah negeri lebih menghormati masa lalunya ketimbang masa depannya.

Lalu, kenapa kita mesti memperingati hari jadi setiap tahun dan merenungi sejarah masa lalu? Tidakkah ada kekhawatiran kita terlalu banyak menghabiskan waktu secara sia-sia untuk melihat kaca spion atau terjebak dalam romantisme kegemilangan masa silam? Pujangga Inggris Thomas Carlyle (1795-1881) agaknya memberi jawaban, "Pelajarilah sejarah agar kita tak tergelincir di hari depan".

Di atas fakta-fakta sejarah, menjadi tugas generasi peneruslah mewujudkan mimpi-mimpi besar dalam sebuah perjuangan. Generasi peneruslah yang harus membuat sejarah untuk dikenang manis dan pahit getirnya kelak di kemudian hari. Penulis Amerika, Robert MacKenzie dalam Nineteenth Century: A History (1880), menulis bahwa tugas generasi peneruslah membuat sejarah baru yang berisi catatan tentang kemajuan, yang lahir dari akumulasi pengetahuan dan kearifan, sebuah kemajuan yang terus menerus dengan kesejahteraan yang lebih tinggi. Pemikiran filsuf ini masih terasa relevan sampai sekarang.

Akumulasi pengetahuan dalam masyarakat yang berbasis ilmu tentu mudah dipahami, tapi kearifan? Benda ini abstrak. Mudah diucapkan tapi tak begitu mudah dipahami. Kearifan adalah pandangan dari ketinggian dari jalur sempit antara dua tubir, dua gagasan ekstrim. Dalam realitasnya, setiap kali kita selalu berhadapan dengan pilihan, ketika kita harus mempertimbangkan baik-buruk, untung-rugi, manfaat-mudarat.

Hari ini memang kelanjutan hari kemarin dan masa lalu, waktu tak pernah terputus sedetik pun. Tapi persoalan hari ini tak bisa diselesaikan dengan logika kemarin. Perubahan sudah terjadi secara massive, terstruktur dan permanen, tak mungkin lagi mengembalikan jarum jam kembali ke masa lalu seperti serial film kartun Dora Emon. Mudah dipahami, kita tidak hidup untuk masa lalu, segemilang apapun masa lalu itu, tapi untuk masa depan walau (mungkin) itu pahit. Sayangnya, negeri ini adalah mesin rumit yang tidak bisa diungkai dengan obeng. Tapi hal itu tidak boleh menghalangi kita untuk terus mengamati, mencoba memahami, berdiskusi, dan kadang mengusulkan suatu bahan renungan.

Dalam suasana peringatan hari jadi Provinsi Riau 9 Agustus ini misalnya, setelah 59 tahun biduk ini kita dayung bersama, sejumlah masalah psiko-sosial (dampak politisasi kehidupan yang berlebihan) dalam masyarakat masih belum ada tanda-tanda menghilang, antara lain misalnya, persepsi terhadap keberagaman (SARA dan isu kedaerahan). Tak bisa dipungkiri ada yang bisa menerima keberagaman ada yang tidak bisa.

Dalam konsteks Riau, kita tidak menyalahkan sesiapa, orang Melayu dari dulu kala selalunya akomodatif terhadap pendatang, sebab kampung-kampung Melayu di tepi-tepi sungai, di tepi-tepi pantai memang tempat persinggahan anak dagang. Tak ada masalah. Pola kehidupan tersebut membentuk karakter, orang-orang Melayu lebih toleran daripada pendatang itu sendiri. Hal ini pun dipahami, sebab secara psikologis, para pendatang harus siap fisik dan mental untuk bekerja keras dan bersaing untuk mempertahankan kehidupannya, orang-orang Melayu tidak. Mereka lebih santai dan tak perlu merasa khawatir karena mereka berada di rumah sendiri, sampai suatu saat terkejut, minyak di perut bumi mereka rupanya sudah habis, dan surga telah berlalu.

Tak ada gunanya menyesali keberagaman permanen masyarakat yang telah terbetuk. Itu keniscayaan dalam sejarah sebuah negeri, dimana pun, cepat atau lambat. Kitalah yang harus memaknai dan menyikapinya dengan kearifan. Tak perlu saling melukai hati. Saling menyapa dengan santun, dan bergandengan tangan, itu lebih baik. Dirgahayu Riau.

kolom - Riau Pos 8 Agustus 2016
Tulisan ini sudah di baca 533 kali
sejak tanggal 08-08-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat