drh. Chaidir, MM | Berebut Panggung Politik | BUKAN panggung politik namanya kalau tidak riuh. Begitulah Riau. Dalam beberapa pekan terakhir ini, panggung politik Riau dihangatkan oleh spekulasi pasca tersiarnya berita pertemuan halal bi halal Lintas Parpol di Pekanbaru. Seperti kita baca melalui media massa, pertemuan lintas parpol ini dihadir
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berebut Panggung Politik

Oleh : drh.chaidir, MM

BUKAN panggung politik namanya kalau tidak riuh. Begitulah Riau. Dalam beberapa pekan terakhir ini, panggung politik Riau dihangatkan oleh spekulasi pasca tersiarnya berita pertemuan halal bi halal Lintas Parpol di Pekanbaru. Seperti kita baca melalui media massa, pertemuan lintas parpol ini dihadiri beberapa partai politik yakni Partai Demokrat, PDIP, Partai Gerindra, PKB, PPP, PKS, Nasdem, dan Hanura.

Sebenarnya pertemuan lintas partai seperti ini biasa-biasa saja, lumrah, apalagi dikemas dalam acara halal bi halal. Tidak ada yang bisa melarang. Bukankah sekarang masih bulan Syawal, saat halal bi halal diadakan dimana-mana? Namun ketika pertemuan itu didahului dengan kegiatan lain, bahwa beberapa pimpinan parpol telah beraudiensi dengan Setya Novanto Ketua Umum DPP Partai Golkar di Jakarta, dengan substansi pembicaraan antara lain perihal pengisian jabatan Wakil Gubernur Riau dan Ketua DPRD Provinsi Riau yang sudah lama lowong, maka ceritanya menjadi lebih menarik.

Apalagi kemudian dalam pertemuan lintas parpol tersebut pembicaraan meluas menyentuh beberapa hal tentang kondisi daerah yang dianggap aktual seperti rendahnya daya serap anggaran disebabkan karena kurang efektifnya pemerintahan. "Ini semata bentuk tanggungjawab kami partai politik, sekaligus menyamakan persepsi pemikiran untuk membangun Riau lebih baik. Kita bisa lihat sekarang bagaimana jalan pemerintahan tidak normal. Kita punya anggaran yang besar, dana ada tapi tak bisa digunakan. Tingkat pertumbuhan anggaran hanya 2,3 persen, ini sangat riskan dan berpengaruh pada pendapatan daerah," ungkap Achmad Plt Ketua Partai Demokrat Riau sebagaimana dikutip www.goriau.com (24/7).

Pertemuan halal bihalal lintas parpol yang dihadiri perwakilan pimpinan partai dan anggota DPRD Riau tersebut, tidak dihadiri oleh Partai Golkar. Sedangkan PAN tidak bersedia hadir karena lebih memilih posisi sebagai penyeimbang. "Kita penyeimbang, dalam arti kata, kami berada pada posisi dimana kebijakan yang diambil bermanfaat pada masyarakat secara menyeluruh. Kita mengajak semua kalangan untuk menghindari kegaduhan baru. Karena dalam kondisi Riau seperti ini, sangat diperlukan ketenangan, kenyamanan dan stabilitas politik. Jadi persoalan yang ada ini harus disikapi dengan cara proporsional", jelas Irwan Nasir Ketua DPD PAN Riau seperti dikutip www.RiauAir.com (25/7).

Posisi penyeimbang sebagaimana disebut Irwan Nasir, mengingatkan penulis pada posisi Partai Demokrat dalam kancah perpolitikan nasional pasca pileg dan pilpres 2014. Partai Demokrat kehilangan posisi sebagai partai berkuasa (the ruling party) yang mereka raih pada pileg 2009. Dalam posisi sebagai penyeimbang, Partai Demokrat tidak berusaha menempatkan kadernya dalam kabinet, melainkan menempatkan posisi di tengah antara Koalisi Indonesia Hebat (PDIP, PKB, Nasdem dan Hanura) dan Koalisi Merah Putih (Gerindra, Partai Golkar, PAN, PPP, PKS). Partai Demokrat juga menyebut akan mengkritisi kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat dan akan mendukung program yang bagus.

Kini konstelasi politik di tingkat nasional sudah beda, dengan bergabungnya PAN dan Partai Golkar sebagai partai pendukung pemerintah (sudah pula mendapatkan kursi menteri dalam reshuffle cabinet yang baru saja diumumkan), praktis tinggal tiga parpol saja yang berada di luar pemerintah, yakni Gerindra dan PKS (keduanya memosisikan diri sebagai oposisi) serta Partai Demokrat (penyeimbang).

Kita masih harus menunggu dan membaca kemana arahnya forum pertemuan lintas parpol di Riau seperti disebut di awal tulisan ini. Sebab ada beberapa agenda politik yang sekarang sudah mulai bergulir di Riau. Yang sudah di ambang pintu adalah pemilihan Walikota Pekanbaru dan Bupati Kampar dalam pilkada serentak jilid II, yang akan berlangsung 15 Februari 2017. Pada Juni 2018 akan ada pemilihan Gubernur Riau dan Bupati Indragiri Hilir dalam pilkada serentak jilid III.

Saat ini kita hanya bisa meraba-raba, berspekulasi, kemanakah gerangan arah lintas parpol ini. Pilkada serentak menawarkan sejumlah kombinasi pasangan, yang seringkali sulit dibaca. Sebab, jangankan forum pertemuan lintas parpol, koalisi parpol saja yang resmi terbentuk pada tingkat nasional cohesiveness-nya sangat longgar sehingga bila-bila masa koalisi tersebut bisa bercerai berai.

"Runtuhnya" Koalisi Merah Putih adalah sebuah contoh yang paling nyata. Pada awalnya mereka sangat dominan karena posisinya mayoritas dibanding Koalisi Indonesia Hebat, sehingga bisa menyapu semua pimpinan di alat kelengkapan DPR, tapi kini, dengan hanya tinggal Gerindra dan PKS, posisi tawar mereka tak lagi kuat seperti semula.

Kalaulah gambaran koalisi di pemerintah pusat berbanding lurus dengan daerah, maka hanya ada tiga partai yang bukan pendukung pemerintah di DPRD Riau, yakni Partai Demokrat, Gerindra dan PKS, sedang PDIP, PAN, PKB, PPP, Nasdem dan Hanura serta Partai Golkar itu sendiri merupakan partai pemerintah. Tapi di daerah, pola dukung mendukung partai politik tidak berada dalam satu garis linier dengan pusat, dan tidak permanen.

Apapun koalisinya, apapun kombinasinya, kita boleh berebut panggung tapi jangan lupa esensinya, bahwa partai politik itu adalah organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh sekelompok warga negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan citacita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota, masyarakat, bangsa dan negara, serta memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

kolom - Koran Riau 2 Agustus 2016
Tulisan ini sudah di baca 517 kali
sejak tanggal 02-08-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat