drh. Chaidir, MM | Sri Mulyani Si Tempua | GERANGAN apakah jampi-jampi yang dibaca oleh Presiden Jokowi sehingga meluluh lantakkan hati seorang profesional sejati seperti Dr Sri Mulyani Indrawati (SMI) bersedia kembali mudik ke tanah air dan menerima posisi sebagai Menteri Keuangan? Bukankah enam tahun lalu, di era Presiden SBY, tepatnya pad
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Sri Mulyani Si Tempua

Oleh : drh.chaidir, MM

GERANGAN apakah jampi-jampi yang dibaca oleh Presiden Jokowi sehingga meluluh lantakkan hati seorang profesional sejati seperti Dr Sri Mulyani Indrawati (SMI) bersedia kembali mudik ke tanah air dan menerima posisi sebagai Menteri Keuangan? Bukankah enam tahun lalu, di era Presiden SBY, tepatnya pada 2010, SMI pernah mundur terhormat dari posisi tersebut?

Pertanyaan berikut tak kalah menggoda jiwa. Bukankah jabatan sebagai Managing Director Bank Dunia di Washington, ibukota Amerika Serikat yang ditinggalkannya adalah sebuah jabatan sangat prestisius alias bergengsi, yang tidak semua ekonom profesional kelas atas dunia bisa mendapatkannya? Sebagai orang kedua setelah Jim Yong Kim, presiden Bank Dunia, SMI dalam setahun menerima pendapatan bersih USD 630.175 yang jika dirupiahkan sekitar Rp 8.192.275.000,- Angka itu merujuk pada laporan terakhir Bank Dunia tentang gaji eksekutifnya yang berlaku mulai 1 Juli 2015 hingga 30 Juni 2016, sebagaimana dimuat berbagai media. Per bulan SMI digaji bersih sekitar Rp 700.000.000,- Gaji tersebut resmi, halal bin halal.

SMI membuat penasaran. Dan rasa penasaran itu mendorong saya membuka kembali lembaran-lembaran Riau Pos seputar SMI. Bola liar mega kasus Bank Century menyebut-nyebut nama Wapres Boediono dan Menkeu SMI. Bahkan Prof Amien Rais mendesak kedua tokoh itu agar mundur dari jabatannya. Saling tuding antara Sri Mulyani dengan Aburizal Bakrie pun menjadi tontotan seru (kolom, Riau Pos 14 Desember 2009).

SMI dituduh neolib, tapi dia bersikap tegas dalam kasus lumpur Lapindo dan mafia perpajakan. SMI tidak kenal kompromi dalam penyelamatan uang negara yang menjadi tanggungjawabnya. Akhirnya, dia memilih mundur dari rimba belantara politik yang kelihatannya bukan habitatnya sebagai seorang profesional. Maka, tak berlebihan bila Dahlan Iskan menulis, "Hati kecil saya untuk Sri Mulyani." (kolom, Riau Pos 27 Februari 2012)

Minggu pertama Mei 2014, tiga saksi kunci tampil memberi keterangan dalam sidang Tipikor terhadap mantan Deputi Senior Bank Indonesia, Budi Mulya. Tiga pendekar ekonomi yang menjadi saksi tersebut adalah SMI, Jusuf Kalla mantan Wakil Presiden, dan Pof Boediono Wakil Presiden RI yang sedang menjabat. Kesaksian ketiga tokoh tersebut tentu saja memiliki daya tarik yang luar biasa. Kasus Bank Century mendadak sontak kembali menjadi isu aktual, setelah sekian lama beritanya hanya muncul sporadis.

DPR meminta KPK mengusut sejumlah pejabat yang dianggap bertanggung jawab dalam kasus Bank Century, karena dianggap salah dalam pengucuran dana talangan. Oleh karenanya perlu dilakukan penyelidikan pidana terhadap Boediono dan SMI (kolom, Riau Pos 12 Mei 2014). Secara umum lembaran-lembaran tersebut kurang menggembirakan, tapi SMI pernah dinobatkan sebagai Menteri Keuangan terbaik Asia untuk tahun 2006 oleh Emerging Markets di sela Sidang Tahunan Bank Dunia dan IMF di Singapura.

Kini, SMI turun gunung dan mendapat tepuk tangan meriah. Presiden Jokowi dianggap mengambil keputusan tepat. Buktinya pasar industri keuangan merespon dengan positif. SMI membawa ekspektasi terhadap suksesnya program amnesty pajak dan perbaikan perekonomian secara umum.

Sesederhana itukah? Atau tersebab rasa cinta tanah air? Hujan emas di negeri orang hujan batu di negeri sendiri, baik juga di negeri sendiri, begitukah? Atau barangkali SMI ingin membersihkan nama baik. Kalau bukan karena "3C" (good competency, best character dan great commitment) tak mungkin SMI eksis di panggung dunia.

SMI itu agaknya ibarat burung tempua, pintar dan hati-hati dalam membuat sarang. Kalau tak ada berada tak kan tempua bersarang rendah. Adakah agenda tersembunyi 2019 bersama Presiden Jokowi? Kita tunggu dan kita lihat sajalah. Sekarang masih samar-samar.

kolom - Riau Pos 1 Agustus 2016
Tulisan ini sudah di baca 908 kali
sejak tanggal 01-08-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat