drh. Chaidir, MM | Seksinya Panggung Politik | Panggung politik kita berkembang sangat atraktif, bahkan terlihat seksi. Sarat muatan, multi dimensi dan banyak opsi masalah yang menarik untuk kajian-kajian akademis baik di bidang ilmu politik maupun psikologi sosial.

Kita hanya perlu menjaga agar mata rantai dan ritme pertunjukan panggung poli
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Seksinya Panggung Politik

Oleh : drh.chaidir, MM

Panggung politik kita berkembang sangat atraktif, bahkan terlihat seksi. Sarat muatan, multi dimensi dan banyak opsi masalah yang menarik untuk kajian-kajian akademis baik di bidang ilmu politik maupun psikologi sosial.

Kita hanya perlu menjaga agar mata rantai dan ritme pertunjukan panggung politik itu mencapai klimaks pada saat yang tepat, tidak kepagian, tidak pula kesiangan. Dengan demikian diharapkan penonton akan memperoleh kepuasan, pulang ke rumah dengan pikiran fresh, esok hari memulai pekerjaan yang sesungguhnya dengan semangat baru.

Pemilu kita kali ini memang lebih hebat daya pikatnya. Persaingan partai politik berebut suara rakyat lebih mendemamkan. Ada dua faktor penyebab. Pertama, karena caleg pemenang pemilu legislatif ditentukan melalui suara terbanyak; kedua, karena perolehan suara parpol akan menentukan calon presiden. Maka, ketika tabir peta kekuatan politik mulai tersingkap pelan, lobi-lobi politik para elit parpol di Jakarta terlihat mulai menjadi-jadi. Baku sapa, baku dapa, baku peluk, baku senyum, baku cium, terlihat dimana-mana. Maksudnya tak lain, peluklah daku, kita bangun koalisi.

Beberapa kali pemilu sebelum era reformasi, pemenang pemilu selalu direbut oleh kontestan yang itu itu juga. Terkesan monoton. Namun sekarang beda, tiga kali pemilu di era pasca reformasi, tiga partai politik berbeda tampil sebagai pemenang. Opo ora hebat? Pada pemilu 1999, PDIP juara dengan perolehan suara 33,7%. Golkar rangking kedua (22,4%) dan PKB rangking ketiga (12,6%). Pada pemilu 2004, Partai Golkar pula tampil sebagai pemuncak dengan perolehan suara 21,6%, PDIP turun ke rangking kedua (18,5%) dan PKB tetap rangking ketiga (10,6%).

Pada pemilu 2009 ini, Partai Demokrat melejit. Kemenangan sudah hampir pasti dalam genggaman parpol yang didirikan oleh Presiden SBY ini. Sesungguhnya ini agak mengejutkan. Kendati sudah diprediksi Partai Demokrat akan meningkat, tapi banyak kalangan tidak yakin mereka akan mampu mengalahkan Partai Golkar dan PDIP demikian cepat. Sebab, Partai Demokrat - bila diibaratkan liga sepakbola profesional di Inggris - pada pemilu 2004, tidak berada dalam zona champion tiga besar sebagaimana layaknya Manchester United, Chelsea dan Liverpool. Bahkan pada pemilu 1999 jabang bayinya pun belum lahir. Tapi rakyat sudah menjatuhkan pilihan. Hasil sementara perhitungan quickcount, Partai Demokrat telah memperoleh suara 21% lebih, cukup jauh di atas PDIP dan Partai Golkar yang bersaing ketat pada posisi kedua dengan perolehan suara sekitar14%. Waktu tak bisa lagi diputar mundur. Gelombang besar semangat perubahan yang melanda dunia singgah juga akhirnya.

Pemilu 2009 menyertakan catatan menarik. Ke depan kehidupan politik kita akan kembali ke lintasan normal, partai terbesar akan menguasai eksekutif dan legislatif. Adalah sangat wajar bila presiden berasal dari parpol pemenang pemilu. Sebuah keniscayaan agar program pembangunan yang dijanjikan berjalan dengan baik. Parpol pemenang pasti ingin berbuat yang terbaik untuk rakyat. Setelah lima tahun kelak, biar rakyat menilai, bila puas beri lagi kesempatan, bila tak puas pilih pengganti yang lebih baik. Parpol-lah kini yang harus introspeksi, melakukan evaluasi internal apa sesungguhnya yang dibutuhkan rakyat. Pakai mantra rumah makan Padang sajalah, bila puas beritahu teman, bila tak puas beritahu kami. Dijamin ampuh.


kolom - Riau Pos 13 April 2009
Tulisan ini sudah di baca 1479 kali
sejak tanggal 13-04-2009

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat