drh. Chaidir, MM | Menanti Gebrakan Kepala Daerah | MENANG dalam pilkada tentulah menjadi sensasi yang luar biasa. Pemenang dan tim sukses biasanya menggelar acara syukuran berhari-hari di seluruh pelosok negeri. Tak salah, pemenang memang patut bersyukur karena telah berhasil melalui perjuangan berat yang menguras pikiran, tenaga, mengorbankan waktu
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Menanti Gebrakan Kepala Daerah

Oleh : drh.chaidir, MM

MENANG dalam pilkada tentulah menjadi sensasi yang luar biasa. Pemenang dan tim sukses biasanya menggelar acara syukuran berhari-hari di seluruh pelosok negeri. Tak salah, pemenang memang patut bersyukur karena telah berhasil melalui perjuangan berat yang menguras pikiran, tenaga, mengorbankan waktu untuk keluarga, dan juga materi. Semua tentu dapat dipahami. Ungkapan-ungkapan indah pun berhamburan menghias bibir, "kemenangan ini adalah kemenangan rakyat", "mari kita bersatu membangun negeri", "ayo kita lupakan perbedaan mari bersama bergandengan tangan", "daerah ini milik kita bersama", dan sebagainya dan sebagainya.

Sesungguhnya, memenangkan pilkada adalah satu bagian, mengisi kemenangan dengan program-program yang bernas adalah bagian lain yang jauh lebih berat dan penting. Sebab secara esensial pilkada bukan hanya sekedar memilih pemimpin, tapi lebih dari itu. Pilkada adalah memilih seorang pemimpin yang diharapkan mampu mewujudkan impian masyarakat secara lebih cepat untuk hidup lebih sejahtera dalam segala aspek, sosial dan ekonomi, menghadirkan keadilan, pemerataan dan rasa aman tenteram.

Umum dipahami, sukses atau tidaknya pembangunan di suatu daerah ditentukan oleh kepemimpinan kepala daerahnya. Sebab, kepala daerah adalah orang nomor satu dalam manajemen pemerintahan yang mempunyai tugas pokok secara manajerial mengendalikan seluruh fungsi manajemen pemerintahan di daerahnya (mengacu Hendry Fayol, ada fungsi Planning, Organizing, Comamanding, Coordinating dan Controllling); termasuk menggerakkan dan menggunakan seluruh seluruh sumber daya pembangunan secara efektif dan efisien seperti PNS dan ASN dalam jajaran birokrasi, anggaran, peralatan dan perlengkapan, juga standar operasi prosedur.

Oleh karena itu, umum juga diketahui, ada daerah yang beruntung mendapatkan kepala daerah dengan kepemimpinan yang kuat (strong leadership), ada pula daerah yang kurang beruntung karena terbeli kucing dalam karung. Misanya, pemilih terbuai karena popularitas figur, kekuatan finansial, kedudukan di partai, atau dukungan keluarga atau tokoh, tapi sesungguhnya sang calon tidak memiliki kapasitas yang memadai untuk menjadi seorang kepala daerah.

Idealnya, seorang kepala daerah terpilih harus mampu membaca, memedomani dan menerjemahkan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Daerah ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Daerah. Visi dan Misi seorang calon kepala daerah yang disosialisasikan selama masa kampanye harus dituangkan sedemikian rupa dalam suatu sinkronisasi menjadi RPJM. RPJM Daerah ini harus diperjuangkan oleh seorang kepala daerah yang baru dilantik dalam tempo paling lambat enam bulan setelah dilantik.

RPJM menjadi acuan bagi penyusunan Rencana Kerja Daerah (RKD) setiap tahun yang selanjutnya dijabarkan dalam Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Prioritas Plafon Anggaran Semenetara (PPAS) yang selanjutnya bermuara pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Keseluruhan penyusunan dokumen perencanaan tersebut (RPJP, RPJM, RKD, KUA, PPAS, dan APBD) dibahas oleh kepala daerah bersama DPRD.

Tidak ada alasan seorang calon kepala daerah tidak mengetahui RPJP suatu daerah karena RPJP ini adalah dokumen publik. Walaupun RPJP sudah ada, kepala daerah yang baru terpilih tetap memiliki peluang untuk melakukan terobosan atau gebrakan dengan menuangkan gagasan-gagasan atau janji-janji kampanyenya dalam RPJM, RKD, KUA, PPAS dan APBD. Artinya, terbuka peluang bagi kepala daerah yang baru terpilih untuk memberi arah dan menetapkan kebijakan secara lebih tepat dan lebih tajam guna mewujudkan impian masyarakat tentang kesejahteraan yang didambakan. Seorang kepala daerah memiliki hak prerogative untuk membuat diskresi (kebijakan), sepanjang diperlukan dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, DPRD sebagai mitra sejajar harus menghormatinya.

Gebrakan itulah yang dinanti oleh masyarakat, gebrakan yang berisi gagasan-gagasan segar untuk mengisi pembangunan mewujudkan RPJP suatu daerah. Tapi bukan gebrakan liar asal beda. Kepala daerah yang baru terpilih (siapa pun) memang wajib melakukan pembaharuan, perubahan, percepatan, pelurusan, atau koreksi terhadap program-progam yang sudah ada, disebut atau tidak disebut dalam janji kampanye.

Memang, tak pula ada kewajiban bagi seorang kepala daerah yang baru terpilih untuk melakukan gebrakan; kepala daerah yang baru bisa saja memilih mengikuti secara normative dan melaksanakan dokumen perencanaan yang sudah ada sebelumnya, untuk menjaga zona nyaman (comfort zone). Atau hanya sekadar melakukan kegiatan-kegiatan seremonial, operasi pasar, bagi-bagi sembako, memberi bantuan sosial, mengganti pakaian seragam PNS, mengganti hari senam, atau kegiatan populis lainnya untuk pencitraan. Tapi rasa-rasanya, kepala daerah seperti ini termasuk kepala daerah seadanya (business as usual), tak memiliki kebanggaan, tak akan memperoleh respek dari bawahan, dan akan segera dilupakan sejarah bila sudah tak lagi menjabat.

Perubahan cepat yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, tidak dapat tidak menuntut peran maksimal dari seorang kepala daerah. Seorang kepala daerah harus mampu berpikir out of the box (berpikir di luar tempurung), melakukan terobosan-terobosan tak biasa, kreatif dan inovatif. Gebrakan-gebrakan inovatif inilah yang dinanti oleh masyarakat, supaya sang kepala daerah tidak disebut setali tiga uang dengan pedahulunya. Siapa mengukir sejarah akan dikenang sejarah.

kolom - Koran Riau 19 Juli 2016
Tulisan ini sudah di baca 535 kali
sejak tanggal 19-07-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat