drh. Chaidir, MM | Pesan dari Pemandang | OLEH-OLEH mudik dibuang sayang dari Desa Pemandang mungkin tak berarti. Siapa yang kenal Desa Pemandang? Sebuah desa antah berantah yang sudah hampir dilupakan sejarah, tersuruk nun di sana di kaki Bukit Barisan. Tepatnya, di barat laut Provinsi Riau, termasuk dalam wilayah Kecamatan Rokan IV Koto,
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Pesan dari Pemandang

Oleh : drh.chaidir, MM

OLEH-OLEH mudik dibuang sayang dari Desa Pemandang mungkin tak berarti. Siapa yang kenal Desa Pemandang? Sebuah desa antah berantah yang sudah hampir dilupakan sejarah, tersuruk nun di sana di kaki Bukit Barisan. Tepatnya, di barat laut Provinsi Riau, termasuk dalam wilayah Kecamatan Rokan IV Koto, Kabupaten Rokan Hulu, bagian yang berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Barat.

Tradisi yang sudah terbangun sejak lama, setiap lebaran Idul Fitri, para pemuda di setiap desa pada umumnya, selalu merayakannya dengan berbagai kegiatan kreatif disesuaikan dengan kondisi alam dan budaya asli masyarakat setempat, seperti pertandingan olahraga antar RT (yang serius sampai lucu-lucuan), panjat pinang, lomba pacu goni, meriam bambu, lomba perahu tradisional, menembak sasaran di seberang sungai, permainan gasing, perlombaan anak-anak, dan berbagai permainan tradisional lainnya. Intinya, mempererat hubungan silaturrahim di tengah masyarakat dan harus meriah.

Di Desa Pemandang, di samping beberapa perlombaan tradisional, pemuda setempat tahun ini membuat inisiatif menyelenggarakan lomba cerdas cermat beregu antar murid SD, materinya adalah pengetahuan umum dan muatan lokal. Maka pertanyaannya pun bervariasi termasuk beberapa kosa kata bahasa lokal yang sudah jarang digunakan termasuk beberapa jenis makanan tradisiona, dan mendapat tepuk tangan meriah dari penonton yang merasa terhibur.

Sebenarnya, lomba cerdas cermat hari raya pemuda yang dikemas menghibur tapi mendidik, mungkin biasa-biasa saja, kendati rasanya tidak banyak pemuda desa di daerah lain yang berprakarsa seperti itu. Yang mengganggu pikiran saya ketika terbawa arus balik mudik, Ahad (17/7) semalam, adalah hasil cerdas cermat tersebut. Betapa tidak. Dari 12 regu murid pilihan (masing-masing regu tiga orang murid) dan berani ikut berlomba, pemenang Juara I dan II semuanya murid perempuan, satu dari regu Juara III juga perempuan.

Tentu, secara statistik, angka tersebut tak mewakili apa-apa. Tapi ada beberapa fakta menarik. Hampir bersamaan dengan lomba cerdas cermat SD di Desa Pemandang, politisi perempuan Partai Konservatif, Theresa May terpilih menjadi Perdana Menteri Inggris. Di Amerika Serikat tokoh perempuan Hillary Clinton sedang berjuang untuk menjadi perempuan pertama sebagai Presiden AS. Di Eropa, siapa tak kenal dengan Angela Merkel, Kanselir Jerman, tokoh perempuan yang berpengaruh akhir-akhir ini semenjak Inggris menyatakan keluar dari Uni Eropa? Politisi perempuan Park Geun-Hye pula, kokoh sebagai Presiden Korea Selatan. Di awal abad 21 ini beberapa tokoh perempuan menjadi orang nomor satu di Brazil, Denmark, Australia, Swiss, Bangladesh, Thailand, dan sebagainya, tak terkecuali juga Indonesia.

Futurolog John Naisbitt dan Patricia Aburdene pernah menulis dalam bukunya Megatrends 2000, bahwa abad 21 adalah abadnya kaum perempuan. Tidak pasti disebutkan mengapa dikatakan abadnya kaum perempuan, kecuali mereka membeberkan sejumlah fakta yang berkenaan dengan kemajuan kaum perempuan, terutama di Amerika dan Asia.

Perempuan tidak lebih murni atau tahan godaan keserakahan dibandingkan laki-laki, menurut berbagai riset. Namun perempuan biasanya naik menjadi pemimpin dalam sistem yang terbuka dan demokratis, sehingga masyarakat dalam sistem semacam itu lebih tidak toleran terhadap kesalahan, termasuk penyalahgunaan kekuasaan dan penggunaan uang publik.

Perempuan lebih memprioritaskan kesejahteraan anak-anak dan apakah mereka memiliki cukup makanan untuk memberi makan keluarga, sementara laki-laki kurang sensitif terhadap kebutuhan publik dan cenderung melayani kepentingan sendiri, ujar Sri Mulyani, mantan Menteri Keuangan kita yang sekarang berkibar di Bank Dunia.

Fakta menarik, tiga dari empat orang Anggota DPD-RI asal Riau 2014-2019 adalah perempuan; fakta lain tiga dari enam orang anggota DPRD Riau untuk daerah pemilihan Rokan Hulu juga perempuan (50%). Jadi, setuju atau tidak, Pemandang agaknya telah mengirim pesan: waspadalah MasBro.

kolom - Riau Pos 18 Juli 2016
Tulisan ini sudah di baca 498 kali
sejak tanggal 18-07-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat