drh. Chaidir, MM | Jalur Neraka | PERIBAHASA Melayu
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Jalur Neraka

Oleh : drh.chaidir, MM

PERIBAHASA Melayu "Sesal dahulu pendapatan sesal kemudian tak berguna" bermakna, fikirkan masak-masak, sebelum berbuat sesuatu supaya jangan menyesal kemudian. Orang Inggris dan sebagian orang Indonesia, sadar atau tidak, kini harus mengakui nasihat itu. Dari beberapa sumber, pendukung Brexit di Inggris menyesal mendukung Inggris keluar dari Uni Eropa. Hasil referendum tak lagi bisa dibatalkan. Konsekuensi Brexit merugikan Inggris. Apa daya nasi sudah jadi bubur, sesal kemudian tak berguna.

Brexit lain terjadi di Indonesia. Keluarkah Indonesia dari Masyarakat Ekonomi Asean? Tidak. Istilah itu diberikan oleh wartawan Inggris Richard Shears dari MailOnline (7/7) untuk tragedi kemacetan hebat mudik lebaran selama berjam-jam yang terjadi di jalan tol menuju Brebes Timur, yang merenggut belasan korban jiwa."Is this the wold's worst traffic jam? Fifteen people die after getting caugh in gridlock at Indonesia junction... named Brexit", tulis Richard Shears.

Brebes Exit (Brexit) begitu wartawan itu menyebut, barangkali untuk memberi sensasi dunia terhadap kemacetan hebat di jalur neraka tersebut. Versi dalam negeri menyebut 13 orang dilaporkan meninggal dunia imbas kemacetan di Brebes Exit atau pintu tol Brebes di Jawa Tengah dalam durasi waktu tiga hari, 3-5 Juli 2016. Jatuhnya korban jiwa yang bertepatan dengan momen mudik lebaran ini memang mendapat perhatian dari dunia luar. Keluarga korban pasti menyesal seumur hidup; keputusannya untuk mudik lebaran menyebabkan mereka kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Sesal kemudian tak berguna.

Sebagai umat beragama, kita meyakini hidup mati adalah takdir. Tempat dan tanggal kelahiran semua tercatat rapi dalam KTP atau akte kelahiran, tapi tanggal dan tempat kematian tak pernah dicantumkan, sebab peristiwa itu rahasia ilahi. Sejatinya, di atas sana sudah tertulis, kapan, dimana dan dengan cara apa seseorang akan mati, namun tak seorang pun mengetahui sampai semuanya terjadi demikian saja, tanpa disangka; ibaratnya, kelapa jatuh mumbang pun jatuh. Artinya, secara logika orang tua-tua akan mati duluan, tetapi adakalanya logika itu terbalik-balik.

Tapi, sepenuhnya menyerah kepada takdir, berarti kita mengabaikan kapasitas lain yang diberikan oleh Yang Mahakuasa kepada kita manusia, yakni berpikir dan menggunakan akal budi. Bila kita telah berpikir masak-masak, menyusun opsi-opsi plan A, plan B atau plan C, dan kemudian memilih yang paling aman atau terkecil risikonya, ternyata dalam pelaksanaannya di luar prediksi, nasiblah yang berbicara.

Tradisi mudik lebaran setiap tahun selalu penuh tantangan dan risiko serta selalu menimbulkan korban jiwa. Dari catatan yang dipublish oleh instansi pemerintah, arus mudik tahun 2015 tercatat 3.048 kecelakaan kendaraan bermotor yang merenggut 646 korban jiwa. Angka ini lebih rendah dari kejadian tahun 2014 dengan kecelakaan 3.337 (korban jiwa 722 meninggal dunia), dan kejadian tahun 2013 dengan 3.171 kecelakaan (723 meninggal dunia).

Kecelakaan memang bukan satu-satunya ancaman bagi pemudik. Kekambuhan penyakit kronis (paru-paru, jantung, gula dan sebagainya) kerap terjadi pada saat kondisi pemudik letih, stress, sehingga daya tahan tubuh menurun, apalagi kemudian terjadi kemacetan hebat selama berjam-jam di tengah terik matahari. Gas beracun karbon monoksida (CO) dan karbon dioksida (CO2) kapan saja siap mengancam nyawa pemudik.

Tradisi mudik setiap tahun menimbulkan tragedi. Anehnya tidak menyurutkan nyali. Ada motif mudik yang luar biasa yang mengalahkan logika akal sehat. Ada daya dorong yang sangat kuat untuk kumpul dengan sanak saudara handai taulan di kampung halaman. Namun hipotesis ini agaknya perlu dibuktikan melalui kajian akademik oleh para ahli. Perilaku unik tersebut menjadi sebuah fenomena yang perlu dikenali secara lebih mendalam.

Selama belum ada kajian, pemerintah perlu melakukan langkah pragmatis dengan mendata pemudik setiap tahun sehingga bisa menyediakan angkutan umum (moda transportasi), udara, laut, darat (bus dan kereta api) secara lebih manusiawi.

kolom - Riau Pos 11 Juli 2016
Tulisan ini sudah di baca 700 kali
sejak tanggal 11-07-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat