drh. Chaidir, MM | Virus Brexit | KETIKA Timnas sepakbola Inggris
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Virus Brexit

Oleh : drh.chaidir, MM

KETIKA Timnas sepakbola Inggris "Tiga Singa" bersiap-siap menghadapi laga hidup-mati versus Islandia dalam babak sistem gugur 16 besar Piala Eropa di stadion Nice, Prancis, berita mengejutkan datang dari 'pertandingan' lain di London. Dalam sebuah derby Britania Raya, untuk cabang isu "Brexit", tim "Exit" yang bertanding satu lawan satu vs tim "Remain", menang angka 52% lawan 48%.

Kemenangan itu menggegerkan dunia, bahkan untuk sementara waktu (entah sampai kapan) membuat Inggris babak belur. Sampai peluit panjang Inggris vs Islandia berbunyi besok Selasa subuh (28/6), kita tidak tahu apakah hasil "Exit" vs "Remain" tersebut memengaruhi timnas Inggris atau tidak. Bila Inggris kalah, isu "Brexit" agaknya akan jadi kambing hitam; bila menang, akan jadi sitawar sidingin untuk melupakan sejenak sakit "Brexit".

Memang terlalu dini menyebut "Brexit" adalah sebuah blunder terbesar Inggris, tapi "Brexit" yang hasilnya memenangkan pilihan "Exit" (keluar) telah membuat sekutunya dalam Uni Eropa marah. "Brexit" adalah singkatan dari British Exit. Sebuah referendum yang diselenggarakan oleh Inggris. Alasannya, Inggris merasa lebih banyak dirugikan, dan lebih banyak terkekang berada dalam Uni Eropa; Inggris merasa keadaannya akan lebih baik dan lebih nyaman bila keluar dari Uni Eropa yang beranggotakan 28 negara di Eropa itu.

Namun untuk cabut dari keanggotaan Uni Eropa, Inggris harus menanyakan secara langsung kehendak rakyatnya terlebih dulu. Maka setelah melalui perdebatan panjang di parlemen, diadakanlah referendum. Pilihannya hanya ada dua: tetap (remain) menjadi anggota Uni Eropa atau keluar (exit) dari Uni Eropa. Hasilnya, opsi "Exit" menang, artinya rakyat Inggris memilih keluar dari Uni Eropa. Maka, Inggris dan Eropa, serta hubungan keduanya akan memasuki sejarah baru. Liga primer Inggris pun konon disebut-sebut akan merasakan dampak negatif keluarnya Inggris dari Uni Eropa.

Perdana Menteri Inggris David Cameron secara jantan langsung mengundurkan diri dari jabatannya. David Cameron adalah pendukung opsi "Remain" (tetap bergabung) dalam Uni Eropa; dia aktif berkampanye meyakinkan rakyat Inggris agar tetap bergabung dalam Uni Eropa, jangan keluar, sebab Brexit akan berdampak buruk pada perekonomian Inggris. Tapi rakyat Inggris memilih keluar.

Hasil referendum tersebut menjadi sebuah antitesis terhadap paradigma blok perdagangan yang selama ini menjadi trend perdagangan di era globalisasi. Konsep blok perdagangan dianggap sebagai model solusi dalam menghadapi kompetisi yang semakin tajam dan menghadapi berbagai hambatan proteksi yang berlebihan. Kita mengenal beberapa entitas blok perdangan, seperti Asean Free Trade Area (AFTA), North America Trade Agreement (AFTA), Asia Pasific Economic Corporation (APEC), ASEAN-Cina Free Trade Area (ACFTA), European Economic Community (EEC) yang kemudian menjadi Uni Eropa, tak terkecuali Masyarakat Ekonomi Asean yang disingkat MEA.

Kekuatan seperti Amerika Serikat misalnya, tak mungkin dilawan berkompetisi secara sendiri-sendiri oleh negara-negara di Eropa, kecuali mereka bersatu. Amatilah sekarang, pasca Brexit, dolar Amerika langsung menguat terhadap poundsterling dan Euro. Perdagangan dunia langsung bereaksi sangat negatif. Inggris pun langsung terguncang dan berada di jurang kelesuan ekonomi. Virus Brexit tidak hanya menggerogoti ekonomi Inggris, virus itu kini mulai menjalar ke partai-partai oposisi di Prancis dan di Belanda. Mereka menyebutnya Frexit (France Exit) di Prancis dan Nexit (Netherlands Exit) di Belanda. Gawat.

Di Iggris sendiri, beberapa pentolan oposisi pendukung Brexit konon mulai ketakutan terhadap dampak Brexit. Pemberi suara yang semula dengan nasionalisme buta tanpa pikir panjang mendukung Brexit, mulai penunjukkan penyesalan. Tapi apa daya, nasi sudah jadi bubur. Makanya pandanglah ke timur, Bro, di timur ada kearifan, berpikir itu pelita hati.

kolom - Riau Pos 27 Juni 2016
Tulisan ini sudah di baca 825 kali
sejak tanggal 27-06-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat