drh. Chaidir, MM | Menduga Panggung Petahana | PANGGUNG politik Riau dipastikan mulai heboh pasca lebaran. Seluruh mata politik di Negeri Lancang Kuning ini akan tertuju pada kompetisi pemilu serentak gelombang kedua 2017. Dengan hanya ada dua locus
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Menduga Panggung Petahana

Oleh : drh.chaidir, MM

PANGGUNG politik Riau dipastikan mulai heboh pasca lebaran. Seluruh mata politik di Negeri Lancang Kuning ini akan tertuju pada kompetisi pemilu serentak gelombang kedua 2017. Dengan hanya ada dua locus "pertempuran" pemungutan suara pemilihan kepala daerah, yakni di Kabupaten Kampar dan Kota Pekanbaru, para aktivis parpol dan pemain politik, termasuk tukang olah, penembak di atas kuda, akan bisa lebih berkonsentrasi mengeroyok dua daerah ini.

Beda dengan pilkada serantak 2015; ketika itu Riau mengikutsertakan sembilan daerah kabupaten dan kota, sehingga seluruh pengurus dan fungsionaris parpol dan pemain politik terpecah konsentrasinya. Yang berpikir terlalu ambisius ingin mendapatkan semuanya, justru harus puas gigit jari. Masing-masing parpol memang terpaksa harus bekerja keras berbagi tugas dalam mengerahkan tenaga, pikiran, dan sumber daya partainya.

Pilkada serentak 2017 di Riau terasa khusus, sebab panggung yang diperebutkan hanya ada dua, dan kedua-duanya dikuasai oleh sebuah parpol, yakni Partai Demokrat. Jefry Noor yang terpilih sebagai Bupati Kampar dan Firdaus yang terpilih sebagai Walikota Pekanbaru pada 2011, kedua-duanya adalah kader Partai Demokrat dan diusung oleh Partai Demokrat. Namun dalam Pemilu legislative 2014, kedua kepala daerah ini tidak berhasil menjadikan partainya sebagai pemenang pemilu legislative di daerahnya masing-masing.

Di Kabupaten Kampar, Partai Golkar justru berhasil mempertahankan kemenangannya dalam pileg 2009 sehingga tetap mendapatkan kursi Ketua DPRD Kabupaten Kampar. Di Kota Pekanbaru Partai Demokrat gagal mempertahankan kemenangan yang diperoleh dalam pileg 2009, sehingga harus menyerahkan kursi Ketua DPRD kepada Partai Golkar. Sebetulnya tak masalah bila orang nomor satu di eksekutif beda partai dengan orang nomor satu di DPRD. Hal seperti itu lumrah saja terjadi.

Dalam sistem pilkada langsung, dalam banyak kasus, dukungan besar parpol terhadap seorang calon kepala daerah, tidak signifikan terhadap terpilih atau tidaknya seorang calon. Dengan kata lain calon yang diusung oleh partai besar atau koalisi besar parpol, belum tentu menang. Sebuah pilkada di suatu daerah dimungkinkan pula dimenangkan oleh pasangan calon yang berasal dari jalur independen. Hal inilah yang menyebabkan banyak kepala daerah yang tidak satu perahu dengan ketua DPRD.

Dalam pilkada serentak 2017 di Pekanbaru, Partai Demokrat tentu ingin mempertahankan posisinya sebagai pemenang. Tidak ada satu partai politik pun yang menginginkan jago yang diusungnya kalah. Namun secara umum dipahami, sulit merebut kemenangan, lebih sulit lagi mempertahankan kemenangan. Sebab bagi pemenang, mereka berada di panggung sebagai bintang panggung atau ibarat pertandingan sepakbola, mereka berada di lapangan.

Dengan demikian sekecil apapun kesalahan yang mereka lakukan, mudah dilihat dan dianalisis penonton. Dan penonton bebas menyampaikan kritik, berteriak atau bahkan mencaci sesuka hati. Dan jangan lupa, penonton selalu merasa lebih pintar. Karena itulah ada ungkapan, "Seberat-berat mata memandag lebih berat lagi bahu memikul". Padahal bila penonton diberi kesempatan tampil sebagai pemain, mereka belum tentu bisa tampil sebaik pemain sebelumnya yang di kritik. Tapi begitulah adatnya, rela tak rela.

Apalagi di era keterbukaan dan di tengah masyarakat yang sangat kritis seperti sekarang. Media pelampiasan kekecewaan masyarakat penonton pun tersedia dalam berbagai bentuk; pilih media sosial atau media konvensional. Ada SMS, BBM, WA, facebook, twitter, path, line, dan sebagainya. Media elektronik dan media cetak pun bebas tanpa sensor. Perdebatan melalui media elektronik seringkali dikemas sedemikian rupa menjadi tontonan yang menarik. Semakin kontroversi isunya semakin heboh beritanya.

Walau sama-sama dikuasai oleh Partai Demokrat, permasalahan yang dihadapi tidak persis sama antara Kampar dan Pekanbaru. Di Kampar, Bupati Jefry Noer tak lagi bisa ikut bertanding karena sudah dua periode, dan publik tahu Jefry Noer sedang mempersiapkan istri dan anak kandungnya untuk bertanding. Sampai saat tulisan ini disusun, belum jelas, siapa diantara dinasti tersebut yang akan maju.

Konon kabarnya, Bupati Jefry sengaja mempersiapkan ceki dua nokang, mana yang lebih tinggi elektabilitasnya nanti, dialah yang akan maju. Untuk merebut perahu Partai Demokrat, sang istri, Eva Yuliana, kelihatannya berada di atas angin, karena yang bersangkutan adalah Ketua DPC Partai Demokrat Kampar. Namun bertanding dengan tokoh kawakan seperti Zulher (birokrat berpengalaman), Zainal Abidin (Ketua Partai Golkar Batam yang turun gunung), Muhammad Amin, Ibrahim Ali (Wabup, petahana), Eva Yuliana bersama jajaran Partai Demokrat agaknya harus bekerja ekstra keras.

Bila perebutan perahu Partai Demokrat di Kabupaten Kampar hanya terjadi antara ibu dan anak kandungnya, tidak demikian di Pekanbaru. Walikota Pekanbaru Dr Firdaus (Ketua DPC Partai Demokrat), berhadapan dengan sejumlah kompetitor sesama kader Partai Demokrat untuk memperebutkan perahu Partai Demokrat. Tradisi yang berkembang di Partai Demokrat selama ini, tidak ada jaminan bagi seorang Ketua DPC (atau Ketua DPD Partai Demokrat sekalipun) untuk mendapatkan perahu partai yang sedang diketuainya. Konon, tergantung hasil beberapa kali survey, siapa yang lebih tinggi elektabilitasnya, dialah yang akan ditunjuk DPP Partai Demokrat.

Dalam situasi tersebut, sang petahana sering kali dirugikan karena yang "menembak" kebijakannya, bisa dari dalam atau dari luar partai. Petahana dimana pun, selalu menjadi sasaran empuk pihak kompetitor. Dan masyarakat kita sering terpengaruh oleh isu populis yang berkembang, seperti masalah sampah, banjir, pedagang K5, parkir, dan sebagainya. Ibaratnya, petahana "dibombardir" dari segala penjuru dengan berbagai "senjata berat dan ringan". Isu sampah di kota adalah isu yang paling seksi untuk diolah. Sampah seakan ibarat nila setitik yang merusak susu sebelanga. Bila petahana tidak hati-hati, isu sampah bisa menjadi bola liar.

Kalau Partai Demokrat di Kampar dan Pekanbaru tidak hati-hati dan tidak all out berjuang bahu membahu dengan segenap kekuatan, hasilnya nanti bisa mengejutkan.

kolom - Koran Riau 21 Juni 2016
Tulisan ini sudah di baca 924 kali
sejak tanggal 21-06-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat