drh. Chaidir, MM | Pagar Makan Tanaman | PENYAIR Kahlil Gibran memiliki sebuah metafora menarik. Suatu ketika kebaikan dan keburukan sepakat mandi bersama di tepi pantai. Tanpa basa-basi mereka menanggalkan pakaiannya, meletakkannya di pantai, dan mereka pun mencebur, berenang, menyelam sesuka hatinya. Keburukan selesai terlebih dulu, dia
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Pagar Makan Tanaman

Oleh : drh.chaidir, MM

PENYAIR Kahlil Gibran memiliki sebuah metafora menarik. Suatu ketika kebaikan dan keburukan sepakat mandi bersama di tepi pantai. Tanpa basa-basi mereka menanggalkan pakaiannya, meletakkannya di pantai, dan mereka pun mencebur, berenang, menyelam sesuka hatinya. Keburukan selesai terlebih dulu, dia kemudian ke darat mengenakan pakaian kebaikan yang bukan miliknya dan lantas pergi. Berselang tak berapa lama kemudian, kebaikan pun selesai mandi, dia ke darat, tapi kebaikan tak menemukan pakaiannya. Tak ada pilihan, kebaikan terpaksa mengenakan pakaian keburukan.

Maka, tulis Kahlil Gibran, sampai sekarang kebaikan dan keburukan sulit dikenali bila dilihat dari pakaiannya. Tak begitu ada masalah dengan kebaikan, dia hanya harus melawan stereotype pakaian yang dipakainya. Emas toh tetap emas, dalam lumpur sekalipun. Perihal keburukan, adakalanya dia berhasil menyembunyikan diri di balik pakaian kebaikan yang dikenakannya, tapi seringkali pakaian itu tak mampu menyembunyikan kelakuan buruknya.

Bagaimana pun juga sulit membedakannya, dan banyak yang terkecoh. Ada serigala berbulu domba, ada musang berbulu ayam. Ada senjata makan tuan. Ada pagar yang seharus menjaga tanaman, pagar itu pula yang memakan tanaman yang dijaganya. Heboh tertangkapnya oknum hakim yang mengadili tindak pidana korupsi di Bengkulu atas dugaan korupsi, beberapa hari lalu, tak ubahnya ibarat perumpamaan tersebut. Hakim tipikor yang disebut mewakili Tuhan di dunia dalam mengadili perkara tindak pidana korupsi, siapa sangka terjerat dugaan kasus korupsi.

Tragedi Bengkulu itu mengingatkan, khayalan karangan Kahlil Gibran itu tidak mengada-ada. Banyak orang yang berpura-pura baik, berpura-pura membantu tapi menipu. Berpura-pura amanah tapi ingkar. Hipokritisasi seakan menjadi penyakit sosial menahun. Adakah penyakit itu inheren dalam masyarakat dengan tingkat kepercayaan sosial yang rendah (low trust society) seperti sindrom umum yang terlihat dalam masyarakat kita sekarang?

Kita masih punya serangkaian cerita yang berkaitan dengan fenomena Kahlil Gibran itu. Akhir tahun lalu, ramai diberitakan oleh media konvensional dan media online, seorang oknum perwira Badan Narkotika Nasional (BNN) ditangkap aparat Kepolisian Resor (Polres) Metropolitan Tangerang, Banten. Oknum itu disangka terlibat dalam penyalahgunaan narkoba. Bulan Februari lalu, Koran Sindo (24/2/2016) memberitakan, 13 oknum anggota TNI dan Polri ditangkap dalam kasus dugaan peredaran dan penyalahgunaan narkoba, ikut juga tertangkap bersama pada kesempatan itu, seorang oknum anggota DPR. Penangkapan dilakukan dalam operasi yang dilakukan tim Komando Strategis Cadangan TNI AD (Kostrad).

Kisah pagar makan tanaman juga terjadi dalam dunia pendidikan. Diberitakan oleh ProSamarinda (25/2/2016) Balikpapan, seorang oknum guru sekolah menengah kejuruan (SMK), setempat berbuat tak senonoh bersama anak didiknya. Aksi keduanya tertangkap petugas keamanan area pantai Banua Patra, kawasan Lapangan Merdeka Balikpapan, Sabtu (20/2/2016) lalu.

Sindonews.com (14/5/2016) memberitakan pula kisah sedih pagar makan tanaman yang menimpa Bunga (15 tahun, bukan nama sebenarnya) ketika enam kali diperkosa oleh ayah kandungnya sendiri yang bernama Daroji (40) warga Karang Dapo, Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan.

Kendati tetap terasa pahit, bolehlah disebut lumrah ketika domba diterkam serigala, ayam disantap musang, korban senjata lawan, tanaman dirusak hama. Namun, korban akibat orang yang berpura-pura baik, korban karena tak mampu memikul amanah, korban senjata makan tuan, tongkat bergantung membawa rubuh, pasti menimbulkan penyesalan tak berujung, dan pasti terasa amat pahit. Sesal tak berguna. Gerangan kemanakah perginya akal budi?

kolom - Riau Pos 30 Mei 2016
Tulisan ini sudah di baca 678 kali
sejak tanggal 30-05-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat