drh. Chaidir, MM | Paradigma Pemekaran Daerah | SYAHWAT pemekaran daerah kelihatannya belum ada tanda-tanda reda dalam beberapa tahun ke depan, dimana-mana diperbincangkan dan diperjuangkan dengan gegap gempita, bahkan tidak jarang disebut sebagai harga mati. Artinya, tidak ada tawar-menawar, terbujur lalu terlintang patah, rawe rawe rantas malan
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Paradigma Pemekaran Daerah

Oleh : drh.chaidir, MM

SYAHWAT pemekaran daerah kelihatannya belum ada tanda-tanda reda dalam beberapa tahun ke depan, dimana-mana diperbincangkan dan diperjuangkan dengan gegap gempita, bahkan tidak jarang disebut sebagai harga mati. Artinya, tidak ada tawar-menawar, terbujur lalu terlintang patah, rawe rawe rantas malang malang putung. Semua mantra yang dirasa mangkus, habis dibaca. Berbagai pernik-pernik adat dipasang untuk mempercantik usulan. Semua orang patut-patut dilibatkan memperkuat barisan. Tanpa malu-malu segala cara dilakukan.

Di tengah miskinnya kreatifitas, banyak orang yang percaya, pemekaran daerah merupakan resep yang paling tepat untuk segera menyembuhkan berbagai penyakit kemiskinan, ketertinggalan dan keterbelakangan yang telah diidap bertahun-tahun tak tersembuhkan. Pemekaran daerah dianggap jitu untuk segera menghadirkan kesejahteraan ekonomi secara instan bagi masyarakat di daerah. Sebab, suka atau tak suka, setuju atau tak setuju, di berbagai tempat negeri ini masih banyak sudut-sudut yang belum terjamah pembangunan.

Potret realitas kemiskinan dan ketertiggalan tersebut sering dimuat berbagai media; seperti foto warga yang menderita busung lapar, anak-anak yang kehilangan keceriaan masa kecil karena harus bekerja untuk menyambung hidup, pengemis dan pemulung yang merana, anak-anak berpakaian seragam sekolah yang harus menyeberangi sungai melalui jembatan kera yang berbahaya, ibu-ibu miskin yang terpaksa bekerja keras, anak-anak desa yang harus belajar dengan lampu teplok, pemukiman-pemukiman kumuh yang tergenang banjir, sekolah-sekolah seperti kandang kambing, dan sebagainya. Terlalu banyak untuk disebut satu-persatu.

Di sebuah dusun bernama Kersik Putih, nun di sana, di pedalaman kaki Bukit Barisan perbatasan Riau dan Sumatera Barat, dalam sebuah kunjungan keluarga penulis beberapa waktu lalu, beberapa pemuka masyarakat setempat menyebut, bahwa mereka belum lagi merasakan kemerdekaan. Warga sudah sekian lama hidup menderita, akses transportasi ke luar sangat susah, jangan tanya listrik dan air bersih, mereka hanya pernah mendengar. Mereka masih sopan dengan menyebut "belum merasakan kemerdekaan".

Kersih Putih pasti tidak sendiri. Di belahan lain di pelosok Papua, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Sumatera, di pulau-pulau terpencil Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Maluku, Nusa Tenggarra, masih banyak yang belum tersentuh pembangunan bahkan masih ada yang buta huruf. Makan jangan kaget bila kita mendengar ungkapan sarkastis, "kapan merdeka ini akan berakhir?" Pertanyaan itu bukanlah bermakna a-nasionalis, tapi harus dilihat sebagai ungkapan berhiba hati, merajuk atau mutung. Mereka tahu tetangga berpesta pora, tapi mereka tak dapat apa-apa.

Paradigma desentralisasi pasca reformasi dalam bentuk otonomi daerah yang merupakan antitesis dari paradigma sentralistis masa lalu, yang diharapkan cepat menghadirkan kesejahteraan ekonomi yang semakin baik bagi masyarakat di daerah ternyata belum terwujud. Bahkan jauh pangggang dari api. Elit politik dan elit pemerintahan lebih tertarik bagi-bagi kekuasaan dan jabatan. Akibatnya, pembangunan tidak fokus dan tidak efektif, sumber daya alam yang berlimpah ruah tak bisa digunakan secara efisien, sebagian karena perencanaan yang "tepuk dada tanya selera", minim kreatifitas, sebagian lainnya karena praktik korupsi yang merajalela.

Singkat cerita, pembangunan tidak merata. Ada daerah-daerah yang berkali-kali setiap tahun memperoleh banyak anggaran pembangunan, sebaliknya ada daerah yang belum tersentuh pembangunan. Inilah biang masalahnya. Maka, agar terjadi pemerataan pembangunan, timbullah pemikiran sederhana, cari mudahnya saja: pemekaran daerah. Dengan pemekaran daerah rentang kendali bisa lebih diperpendek, jarak kekuasaan (power distance) atau jarak antara pemimpin dan rakyatnya bisa lebih didekatkan sehingga komunikasi lebih mudah.

Oleh karena itu tak ada yang salah dengan pemekaran daerah. Terbentuknya daerah otonom baru pasti akan mempercepat pembangunan infrastruktur, seperti jalan, jembatan, listrik, air bersih dan telekomunikasi. Infrastruktur ini diperlukan oleh masyarakat untuk mendukung perekonomian masyarakat sampai ke desa. Bila prasarana transportasi bagus (lintas kabupaten, lintas kecamatan dan lintas desa), perekonomian masyarakat akan tumbuh dengan sendirinya, kemandirian masyarakat akan terbangun.

Di samping itu, pemekaran daerah juga membuka peluang penerimaan PNS, terbentuknya DPRD, dan pengisian beberapa jabatan struktural pemerintahan, munculnya pemimpin-pemimpin dari bawah. Usaha-usaha kecil menengah juga berpeluang tumbuh berkembang. Namun pemekaran daerah sering pula ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan sempit kelompok-kelompok tertentu, orang-orang kuat di daerah (local strongmen), tukang olah, makelar politik, dan sebagainya, apalagi dalam pemilihan kepala daerah.

Pemilihan kepala daerah inilah yang menjadi variabel penting sukses atau tidaknya pemekaran suatu daerah. Ada daerah pemekaran yang sukses ada yang gagal. Daerah pemekaran yang beruntung dipimpin oleh kepala daerah dengan kepemimpinan yang efektif, akan cepat maju, bila tidak, akan menimbulkan kekecewaan dan malah akan jadi bumerang, apalagi kepala-kepala daerah yang hanya mengandalkan popularitas dan kekuasaan tapi minim kapasitas. Pemimpin seperti ini boleh jadi akan terbuai dalam program-program populis yang tak memiliki jangkauan pemiikiran masa depan. Kalau begini, pemekaran daerah akan gagal, arang habis besi binasa.

kolom - Koran Riau 24 Mei 2016
Tulisan ini sudah di baca 808 kali
sejak tanggal 24-05-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat