drh. Chaidir, MM | Cermin Anas | ANAS Urbaningrum menorehkan tinta emas. Dia adalah tokoh termuda sampai saat ini yang berkesempatan mengendalikan sebuah partai politik berkuasa (the ruling party) di sebuah negeri yang memiliki dinamika politik tinggi dan tingkat problematika cukup sulit dalam sejarah Indonesia modern.

Partai Go
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Cermin Anas

Oleh : drh.chaidir, MM

ANAS Urbaningrum menorehkan tinta emas. Dia adalah tokoh termuda sampai saat ini yang berkesempatan mengendalikan sebuah partai politik berkuasa (the ruling party) di sebuah negeri yang memiliki dinamika politik tinggi dan tingkat problematika cukup sulit dalam sejarah Indonesia modern.

Partai Golkar saja yang malang melintang selama 32 tahun sebelum reformasi dan tetap dominan pasca reformasi, tak pernah memberi peluang kepada kader mudanya menjadi top pimpinan di tingkat nasional. Demikian pula PDIP yang memenangkan Pemilu 1999, belum ada kader mudanya yang sanggup menandingi karisma Megawati Soekarnoputri. Padahal tidak sedikit kader-kader muda potensial di kedua parpol tersebut.

Anas memberikan cermin, itulah yang menarik. Ternyata demokrasi kita masih ada. Barangkali ini terdengar berlebihan, namun kesan yang terbentuk selama ini, suka atau tidak suka, panggung politik kita pada umumnya, mulai dari pentas nasional sampai ke daerah, sarat dengan isu politik uang. Siapa yang punya uang banyak dipastikan menang, atau sekurang-kurangnya memiliki posisi tawar yang kuat untuk mendikte. Namun wajah bopeng demokrasi kita tidak hanya ulah politik uang, agenda pemilihan mulai dari pemilihan Presiden sampai ke pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota, diisukan penuh dengan kecurangan-kecurangan. Sebut saja misalnya pro-kontra penggelembungan daftar pemilih dan penggelembungan perolehan suara. Dalam pemilihan Ketua Umum parpol, sudah menjadi rahasia umum, biasanya menjadi ajang panen raya. Namun kali ini beda.

Anas Urbaningrum juga menyelamatkan muka SBY. Isu yang beredar sebelum Kongres, SBY mendukung salah seorang kandidat Ketua Umum, Andi Malarangeng (AM). Hal ini diperkuat oleh kehadiran Ibas, putra bungsu SBY di kubu Tim Sukses AM. Isu ini sedikit banyak merugikan SBY, karena opini segera terbentuk, SBY tak seharusnya berpihak kepada salah satu kandidat.

Namun isu negatif berbalik positif ketika SBY menunjukkan sikap demokrat sejati, bahkan kepada anaknya, Ibas pun, SBY tak mau intervensi.

Lembaga survey yang selama ini sukses mengantarkan SBY sebagai Presiden RI, Aburizal Bakri sebagai Ketua Umum Partai Golkar, dan Hatta Rajasa sebagai Ketua Umum PAN, ternyata juga dikendalikan manusia biasa sehingga mereka bisa salah prediksi terhadap kekuatan AM. Andai AM yang tampil sebagai pemenang, maka lembaga survey tersebut akan menjadi berhala yang akan disembah oleh semua bakal kandidat di seluruh Indonesia. Kedaulatan tak lagi di tangan rakyat tapi di tangan lembaga survey.

Last but not least, Anas Urbaningrum memberikan peringatan dini kepada kita semua, bahwa jorjoran baliho dan kampanye melalui media massa tidak selalu efektif. Anas telah mengembalikan kontestasi kepemimpinan ke pangkal jalan. Raja Sulaiman dan Ratu Balqis memiliki kekuasaan amat sangat besar, tapi keduanya tak arogan. Kerendahan hati adalah cermin yang diberikan Anas kepada Indonesia, kepada kita semua. Syabas Anas.***

kolom - Riau Pos - 31 Mai 2010
Tulisan ini sudah di baca 1333 kali
sejak tanggal 31-05-2010

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat