drh. Chaidir, MM | Hewan Saja Tidak Begitu | BERGIDIK bulu tengkuk membaca berita duka lara nestapa tak terperikan yang menimpa Yuyun, bocah 14 tahun yang diperkosa dan dibunuh oleh 14 remaja di Kabupaten Rejanglebong, Provinsi Bengkulu beberapa hari lalu. Rasanya terlalu sopan filsuf Aristoteteles menyebut manusia itu hewan tingkat tinggi.  S
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Hewan Saja Tidak Begitu

Oleh : drh.chaidir, MM

BERGIDIK bulu tengkuk membaca berita duka lara nestapa tak terperikan yang menimpa Yuyun, bocah 14 tahun yang diperkosa dan dibunuh oleh 14 remaja di Kabupaten Rejanglebong, Provinsi Bengkulu beberapa hari lalu. Rasanya terlalu sopan filsuf Aristoteteles menyebut manusia itu hewan tingkat tinggi. Sebab perbuatan 14 orang pemerkosa dan pembunuh tersebut bahkan lebih biadab dari perangai seekor hewan sekalipun.

Seekor hewan dari sononya memang tak punya perasaan malu, sehingga tak perlu merasa canggung tampil telanjang bulat tak berpakaian sehelai benang pun dan melalukan hubungan seksual di depan umum. Tapi seburuk-buruknya perangai hewan, makhluk ini tidak pernah melakukan kekerasan seksual apalagi membunuh lawan mainnya secara sadis. Tidak hanya itu, hewan jantan bahkan tidak pernah melakukan kekerasan seksual pada anak-anak hewan yang belum dewasa kelamin.

Dalam dunia hewan juga dikenali ada yang perilaku menyimpang LGBT seperti pada bangsa manusia, sebagaimana ditemukan pada domba-domba piaraan, tetapi tetap saja hewan-hewan LGBT ini tidak pernah melakukan kekerasan seksual pada anak-anak atau remaja-remajanya yang belum dewasa kelamin secara hormonal.

Mengapa libido (dorongan seksual) hewan lebih terkendali daripada hewan tingkat tinggi yang bernama manusia? Karena libido hewan dikendalikan secara refleks oleh siklus hormonal dalam tubuh hewan itu sendiri. Dan siklus hormonal dalam tubuh hewan betina baru berfungsi dengan normal apabila hewan betina tersebut telah mengalami dewasa kelamin. Pada tahap ini hewan-hewan betina menunjukkan tanda-tanda birahi dan melakukan komunikasi verbal dan nonverbal dengan lawan jenisnya.

Hewan jantan pun baru menunjukkan ketertarikan bila hewan betina sudah memberi aba-aba siklus birahi. Komunikasi verbal itu bisa melalui suara-suara (mengeong, melenguh, melengking, dan sebagainya) yang hanya dimengerti oleh sesama hewan sejenis. Atau melalui bahasa nonverbal melalui gerakan-gerakan, perubahan anatomi tubuh, atau juga aroma khas ("parfum" khusus yang diproduksi oleh hewan betina), yang dipahami hewan jantan.

Perilaku reproduksi hewan tersebut (mencari pasangan asmara), bukanlah akibat dari akal budi seperti kebutuhan bangsa manusia terhadap rasa kasih sayang. Hewan tidak memiliki akal budi seperti itu. Tingkah laku hewan tersebut adalah naluri. Didorong oleh naluri atau instingnya, kehidupan seksual bangsa hewan berjalan normal apa adanya mulai dari zaman nenek moyangnya, saat dunia terkembang sampai sekarang, tak ada kekerasan seksual, juga tidak ada pelecehan seksual pada anak-anaknya.

Sementara, pada bangsa manusia, makhluk yang berakal budi, sudah tak terbilang kasus kekerasan dan pelecehan seksual pada anak-anak dan remaja yang menyebabkan anak-anak kita kehilangan nyawa atau trauma seumur hidup. Kasus demi kasus terjadi di negeri kita, memalukan dan sangat memilukan. Ancaman hukuman berat sampai dikebiri seakan tidak mangkus meredam perilaku bejat ini. Terakhir, ayah pelaku diancam ikut dipenjara bersama anaknya.

Akar masalah. Akar masalahnyalah kelihatannya yang harus dikenali secara sungguh-sungguh dan jujur oleh pemerintah dan seluruh stakeholder. Cobalah kita renungkan sekejap, dikatakan pendidikan moral agama sebagai kambing hitam, kita pasti tidak terima, sebab, bukankah gerakan kehidupan beragama dewasa ini justru semakin hebat, massive dan terstruktur? Kita akan marah bila disebut program pendidikan agama menurun dari masa-masa sebelumnya. Tapi mengapa degradasi moral terus terjadi menjadi-jadi?

Minuman keras dan narkoba, semakin dilarang semakin merajalela, bahkan kini tak jarang melibatkan alat negara. Situs porno di internet semakin disaring semakin anak-anak kita rajin browsing. CD film-film porno hanya sebatas bisik-bisik dan kedipan mata. Pornoaksi dan pornografi di televisi, dicaci dan dinanti, malu tapi mau. Pergaulan remaja semakin hari semakin bebas tak terkendali. Anak-anak remaja kita sudah terkepung.

Kelihatannya, kita marus membayar mahal atas kebebasan tak bertepi yang dibiarkan menyelimuti masyarakat, dan dianggap sebagai bagian dari kehidupan modern yang berdemokrasi. Kebebasan atau kemerdekaan yang menjadi nilai-nilai demokrasi yang ingin kita tegakkan, rasanya tidaklah begini. Bukankah di sana juga ada nilai-nilai persaudaraan (fraternity) kasih sayang, belas kasih antar sesama?

Kelihatannya kita harus memikir ulang tentang konsep kebebasan yang sekarang ditumbuhkan. Kalau kita masih sayang dengan generasi muda kita, kalau kita masih menyebut mereka adalah calon pemimpin di masa depan, jangan takut disebut tidak populer dengan menegakkan disiplin. Jangan takut disebut tidak gaul untuk melarang pornoaksi dan pornografi di televisi. Atau kita sebagai manusia yang beradab lebih biadab daripada hewan yang tak beradab.

kolom - Koran Riau 10 Mei 2016
Tulisan ini sudah di baca 742 kali
sejak tanggal 10-05-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat