drh. Chaidir, MM | Sadiq Khan dan Ahok | BERITA paling seksi akhir pekan lalu di tanah air, khususnya bagi warga ibukota Jakarta, tentulah terpilihnya Sadiq Khan sebagai Walikota London (dilansir BBC, 7/5/2016). Ulangi: Sadiq Khan, bukan Shahrukh Khan.  Kendati sama-sama pakai marga
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Sadiq Khan dan Ahok

Oleh : drh.chaidir, MM

BERITA paling seksi akhir pekan lalu di tanah air, khususnya bagi warga ibukota Jakarta, tentulah terpilihnya Sadiq Khan sebagai Walikota London (dilansir BBC, 7/5/2016). Ulangi: Sadiq Khan, bukan Shahrukh Khan. Kendati sama-sama pakai marga "Khan", konon di antara mereka berdua tak ada hubungan sanak famili; yang satu politikus, yang lain artis Bollywood.

Orang Betawikah Bang Sadiq ini? Bukan. Dia asli orang Inggris, lahir di Tooting, kawasan London Selatan. Ayahnya supir bus di London, seorang imigran keturunan Pakistan dan ibunya seorang tukang jahit. Tapi jangan anggap remeh, dan jangan pula kecewa bila perjalanan karir Sadiq Khan bukan seperti kisah dongeng dari negeri antah berantah.

Bayangkan, pada usia 15 tahun Sadiq Khan sudah menjadi kader Partai Buruh. Tahun 1994 (pada usia 24 tahun) dia sudah ditunjuk oleh partainya menjadi anggota majelis partai. Pada 2005 dia terpilih menjadi anggota parlemen Inggris (House of Common - DPR Inggris) dari Partai Buruh untuk daerah pemilihan Tooting, London. Tak lama kemudian, pada tahun 2008, di bawah Perdana Menteri Gordon Brown, Pimpinan Partai Buruh, dia diangkat menjadi Menteri Komunitas, kemudian Menteri Transportasi. Maka tercatatlah ia sebagai Muslim pertama yang diangkat sebagai seorang menteri kabinet di Inggris.

Di sebuah negeri yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi, seseorang yang bukan penduduk asli pribumi (dan apapun agama atau aliran kepercayaan yang dianutnya), sah-sah saja dipilih dan terpilih untuk menjadi seorang pemimpin. Bukankah Presiden AS Barack Obama juga bukan keturunan asli orang Amerika? Barack Hussein Obama Sr., ayah Presiden Obama adalah orang Kenya, Afrika. Ingat Alberto Fujimori, keturunan Jepang yang menjadi Presiden Peru? Atau PM Malaysia Najib Razak yang secara terang-terangan mengaku bahwa leluhurnya berasal dari Gowa, Sulawesi Selatan.

Dalam sebuah pemilihan umum yang bebas, hakikatnya, para pemilih memberikan suaranya untuk memberikan mandat kepada seseorang atau sebuah partai politik. Siapa yang rasanya dipercaya menurut hati nuraninya, ke sanalah suara diberikan tanpa ada tekanan dari pihak manapun atau imbalan apapun. Maknanya, siapa yang paling banyak memperoleh suara, berarti dia paling banyak memperoleh dukungan, paling dipercaya, tak peduli putih, kuning langsat atau hitam warna kulitnya, laki-laki atau perempuan, tua atau muda sama saja.

Jadi sebenarnya, tak ada sesuatu yang istimewa dengan terpilihnya Sadiq Khan, dia seorang kader Partai Buruh yang sudah membangun karir politik sejak masih muda belia. Catatan sejarahnyalah yang monumental. Media Inggris punya kebiasaan, dan suka tergila-gila dengan catatan monumental. Yang tak ada pun diada-adakan, dicari-cari, dibuat-buat. Lihatlah pemberitaan media dalam kompetisi elit sepakbola Liga Premier Inggris. Mereka suka menulis, misalnya, kemenangan pertama dalam musim ini, gol pertama liga, kemenangan pertama setelah ketinggalan tiga gol, gol pertama yang dicetak dengan kaki kiri oleh Si Anu, gol pertama yang dicetak dengan tendangan tumit musim ini, gol keseratus dalam lima tahun, dan seterus dan sebagainya.

Hanya saja, cerita tentang walikota terpilih Sadiq Khan menjadi asyik bila diasosiasikan dengan proses pencalon Gubernur Ahok sebagai calon gubernur petahana untuk pemilihan Gubernur Jakarta periode 2017-2022 yang heboh itu. Isu kemenangan Sadiq Khan bisa lentur seperti karet, ditarik kesana kemari "masuk", tergantung pihak mana yang mengolahnya. Terserah, mau digoreng ke isu agama bisa, digoreng ke isu etnik juga bisa, tinggal meramu bumbu penyedapnya saja.

Betapapun menariknya isu terpilihnya Sadiq Khan, penganut Muslim pertama yang jadi Walikota London, orang Inggris punya asumsi dasar dan persepsi beda dengan kita. Orang Inggris lebih menghormati sikap gentlemen seseorang daripada afiliasi kepercayaan ataupun garis kebangsawanan seseorang. English gentlemen berasal dari English gentry (orang Inggris dari kalangan baik-baik), nampaknya lebih disukai dari atribut lain. Itu warga London, warga Jakarta?

kolom - Riau Pos 9 Mei 2016
Tulisan ini sudah di baca 1847 kali
sejak tanggal 09-05-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat