drh. Chaidir, MM | Virus Bukit Kera | WARTAWAN senior Belanda, Willem Leonard Oltmans (1925-2004), penulis buku
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Virus Bukit Kera

Oleh : drh.chaidir, MM

WARTAWAN senior Belanda, Willem Leonard Oltmans (1925-2004), penulis buku "Bung Karno Sahabatku" (2001), memberi istilah "Bukit Kera" bagi Den Haag dalam bukunya. Den Haag adalah kota pemerintahan Belanda dan tempat parlemen (DPR). Di kota ini didapati pula keduataan besar negara-negara asing, termasuk Kedutaan Besar Republik Indonesia. Meskipun demikian, Den Haag bukan ibukota Belanda; ibu kota Belanda adalah Amsterdam.

Oltmans menulis, betapa keras kepalanya orang-orang di Bukit Kera dalam sengketa Irian Barat antara Indonesia dan Belanda pada era 1960-an. Sebagai pusat kekuasaan pemerintah dan parlemen, Den Haag mempertontonkan perangai kekuasaannya. Mereka ngotot memaksakan kehendaknya terhadap Irian Barat; logika merekalah yang benar. Belanda sama sekali tidak mau mendengar argumentasi pihak Indonesia. Willem Oltmans, seorang wartawan investigasi, orang asli Belanda, masih mampu menggunakan akal budinya, dan berpihak pada Indonesia. Risikonya, dia dicap pengkhianat oleh pemerintah Belanda. Oltmans untuk beberapa lama terpaksa menyingkir dan tinggal di Long Island, New York, AS, sebagai pelarian politik.

Sebagai orang Belanda, Willem Oltmans sah-sah saja menyindir dengan menyebut pusat pemerintahan Belanda, negerinya sendiri, di Den Haag sebagai Bukit Kera, sama seperti kegemaran penjajah Belanda mencemooh penduduk pribumi di daerah jajahannya. Penduduk pribumi di nusantara misalnya, dipaksa menanam kopi, buahnya dipanen dan diangkut ke Belanda, pribumi cukup disuruh menikmati rebusan daun kopi saja (kopi kawa); Belanda kemudian mencemooh pribumi sebagai Melayu Kopi Daun.

Kekuasaan memang cenderung disalahgunakan. Sejarawan Inggris, Lord Acton (1834-1902) benar dengan dalilnya, "power tends to corrupt, absolute power corrupt absolutely" (kekuasaan itu cenderung disalahgunakan, kekuasaan absolut pasti disalahgunakan), tak terkecuali di eksekutif atau legislatif. Akibatnya, demokrasi itu dilemahkan oleh perangai demokrasi itu sendiri, terutama oleh orang-orang partai politik di legislatif, ketika DPR terbuai dengan kekuasaan berpayung adagium "vox populi vox Dei" (suara rakyat suara Tuhan).

Tanda-tanda ke arah demokrasi yang tak fungsional terlihat dari gelagat penggunaan kekuasaan legislatif yang berlebihan. Kita mencatat misalnya, ketika orang-orang partai politik di DPR ngotot ingin melakukan revisi terhadap undang-undang KPK (UU No 30 Tahun 2002). Yang sedang hangat-hangatnya adalah pembahasan revisi UU No 8 Tahun 2015 tentang Pilkada. Fraksi-fraksi di DPR bersikukuh menaikkan syarat dukungan untuk pasangan calon dari jalur perseorangan. Secara kasat mata terlihat, syarat perseorangan dipersulit syarat calon dari parpol dipermudah. Di samping itu, calon pasangan kepala daerah yang berasal dari TNI, Polri dan PNS disebut tidak perlu mundur. Hal ini jelas mencederai demokrasi kita, karena ketiga lembaga tersebut telah diatur oleh undang-undang, lain harus bersifat netral.

Fungsi legislasi Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang harusnya diperkuat untuk mengimbangi kepentingan parpol di DPR, tidak dilakukan, justru yang diwacanakan adalah pembubaran DPD. Dan masih banyak lagi agenda lain yang terkesan tidak memperkuat demokrasi, seperti misalnya rencana untuk mengubah sistem pemilu stelsel daftar terbuka kembali ke stelsel daftar tertutup (kembali ke nomor urut dalam menentukan pemenang calon legislatif).

Akibat DPR terbuai "siamang bergayut" agenda kepentingan parpol, fungsi pengawasan DPR menjadi kurang efektif, dukungan terhadap penegakan hukum lemah (pemerintah cenderung tidak taat hukum; terlihat dari belum adanya eksekusi terhadap keputusan-keputusan kasasi Mahkamah Agung dan keputusan Mahkamah Konstitusi yang final dan mengikat, demikian pula terhadap maraknya bisnis narkoba di penjara).

Arwah Willem Oltmans mungkin tertawa di alam kubur sana, ternyata virus keras kepala Bukit Kera Den Haag telah menular ke negara bekas jajahannya, bahkan ada kecenderungan menyebar ke daerah-daerah luar Jakarta. Alamaaak..

kolom - Riau Pos 25 April 2016
Tulisan ini sudah di baca 467 kali
sejak tanggal 26-04-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat