drh. Chaidir, MM | Tragedi Maret | PERISTIWANYA sudah jauh masuk ke bilik kenangan. Tigapuluh lima tahun silam, tepatnya tanggal 28 Maret 1981, pesawat DC-9 Garuda Indonesia nomor penerbangan 206 dengan pilot Herman Rante mengudara dari bandar udara Talang Betutu Palembang  menuju bandara Polonia Medan. Tiba-tiba lima orang penumpang
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Tragedi Maret

Oleh : drh.chaidir, MM

PERISTIWANYA sudah jauh masuk ke bilik kenangan. Tigapuluh lima tahun silam, tepatnya tanggal 28 Maret 1981, pesawat DC-9 Garuda Indonesia nomor penerbangan 206 dengan pilot Herman Rante mengudara dari bandar udara Talang Betutu Palembang menuju bandara Polonia Medan. Tiba-tiba lima orang penumpang bersenjata api (yang kemudian mengaku dari Komando Jihat), membajak pesawat tersebut dan minta diterbangkan ke Kolombo, Sri Langka. Pesawat mengisi bahan bakar di Penang, Malaysia, selanjutnya terbang ke Thailand dan mendarat di bandara Don Muang, Bangkok.

Drama pembajakan pesawat Garuda DC-9 Woyla tersebut berlangsung empat hari, berakhir pada 31 Maret 1981 setelah serbuan kilat Grup-1 Kopassandha (sekarang Kopassus) yang dipimpin Letkol Infanteri Sintong Panjaitan (terakhir berpangkat Letnan Jenderal). Sang pilot, Kapten Herman Rante, dan Achmad Kirang, salah satu anggota satuan Para-Komando Kopassandha, gugur dalam tragedi dramatis yang menyita perhatian dunia tersebut.

Tiga puluh tahun kemudian pasca pembajakan DC-9 Woyla, tepatnya tanggal 16 Maret 2011, kapal Sinar Kudus bermuatan biji nikel yang berangkat dari Pomala, Sulawesi Selatan menuju Rotterdam, Belanda, dirompak oleh bajak laut Somalia, di sekitar Teluk Aden, perairan Somalia. Kapal itu diawaki oleh 20 orang di antaranya WNI, dengan Kapten Kapal Slamet Jauhari.

Bila pembebasan awak dan penumpang pesawat Garuda DC-9 Woyla yang disandera teroris, TNI didukung oleh Angkatan Udara Thailand, tidak demikian halnya dengan pembebasan awak Sinar Kudus. Perompak Somalia di kawasan ini boleh disebut bajak laut berjemaah karena konon didukung oleh sebagian besar masyarakat pelabuhan tempat dimana Sinar Kudus dan beberapa kapal asing bajakan lainnya lego jangkar tersandera menunggu penebusan. Perompak merajalela karena pemerintahan Somalia sedang kacau balau akibat perang saudara.

Menghadapi kemungkinan terburuk (karena potensi gesekan yang sangat besar di Teluk Aden dengan kekuatan-kekuatan lain, dan posisi yang jauh dari tanah air), Laksamana Pertama TNI Taufikurrahman, yang memimpin operasi militer pembebasan tidak mau ambil risiko. Dua kapal perang jenis fregat dikerahkan yaitu KRI Yos Sudarso dan KRI Abdul Halim Perdanakusumah (terakhir disusul KRI Banjarmasin). Pasukan itu menjadi bagian dari Satgas Merah Putih yang terdiri dari 480 personel. Pasukan ini terdiri dari personel Komando Pasukan Katak (Kopaska) Angkatan Laut, Detasemen Jala Mangkara, Sat-81/Kopassus, dan Unit Intai Amfibi Marinir.

Pasukan kedua yang dipimpin oleh Mayor Jenderal (Marinir) Alfan Baharudin, kemudian menyusul dengan kekuatan 488 personel sehingga total pasukan yang dikerahkan ke Teluk Aden mencapai 999 personil. Dengan semangat Jalesveva Jayamahe (Di Laut Kita Jaya), pasukan TNI kita dengan merah putih di dada, berhasil membebaskan Sinar Kudus beserta seluruh awaknya dalam keadaan selamat, dan menewaskan seluruh perompak.

Lima tahun pasca perompakan Teluk Aden, atau tigapuluh lima tahun pasca tragedi Woyla, persisnya tanggal 26 Maret 2016, dua kapal Indonesia kembali dibajak, yakni kapal tunda Brahma 12 dan kapal tongkang Anand 12 yang mengakut 7.000 ton batubara dan 10 orang ABK. Kali ini perompak mengaku dari kelompok separatis Filipina, Abu Sayyaf. Kedua kapal ini dalam perjalanan dari Sungai Puting, Kalimantan Selatan, menuju Batangas, Filipina Selatan. Pembajakan terjadi di perairan Tawi-tawi (Filipina Selatan). Kabar terakhir, kapal tunda Brahma 12 dibebaskan tapi tongkang Anand 12 yang bermuatan, belum diketahui, gerangan di ceruk mana tongkang itu disembunyikan. Mengkhawatirkan.

Peristiwa Woyla, kapal Sinar Kudus, tongkang Anand 12 beda kasus beda lokus tapi ketiganya menyangkut tragedi kemanusiaan, dan uniknya, secara kebetulan ketiganya terjadi pada bulan Maret. Dua yang disebut pertama, diselesaikan dengan tuntas melalui operasi militer TNI. Namun terhadap pembajakan tongkang Anand 12 beserta 10 orang ABK WNI di Filipina Selatan, TNI-Polri terhalang regulasi Negara Filipina. Sayang sekali, padahal ini masalah nyawa manusia. Kita yakin TNI-Polri sangat siap bergerak cepat. Dari jauh kita hanya bisa berdoa semoga operasi penyelamatan sandera berjalan dengan sukses dan ABK tersebut bisa kumpul kembali dengan keluarganya. Dalam semangat ASEAN peristiwa sejenis tak boleh terulang lagi di masa depan. Negara tak boleh kalah tak boleh lemah.

kolom - Riau Pos 11 April 2016
Tulisan ini sudah di baca 708 kali
sejak tanggal 11-04-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat