drh. Chaidir, MM | Pemilukada dan Sepakbola | PEMILUKADA kita tak ubahnya seperti persepakbolaan Indonesia. Ibarat tim PSSI yang sering jadi pecundang, Pemilukada pun lebih banyak menampilkan wajah pecundang daripada wajah yang penuh harga diri. Kerusuhan Pemilukada Mojokerta adalah salah satu dari sekian banyak contoh.

Kelihatannya sudah me
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Pemilukada dan Sepakbola

Oleh : drh.chaidir, MM

PEMILUKADA kita tak ubahnya seperti persepakbolaan Indonesia. Ibarat tim PSSI yang sering jadi pecundang, Pemilukada pun lebih banyak menampilkan wajah pecundang daripada wajah yang penuh harga diri. Kerusuhan Pemilukada Mojokerta adalah salah satu dari sekian banyak contoh.

Kelihatannya sudah menjadi sebuah aksioma, kompetisi dan mutu permainan sepakbola kian membaik, bila masyarakatnya semakin maju. Lihatlah kompetisi liga di Eropa. Organisasinya profesional. Semua Tim bermain dengan ambang kualitas yang tinggi, dan semua menjunjung tinggi sportivitas.

Semua berusaha mewujudkan pertandingan fair play. Para pemain menghormati wasit, karena wasit memang berlaku adil. Perkelahian antar pemain sepakbola di negara-negara maju hampir tidak ada sama sekali, padahal kompetisi berjalan sangat keras, saling dorong, saling tarik, benturan keras antar pemain, merupakan kelaziman.

Sebaliknya PSSI, kualitas pertandingan ibarat "Tarkam" (antar kampung), mutu rendah, sering diakhiri pula dengan adu jotos massal. Penonton sering disuguhi tontonan "2 in 1" (two in one): tontonan sepakbola sekaligus tontonan tinju. Tidak puas perkelahian antar pemain, antar pendukung pun berantem. Tidak puas antar pendudukung, antar kampung pun akan bertempur. Wasit dikejar-kejar, bahkan dipukuli, itu lumrah.

Lihatlah pemain nasional berpengalaman seperti Budi Sudarsono (Persib), bisa lupa bahwa dia sedang bertanding sepakbola sehingga dengan mudahnya menghujamkan tinju kepada pemain Persitara Jakarta Utara yang melakukan tackling. Akibatnya, tentu saja Budi diganjar kartu merah. Lihat pula ulah pemain nasional lainnya, Charis Yulianto (Sriwijaya FC) dan kawan-kawan yang menganiaya supporternya sendiri, hanya karena supporter mencemooh pemain tim kesayangan mereka itu.

Sepakbola sama-sama menjadi tradisi, tetapi tradisi di negeri yang memiliki peradaban maju, terpelihara dengan baik dan bemutu tinggi, sedangkan di negeri-negeri yang belum maju, tidak terpelihara dengan baik. Padahal format kompetisi tak beda, provokasi media juga tak kalah gila dibanding Liga Serie A di Italia, Liga Primera di Spanyol, atau Liga Primer di Inggris.

Kompetisi pemilukada serupa dengan kompetisi sepakbola "tarkam" kita, heboh di media, tapi miskin dalam kualitas dan komitmen. Aksi kerusuhan di Mojokerto menambah panjang catatan hitam penyelenggaraan pemilukada.

Kerusuhan-kerusuhan sejenis membuat level demokrasi kita turun kelas. Ketidakpuasan di berbagai tempat muncul karena ada pihak yang merasa diperlakukan tidak adil. Wasit seringkali tak sungguh-sungguh adil, lain di bibir lain di hati. Padahal dimana-mana ada pagelaran seremoni pemilu damai, siap kalah siap menang, tidak akan saling melakukan kampanye hitam, tidak akan berbuat curang, dan seterusnya.

Acara tersebut diselenggarakan bertingkat, seakan tak cukup hanya sekali. Setelah diadakan di provinsi, diadakan pula di masing-masing kabupaten. Namun setelah masing-masing Tim kembali ke kelompoknya.

Cerita beda sama sekali. Sportivitas diabaikan. Etika moral disangkutkan entah dimana. Masa kampanye tidak lagi digunakan untuk tebar pesona program yang diharapkan akan memancing simpati pemilih, tapi berubah dengan menyiasati segala macam jurus, siasat curang, termasuk penggelembungan suara.

Wajah pemilukada kita kelihatannya sama dengan wajah persepakbolaan kita, kusut masai. Entah sampai kapan?***

kolom - Riau Pos - 24 Mai 2010
Tulisan ini sudah di baca 1357 kali
sejak tanggal 24-05-2010

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat