drh. Chaidir, MM | Wajah Aneh Negeri Obama | LUPAKAN sejenak
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Wajah Aneh Negeri Obama

Oleh : drh.chaidir, MM

LUPAKAN sejenak "kopi hangat" Ahok dalam pilgub DKI Jakarta. Sekali-sekali bolehlah kita "kepo" terhadap proses konvensi pemilihan presiden Amerika Serikat, sebagai tanda kita hidup bangsa berbangsa. Apa pula salahnya. Bukankah ada pantun Melayu, "ketuku batang ketakal/kedua batang keladi moyang/sesuku kita seasal/senenek kita semoyang"? Pantun itu mestinya tak hanya ditujukan sebagai bentuk akomodasi masyarakat Melayu terhadap pendatang, tapi di era globalisasi sekarang, bisa juga dialamatkan ke orang Arab, Arfika, Jepang atau juga Amerika. Bukankah kita semua cucu Nabi Adam?

AS Negeri Obama itu memang jauh, beribu batu nun di sana di seberang samudra, di lain benua. Siapa pun yang akan terpilih jadi Presiden AS pengganti Obama, "nggak ngaruh" bagi kita, setidak-tidaknya tidak ada pengaruh langsung. Namun, ada sesuatu yang menarik dari pilpres AS tahun 2016 ini; bukan pada sosok Donald Trump, calon kandidat presiden AS dari Partai Republik, yang kontroversial dengan pernyataan anti Islamnya; atau pada sosok Hillary Clinton, calon kandidat presiden AS dari Partai Demokrat, yang kalau menang akan tercatat dalam sejarah menjadi presiden perempuan pertama di AS.

Bukan itu. Ada sesuatu yang kelihatannya berkembang di luar kelaziman perpolitikan di AS. Selama ini, liberalisme yang berwujud kebebasan tak bertepi dalam demokrasi kita di tanah air, banyak disebut mengadopsi demokrasi liberal model AS. Tapi dinamika konvensi pemilihan calon kandidat presiden AS pada tingkat partai politik (Partai Republik dan Partai Demokrat) tahun ini berlangsung panas, sarat propaganda politik seperti pilpres dan pilkada di tempat kita.

Pertanyaannya, gerangan siapa meniru siapa sekarang? Kita yang meniru Amerikakah, atau, Amerika yang meniru kita, atau sekurang-kurangnya, barangkali mereka terobsesi gegap gempitanya pelaksanaan demokrasi di negera demokrasi baru seperti di negeri kita, yang disebut lebih liberal dari negeri dimana paham liberal itu berasal.

Kita memahami, selama ini, AS dianggap negeri yang paling setia menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi, salah satu diantaranya adalah nilai kejujuran dan sportivitas. Orang Amerika dikenal bersikap sangat sportif. Kalah dalam debat tidak berbuntut dendam seumur hidup. Kalah dalam pemilihan tak patah arang. Bahkan beberapa presiden mengangkat lawan politik yang paling keras mengkritik untuk duduk dalam kabinet. Presiden ke-16 AS, Abraham Lincoln (1861-1865) misalnya, menunjuk lawan politiknya, Edwin Stanton, sebagai menteri perang.

Padahal Stanton pernah menghina Lincoln. Lincoln juga menunjuk Salmon P. Chase, yang suka mengkritik Lincoln, sebagai menteri keuangan. Michael Session (18 tahun) mungkin saja menjadi remaja paling beruntung di Amerika Serikat, bahkan dunia, pada tahun 2005 dia terpilih dalam pemilihan walikota Hillsdale, Michigan, AS. Hebatnya, Michael Session hanya unggul dua suara dari incumbent Doug Ingles (51).

Namun, semangat kejujuran dan sportivitas itu, yang biasanya mereka junjung tinggi, kelihatannya mulai tergerus dalam pilpres kali ini, setidaknya itu ditunjukkan oleh sikap para calon kandidat Partai Republik, seperti Donald Trump, John Kasich, Ted Cruz, Scott Walker, Jeb Bush, dan Rend Paul. Padahal sebelumnya, pada bulan Agustus 2015 lalu, sebagaimana diberitakan berbagai media, semua calon kandidat sepakat akan mendukung siapapun diantara mereka yang mendapatkan "perahu" Partai Republik.

Penyebab perubahan sikap tersebut konon karena merasa diperlakukan tidak adil oleh petinggi partainya, dan terjadinya persaingan yang ketat di antara calon kandidat, sehingga membuat rasa sakit hati diantara sesama mereka. Ted Cruz misalnya, secara terang-terangan menyatakan tidak akan mendukung Donald Trump seandainya Donal Trump memenangkan konvensi Partai Republik. Alasanya, karena Donald Trump menyerang dan menyebarkan berita bohong tentang istri dan keluarganya.

Adakah ini pembusukan politik sebagai disebut oleh Francis Fukuyama dalam bukunya "Political Order And Political Decay" (2014), yang jamak terjadi disini sekarang juga mewabah ke negeri Obama, atau sebaliknya? Ternyata oh ternyata.

kolom - Riau Pos 4 April 2016
Tulisan ini sudah di baca 461 kali
sejak tanggal 04-04-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat