drh. Chaidir, MM | Zaskia Gotik
 | PEDANGDUT Zaskia Gotik kali ini tak mengirim sensasi goyang itik kepada penggemarnya. Padahal goyang itulah yang ditunggu. Goyang itik telah menjadi trademark Zaskia. Demikian khasnya goyang tersebut sampai nama aslinya, Zaskia Shinta kini lebih dikenal sebagai Zaskia Gotik (Goyang Itik). Namun dala
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Zaskia Gotik

Oleh : drh.chaidir, MM

PEDANGDUT Zaskia Gotik kali ini tak mengirim sensasi goyang itik kepada penggemarnya. Padahal goyang itulah yang ditunggu. Goyang itik telah menjadi trademark Zaskia. Demikian khasnya goyang tersebut sampai nama aslinya, Zaskia Shinta kini lebih dikenal sebagai Zaskia Gotik (Goyang Itik). Namun dalam beberapa hari terakhir ini bukan goyang itik yang menjadi buah bibir. Tanpa diduga, Zaskia tersandung kerikil akibat gurauannya yang overdosis.

Andai gurauannya itu hanya menyangkut pribadi orang lain, mungkin Zaskia Gotik hanya terkena pasal pencemaran nama baik. Tapi selebritis kita ini berurusan dengan negara, yang kekuasaannya digambarkan oleh filsuf Thomas Hobbes sebagai sosok monster Leviathan yang menakutkan. Zaskia Gotik tersandung gurauan berlebihan dalam sebuah acara musik stasiun televisi swasta yang ratingnya di tanah air cukup tinggi; artinya, acara ini ditonton banyak orang. Dia dianggap menghina negara, ketika menyebut lambang sila kelima Pancasila, yang seharusnya padi dan kapas, diganti dengan sesuatu yang sangat tidak pantas. Kesalahan berikutnya menulis tanggal 32 Agustus untuk Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Zaskia Gotik mencoba mencari pembenaran dengan mengaku, ia hanya tamat Sekolah Dasar, namun, rasanya perihal lambang dan tanggal tersebut mustahil tidak dipahami oleh seorang public figure. Tak pelak, Zaskia Gotik pun di-bully kiri-kanan bahkan diadukan ke kepolisian. Menyadari kekeliruannya, Zaskia Gotik minta maaf secara terbuka, menyesali perbuatannya. Bahkan dia dengan raut wajah memelas menyatakan siap bila harus dipenjara untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Apa boleh buat, nasi sudah jadi bubur. Zaskia tentu tidak paham bahwa salah satu karakter komunikasi verbal itu bersifat irreversible, tak bisa ditarik, seribu kali pun permintaan maaf dibendangkan ke langit.

Zaskia menjadi bulan-bulanan tapi Zaskia "mengirim" pesan, bahkan banyak pesan kepada bangsanya. Sementara, lupakan dulu sensasi goyang itik yang memabukkan itu. Zaskia telah membuka kontak Pandora yang berisi berbagai keburukan, dan sayangnya keburukan itu bukan semata miliknya, tapi milik kita bersama, milik bangsa. Sensasi kealpaan Zaskia telah membentuk persepsi dan selanjutnya secara spontan membangun berbagai interpretasi.

Zaskia salah Zaskia dihukum itu urusan pengadilan, tapi rasanya kita harus berterima kasih pada pedangdut ini yang secara tidak sengaja telah menyebabkan keburukan itu berhamburan ke luar. Bangsa ini ternyata masih banyak "PR". Zaskia secara tidak sengaja telah memperkuat sinyal, bahwa pendidikan karakter bangsa pada tingkat pendidikan dasar kita sangat lemah. Pendidikan karakter yang menjadi pesan penting dalam mata pelajaran Pancasila pada tingkat pendidikan dasar telah terabaikan. Permasalahan pendidikan dasar kita tak ubahnya ibarat gunung es; hanya sebagian kecil yang tampak di permukaan, selebihnya gelap. Bahwa, pendidikan dasar kita ternyata, kaya dalam instrumental tetapi lemah dalam substansi pembangunan karakter.

Dan itu dampaknya luas kemana-mana, sistemik. Maka, budaya masyarakat yang terbentuk tidak seperti yang diharapkan karena bermasalah dalam mutu bahan bakunya. Masyarakat kita sering irrasional, dibuai mimpi-mimpi untuk segera terkenal, segera menjadi bintang, segera kaya, ingin bebas sebebas-bebasnya, tapi lemah dalam kompetensi, komunikasi, karakter dan komitmen. Norma-norma bersama menjadi goyah. Dan kita dimanjakan pula oleh lingkungan, seperti berbagai iklan dan siaran televisi. Celoteh-celoteh presenter "variety show" televisi yang memikat, sering permissive atau memberi toleransi pada keburukan dan pada sisi lain menyudutkan dan menertawakan ketertiban, keteraturan dan kedisiplinan sebagai sesuatu yang kuno. Jadi Zaskia, kekeliruan Anda telah membangunkan sebuah kesadaran. Selalu ada hikmah di balik musibah. Hapuslah air matamu.

kolom - Riau Pos 28 Maret 2016
Tulisan ini sudah di baca 668 kali
sejak tanggal 28-03-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat