drh. Chaidir, MM | Kabinet Baru | PERDANA Menteri Inggris yang baru, David Cameron, patut diacungi jempol. Bukan karena dia memenangkan partainya dalam pemilu di Inggris. Bukan pula karena dia menggandeng sang pecundang Nick Clegg, pimpinan Partai Liberal Demokrat untuk berkoalisi membentuk pemerintahan. Applaus patut diberikan kare
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Kabinet Baru

Oleh : drh.chaidir, MM

PERDANA Menteri Inggris yang baru, David Cameron, patut diacungi jempol. Bukan karena dia memenangkan partainya dalam pemilu di Inggris. Bukan pula karena dia menggandeng sang pecundang Nick Clegg, pimpinan Partai Liberal Demokrat untuk berkoalisi membentuk pemerintahan. Applaus patut diberikan karena David Cameron berani mengangkat Sayeeda Warsi sebagai Menteri. Inilah untuk pertama kalinya sepanjang sejarah, Inggris memiliki seorang Menteri muslimah. Rrrrruar biasa.

Tapi, stop, jangan dulu buru-buru "Ge-er". Inggris, seperti sukutunya, Amerika Serikat, tetap saja sebuah negara sekuler. Urusan pemerintahan tak ada sangkut pautnya dengan urusan agama. Sayeeda Warsi memang sudah lama menjadi Wakil Ketua Partai Konservatif mendampingi David Cameron. Ketika David Cameron memenangkan kursi Perdana Menteri Inggris, ketua partai kemudian diserahkannya kepada Sayeeda Warsi, ditambah Jabatan Menteri Negara. Tapi Sayeeda Warsi memang bukan orang sembarangan, dia seorang ahli hukum yang sudah punya nama di Inggris.

Presiden John F. Kennedy (Presiden AS yang ke-35; periode 1960-1963) mengangkat Robert F. Kennedy (Bobby) sebagai Jaksa Agung, jabatan yang amat prestisius di AS. Padahal Bobby ketika itu baru berusia 35 tahun, dan adik kandung dari sang presiden flamboyan, John F. Kennedy. Kenapa rakyat AS diam saja seperti kerbau dicocok hidung ketika presidennya melakukan praktik nepotisme? Kalau di kampung kita, mungkin sudah ribut tujuh hari tujuh malam, dan waktu takkan cukup untuk bersitegang urat leher.

Masalahnya, semangat para penguasa kita untuk membangun pemerintahan dinasti, masih terperangkap pada atribut keluarga, Tim Sukses, SARA, dan sebagainya, bukan pada merit system. Atribut-atribut tersebut mengalahkan pertimbangan lain, padahal terpercaya saja tidak cukup. Seseorang diangkat masuk dalam jajaran kabinet, di samping terpercaya juga mutlak harus memiliki kapabilitas yang teruji. David Cameron dan John F. Kennedy tidak memandang atribut dimaksud. Sayeeda Warsi memang patut. Bobby pula, lulus dengan cumlaude dalam ilmu hukum di perguruan tinggi paling bergengsi di dunia, Harvard University.

Presiden John F. Kennedy tidak salah pilih. Bobby menjadi pengkritik utama abangnya. Tak ada laporan "Asal Bapak Senang". Dengan sikapnya yang tanpa kompromi terhadap kekuasaan, Bobby menjadi suara dan hati nurani pemerintahan dalam urusan hak-hak warga negara. Bobby memberi abangnya sesuatu yang sangat diperlukan bagi seorang pemimpin, yakni seorang pembantu dekat dan setia yang akan memberi Anda nasihat yang bebas apa adanya tanpa memandang apakah Anda menyukainya atau tidak (John A. Barnes, Gramedia, 2007).

Pekan lalu, Riau menyegarkan kabinetnya, ada yang pensiun, ada yang rotasi, ada pula wajah baru. Bagi rakyat pemilik kedaulatan, hal itu tak ada bedanya. Yang penting, hak-hak mereka tak terabaikan. Semoga saja ada yang mampu menjaga roh pemerintahan, sebab ikhtiar apapun yang kita lakukan, semua demi kepentingan rakyat dan nasibnya.

kolom - Riau Pos 17 Mei 2010
Tulisan ini sudah di baca 1249 kali
sejak tanggal 17-05-2010

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat