drh. Chaidir, MM | Berebut Panggung | BILA anggota DPR berdebat (sekarang lebih nyaman disebut bertengkar) antar sesama, itu biasa, sebab mereka memang dipilih untuk menyarakan kepentingan konstituennya, kadang harus bersitegang urat leher. Yang tidak boleh itu, asbun atau ngotot melabrak tata-tertib atau melebihi etika sopan santun. DP
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berebut Panggung

Oleh : drh.chaidir, MM

BILA anggota DPR berdebat (sekarang lebih nyaman disebut bertengkar) antar sesama, itu biasa, sebab mereka memang dipilih untuk menyarakan kepentingan konstituennya, kadang harus bersitegang urat leher. Yang tidak boleh itu, asbun atau ngotot melabrak tata-tertib atau melebihi etika sopan santun. DPR memang panggung politik. Para anggotanya harus tampil atraktif membela kepentingan rakyat, sehingga menaikkan eksistensi diri sang anggota dan nama partai yang diwakilinya.

Tapi bila yang bertengkar antar sesama itu adalah para menteri kabinet (dan di depan publik pula), tentu menjadi tanda tanya, bahkan segudang tanya; kenapa sampai begitu, Masbro? Berebut panggungkah Tuan-Tuan? Atau berebut pengaruh? Atau demi eksistensi? Ataukah sekedar cari muka, agar terlihat militan sebagai pembantu presiden? Atau, barangkali ada yang merasa tak sudi kehilangan muka.

Para menteri yang bertengkar pasti sangat tahu (atau mungkin lupa karena tersulut emosi?), bahwa paradigma one man show, atau supermen, sudah lama ditinggalkan karena sudah basi. Sekarang eranya bergerak bersama bahu-membahu, saling isi-mengisi dalam sebuah super team. Para menteri kabinet mestinya berada dalam sebuah super team dengan semangat gotong royong dan kekeluargaan, berat sama dipikul ringan sama dijinjing, ke bukit sama mendaki ke lurah sama menurun.

Memang, orang berkomunikasi untuk menunjukkan dirinya eksis. Inilah yang disebut aktualisasi diri atau eksistensi diri. Pakar komunikasi Prof Deddy Mulyana menyebut, ungkapan filsuf Prancis Rene Descartes (1596-1650) yang terkenal, "Cogito Ergo Sum" ("Saya berpikir maka saya ada"), sering dimodifikasi menjadi "Saya berbicara maka saya ada". Bila kita berdiam diri, orang lain akan memperlakukan kita seolah-olah kita tidak eksis. Mungkin para menteri kita yang bertengkar itu, sangat menyukai bulat-bulat plesetan dari Prof Deddy Mulyana itu, sehingga dimana saja kapan saja pantang disentuh walau oleh "sesama bis kota" sekali pun; sang menteri langsung bereaksi pasang kuda-kuda.

Kita tentu boleh bertanya, tidakkah ada metoda komunikasi yang lebih lembut dan santun yang bisa dilakukan sebagai ciri bahwa kita makhluk si pemikir? Rasanya, ada banyak pilihan untuk membangun komunikasi di antara sesama "All President Men". Tak nyaman dengan cara verbal lisan gunakan tulisan (melalui WA, BBM, SMS, dan sebagainya), bila juga kurang nyaman, gunakan cara nonverbal atau bahasa tubuh. Saling jabat tangan hangat erat, saling tatap penuh persahabatan, saling lempar senyum tanda saling paham; bila demikian, tak mungkinlah makhluk sekaliber menteri akan bertepuk sebelah tangan.

Secara logika akal sehat mestinya tak ada hambatan dan tak boleh ada hambatan komunikasi antara sesama menteri, sebab Presiden Jokowi sendiri sudah memberi contoh bagaimana seorang pemimpin bersikap egaliter dan sederhana. Tentu tak patut bila ada menteri yang sangat egois dan nge-bossi; presidennya saja tidak begitu. Lantas, gerangan makhluk halus apa yang mempengaruhi, sehingga Presiden Jokowi sampai harus marah mendengar menterinya saling bertengkar di ruang publik. Presiden bahkan sampai meminta, jika ada perbedaan pandangan sebaiknya diselesaikan di internal kabinet. Kasihan Presiden sebuah negeri yang jumlah penduduknya empat besar dunia ini, harus ngurusi persoalan-persoalan elementer seperti itu.
Barangkali sudah saatnya kabinet memiliki code of conduct (kode etik) seperti yang dimiliki oleh DPR.

kolom - Riau Pos 7 Maret 2016
Tulisan ini sudah di baca 511 kali
sejak tanggal 07-03-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat