drh. Chaidir, MM | Sifat Rendah Hati | SETAHUN kepergian budayawan Tenas Effendy, sahabat handai taulan jauh dan dekat yang berada di rantau Riau dan semenanjung melakukan bedah buku mengkaji buah pikirannya yang tertuang dalam berbagai buku. Salah satu karyanya yang menjadi master peace atau karya agung adalah
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Sifat Rendah Hati

Oleh : drh.chaidir, MM

SETAHUN kepergian budayawan Tenas Effendy, sahabat handai taulan jauh dan dekat yang berada di rantau Riau dan semenanjung melakukan bedah buku mengkaji buah pikirannya yang tertuang dalam berbagai buku. Salah satu karyanya yang menjadi master peace atau karya agung adalah "Tunjuk Ajar Melayu (Butir-Butir Budaya Melayu Riau)" yang dirangkum dalam sebuah buku molek yang diterbitkan oleh Penerbit AdiCita Yogyakarta (2004).

Buku tersebut sangat lengkap, memuat ungkapan-ungkapan tunjuk ajar atau nasihat yang berkaitan dengan semua aspek kehidupan, seperti ketaatan beragama, ketaatan kepada ibu dan bapa, ketaatan terhadap pemimpin, sifat amanah, keadilan dan kebenaran, keutamaan menuntut ilmu, rasa tanggung jawab, kerja keras, keikhlasan, kejujuran, keberanian, kerendahan hati, dan sebagainya.

Salah satu sifat terpuji dalam tunjuk ajar Melayu karya Tenas Effendy adalah sifat rendah hati. Orang tua-tua mengatakan, "adat Melayu merendah selalu." "Merendah" yang dimaksud di sini ialah merendahkan hati, bermuka manis, dan berlembut lidah. Sifat rendah hati adalah cerminan dari kebesaran hati, ketulus-ikhlasan, tahu diri dan menghormati orang lain. Orang yang rendah hati dalam perilaku sehari-hari terlihat sederhana, tidak pamer kekayaan, tidak pamer pangkat, pamer kedudukan, juga keturunan.

Sebaliknya orang yang tinggi hati lazim memamerkan kekayaan, pangkat, kekuasaan, kedudukan, dan keturunan, sehingga bila berkata, meninggi, besar kepala, sombong, pongah, besar mulut, tak tahu diri, memandang rendah orang lain, dan sebagainya. Orang seperti ini, menurut Tennas Effendy, tak disenangi dalam masyarakat, bahkan mereka diejek serta direndahkan dalam pergaulan. Mereka yang tinggi hati ini disebut, "siapa suka berlagak sombong, dadanya hampa kepalanya kosong." Sebaliknya orang yang rendah hati disanjung, dipuji, dan dihormati oleh masyarakatnya.

Semangat rendah hati itu dinasihatkan oleh orang tua-tua Melayu dalam tunjuk ajar berikut:
"Wahai Ananda buah hati bunda
janganlah suka mengada-ada
pantangkan olehmu menepuk dada
supaya hidupmu tiada tercela

Wahai Ananda dengarlah petuah
jauhi sifat sombong dan pongah
bergaullah dengan hati merendah
supaya hidupmu beroleh berkah."

Selanjutnya tentang rendah hati itu disebutkan, "rendah hati kerja menjadi/rendah hati hidup terpuji/rendah hati jauhlah keji/rendah hati elok pekerti/rendah hati jauhlah dengki/rendah hati lenyaplah iri/rendah hati bertuah diri." Sebaliknya terhadap orang yang tinggi hati diingatkan, "kalau hidup besar kepala/lambat laun ditimpa bala/kalau hidup bersifat angkuh/lambat laun kena pelupuh/kalau hidup meninggi-ninggi/muka belakang orang membenci..."

Pekan lalu, kita diberi iktibar oleh perilaku Ivan Haz (anggota DPR) dan Menteri Marwan Jafar, yang tersiar dalam berbagai media konvensional dan online, keduanya memberi contoh komunikasi interpersonal yang buruk dengan berperilaku arogan. Agaknya mereka belum baca tunjuk ajar Tennas Effendy, "bila hidup melagakkan pangkat/alamatlah hidup takkan selamat" atau mungkin mereka khilaf. Tapi, Ivan Haz dan Marwan Jafar barangkali tak bersendirian, bukankah arogansi seperti itu sekarang jamak terlihat di sekitar kita? Jangan-jangan kita pun menjadi salah satu daripadanya. Namun, usahlah galau, sebanyak-banyak yang arogan, yang tidak arogan pasti lebih banyak. Kuncinya: introspeksi, Masbro.

kolom - Riau Pos 29 Februari 2016
Tulisan ini sudah di baca 680 kali
sejak tanggal 29-02-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat