drh. Chaidir, MM | LGBT dan Domba | MANUSIA secara fisik mirip dengan kera, bahkan kelakuannya pun hampir sama: kepo, iseng, rakus, libido tinggi, suka kawin, beberapa diantaranya biseksual, suka makan pisang dan sebagainya. Barangkali karena terpengaruh kemiripan itu, Tuan Charles Darwin (1859) mengemukakan sebuah Teori Evolusi, bahw
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

LGBT dan Domba

Oleh : drh.chaidir, MM

MANUSIA secara fisik mirip dengan kera, bahkan kelakuannya pun hampir sama: kepo, iseng, rakus, libido tinggi, suka kawin, beberapa diantaranya biseksual, suka makan pisang dan sebagainya. Barangkali karena terpengaruh kemiripan itu, Tuan Charles Darwin (1859) mengemukakan sebuah Teori Evolusi, bahwa manusia itu berasal dari kera.

Namun Teori Evolusi Darwin itu dibantah oleh para ilmuwan melalui pendekatan ilmiah, antara lain dari jumlah chromosom. Chromosom adalah pembawa gen (faktor keturunan) yang terdapat di dalam inti sel (nukleus). Dalam ilmu biologi dipahami, satuan terkecil dari makhluk hidup adalah sel. Segala aktivitas sel diatur oleh inti sel. Di dalam inti sel, terkandung substansi genetik yang dikenal sebagai chromosom, begitulah kira-kira.

Chromosom individu pada species yang sama mempunyai jumlah yang sama, misalnya gorilla, orangutan, simpanse, kera, chromosomnya sama, yaitu 24 pasang sehingga berjumlah 48. Manusia berkerabat dekat dengan kera atau orangutan, hanya memiliki 23 pasang chromosom sehingga chromosomnya berjumlah 46. Tapi walaupun jumlah chromosomnya lebih sedikit, manusia memiliki akal budi. Dalam hal akal ini, terlihat adanya jurang yang besar antara kera dan manusia, tak terhubungkan oleh daya pikir. Perbedaan ini tidak bisa dijelaskan oleh para ahli, sehingga untuk mudahnya disebut mata rantai yang hilang (missing link).

Namun, kendati kera dikenal sebagai species yang suka seks dan umumnya memiliki libido yang lebih tinggi dari manusia, dalam masalah LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender), manusia tak tertandingi oleh kera. Uniknya, para ilmuwan sejauh ini justru berpendapat, bahwa hanya ada dua jenis makhluk bertulang belakang yang memperlihatkan adanya kelompok yang memiliki perilaku homoseksual sepanjang hidup, bahkan ketika ada pasangan lain jenis yang tersedia, yaitu manusia dan domba piaraan (Ovis aries).

Padahal domba yang memiliki chromosom sebanyak 29 pasang sehingga berjumlah 58, lebih berjarak dengan manusia ketimbang dengan kera. Dalam "Are there any homosexual animals?"(Adakah homoseksual pada binatang?) di BBC Earth (google.com), sebuah statistik memperlihatkan, dalam satu kelompok domba, 8% jantan lebih memilih kawin dengan jantan lain, meski di sekitar mereka tersedia betina yang sedang subur. Pada 1994 diketahui bahwa otak-otak pejantan ini ternyata berbeda dengan pejantan lain. Bagian otak mereka yang disebut hypothalamus - yang yang mengontrol pelepasan hormon seks - lebih kecil dibandingkan hypothalamus domba heteroseksual. Dengan kata lain, domba LGBT memiliki hypothalamus yang lebih kecil.

Kajian senada dari Simon LeVay (1991) menyebutkan banyak hewan yang senang untuk terlibat seks dengan rekan sesama jenis kelamin, tapi hanya manusia yang tercatat sebagai 'homoseksual sebenarnya'. Adakah manusia meniru hewan atau hewan meniru manusia? Namun, bila penyebaran binatang di bumi ini milyaran tahun lampau dilakukan pada hari Kamis, dan Manusia Pertama Adam AS diturunkan ke bumi pada hari Jumat, maka LGBT pada hewan kelihatannya lebih tua dari sejarah manusia.

Lantas? Kita tahu LGBT itu antara ada dan tiada di sekeliling kita dan menjadi bagian dari masyarakat. Yang membuat kita kebakaran jenggot adalah alokasi dana dari badan PBB, UNDP sebesar 8 juta dolar AS (sekitar Rp 100 milyar lebih) untuk program advokasi LGBT di Indonesia, Thailand, Filipina dan China. Sebenarnya tanpa gerakan yang dimobilisasi pun LGBT di negeri ini tak pernah diganggu bila tidak mengganggu ketertiban umum. Kenapa PBB bikin kegaduhan yang tak perlu? Kadang di situ aku merasa sedih.

kolom - Riau Pos 22 Februari 2016
Tulisan ini sudah di baca 647 kali
sejak tanggal 22-02-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat