drh. Chaidir, MM | Mulutmu Harimaumu | PAKAR komunikasi Dale Carnegie agaknya tidak berlebihan ketika menyebut,
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Mulutmu Harimaumu

Oleh : drh.chaidir, MM

PAKAR komunikasi Dale Carnegie agaknya tidak berlebihan ketika menyebut, "kita dinilai setiap hari dari apa yang kita ucapkan" (We are judged every day by our speech). Dari cara seseorang berkomunikasi akan terlihat, apakah seseorang itu terpelajar atau tidak. Kita bahkan sering diingatkan oleh orang tua-tua, hati-hati bila bicara, "mulutmu harimaumu". Maknanya mudah dipahami, ucapan kita bisa mencelakakan diri kita sendiri.

Hakikat komunikasi adalah proses pernyataan pesan antar manusia dalam bentuk isi pikiran, ide, gagasan, pendapat, dan/atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa. "Bahasa" adalah alat penyampai pesan. Dalam proses komunikasi, ucapan atau pernyataan dinamakan pesan, orang yang menyampaikan pesan disebut komunikator, sedangkan orang yang menerima pesan dinamakan komunikan. Dengan demikian secara sederhana, komunikasi berarti proses penyampaian pesan oleh komunikator pada komunikan dengan maksud dan tujuan tertentu.

Walaupun komunikasi itu sederhana, miskomunikasi alias salah komunikasi sering terjadi dalam masyarakat kita. Salah komunikasi akan menimbulkan salah persepsi. Selanjutnya, salah persepsi akan menimbulkan salah interpretasi, dan pada gilirannya, salah interpretasi akan menimbulkan salah paham (misunderstanding). Dan bila salah paham itu terjadi dalam skala luas di tengah masyarakat, maka akan timbul krisis kepercayaan dan penurunan citra.

Namun komunikasi memiliki perilaku yang agak aneh. Joseph A. DeVito (1997), dalam buku Komunikasi Antarmanusia, menyebut, komunikasi berifat tidak reversible (irreversible). Artinya, komunikasi itu tidak bisa diubah seperti kita mengubah air menjadi es, dan es kemudian bisa diubah kembali menjadi air, diulang kembali jadi es, bisa dulang bolak-balik sesuka hati. Komunikasi menurut DeVito, prosesnya hanya bisa berjalan dalam satu arah, tidak bisa berbalik. Kita misalnya, dapat mengubah durian menjadi lempuk, tetapi kita tidak bisa mengembalikan lempuk menjadi durian. Atau, kita bisa mengubah beras menjadi bubur, tapi kita tak bisa mengubah bubur kembali menjadi beras.

Sekali kita mengkomunikasikan sesuatu, maka komunikasi telah terjadi. Kita dapat berusaha mengurangi dampak dari pesan yang sudah terlanjur kita sampaikan, misalnya dengan mengatakan, "Saya sedang galau waktu itu; saya tidak benar-benar bermaksud mengatakan seperti itu." Tetapi apapun yang kita lakukan untuk mengurangi atau meniadakan dampak dari pesan kita, pesan itu sendiri telah terkirimkan dan diterima oleh komunikan, tak lagi bisa dibalikkan.

Pernyataan Effendi Simbolon, Anggota Komisi I DPR RI yang mengatakan bahwa demokrasi tanpa idealisme adalah "demokrasi ala Melayu", yang menuai banyak kecaman dari masyarakat Melayu, dalam konsep komunikasi DeVito, bersifat irreversible (permanen, tak bisa lagi ditarik). Analogi yang digunakan untuk menggambarkan politik tanpa idealisme itu, agaknya memang sangat lemah. Mungkin maksudnya "pribumi"? Kalaupun maksudnya "pribumi", hanya penjajah Belanda yang dengan sukacita menyebut pribumi itu Melayu dan Simbolon bukan Belanda. Apa hendak dikata, nasi sudah jadi bubur. Simbolon hanya bisa mengurangi dampaknya dengan minta maaf, tak ada lagi upaya lain. Sebab pesan itu sifatnya irreversible. Mulutmu harimaumu.

kolom - Riau Pos 15 Februari 2016
Tulisan ini sudah di baca 490 kali
sejak tanggal 15-02-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat