drh. Chaidir, MM |  Pentas Sastrawan dan Usahawan | BEBERAPA tokoh yang dekat dengan media di rantau ini, yang menjadi saksi sejarah terbitnya sebuah koran daerah, Riau Pos seperempat abad silam, pasti tak mengira koran ini akan tumbuh menjadi gergasi media pers seperti sekarang. Sebut saja Prof Tabrani Rab, Prof Suwardi MS, Prof Muchtar Ahmad, Ahmad
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Pentas Sastrawan dan Usahawan

Oleh : drh.chaidir, MM

BEBERAPA tokoh yang dekat dengan media di rantau ini, yang menjadi saksi sejarah terbitnya sebuah koran daerah, Riau Pos seperempat abad silam, pasti tak mengira koran ini akan tumbuh menjadi gergasi media pers seperti sekarang. Sebut saja Prof Tabrani Rab, Prof Suwardi MS, Prof Muchtar Ahmad, Ahmad Bebas, Syawal Sutan Diatas, OK Nizami Djamil, Djauzak Ahmad, wartawan senior Mulyadi, Makmur Hendrik, dan tokoh muda yang sedang naik daun ketika itu, Drs Ruskin Har. Alasannya sederhana dan logis. Surat kabar belum menjadi kebutuhan masyarakat umum, kecuali bagi segelintir elit politik dan pemerintahan.

Paradigma pemerintahan yang sentralistis dan kehidupan pers yang bebas dan bertanggung jawab yang dibingkai oleh undang-undang pokok pers ketika itu, memang tak membuat media pers bisa berkembang dengan baik dan sehat, apalagi di daerah. Bukankah gubernur kepala daerah adalah penguasa tunggal? Telepon di meja redaksi bila-bila masa bisa berdering dari seberang sana, berupa permintaan (baca: perintah) untuk dimuat atau tidak dimuatnya sebuah berita. Alasannya: demi stabilitas nasional. Tak ada yang berani melawan jampi-jampi itu. Maka media di daerah tak lebih seperti perpanjangan tangan humas kantoran. Maka jadilah koran daerah seperti kerakap tumbuh di batu, hidup enggan mati tak mau.
Market intelligence untuk mempelajari perilaku pasar, tak perlu secanggih seperti sekarang. Pelanggan sangat terbatas. Loper koran cukup pakai kereta angin alias sepeda ontel. Oplag bisa dihitung dengan jari dan kantong celana Rida K Liamsi, pendiri Riau Pos pasti terlalu besar untuk menampung uang hasil penjualan koran. Dengan gambaran pasar yang demikian, tak ada yang mau berkompetisi. Tak ada pesaing pun koran tersengal-sengal mencicil hutang ongkos cetak yang semakin membengkak.

Oleh karenanya wajar bila bisnis penerbitan koran di daerah dipandang seperempat abad lalu sebagai bisnis yang tak menjanjikan, tak memiliki prospek. Orang daerah tak akan ada yang sanggup bersaing dengan raja-raja media dari Jakarta, baik menyangkut teknologi dan sumber daya manusia, apatah lagi menyangkut permodalan. Apalagi kalangan wartawan khususnya di Riau ketika itu banyak yang berlatar belakang sastrawan, termasuklah Rida K Liamsi. Stigma sastrawan mudah diraba, idealis dan tak terlalu ambil pusing dengan keuntungan penjualan koran, tetek-bengek iklan, dan sebagainya.
Maka, banyak yang terkesima ketika sastrawan Rida K Liamsi berhasil membangun kerajaan bisnis media yang besar dan menggurita seperti kita saksikan hari ini, tidak hanya di Riau tapi berkembang subur di daerah-daerah lain. Gedung bertingkat Graha Pena berdiri di berbagai kota. Bahkan di Kota Batam, Riau Pos tidak hanya membangun gedung bertingkat, tapi juga berhasil mendirikan sebuah lembaga pendidikan entrepreneur yang bergengsi dan diperhitungkan. Zaman memang sudah berubah. Tapi pastilah tidak mudah. Pasti tidak mudah menggabungkan pentas sastrawan dan usahawan dalam satu panggung. Kita bersimpati terhadap kesulitan kontemplatif yang dihadapi oleh Rida K Liamsi ketika harus memainkan aransemen kolaboratif menggabungkan panggung puisi dan bisnis sekaligus seperti itu, dua hal yang sesungguhnya tak bersahabat.

Oleh karenanya, seperempat abad Riau Pos mengirim banyak pesan kepada kita. Tak ada kejayaan sebuah usaha tanpa kompetensi yang bagus, karakter terpuji dan komitmen yang dahsyat. Tidak hanya itu, seperti yang sudah ditunjukkan oleh Rida K Liamsi dan kawan-kawan, semangat ini diharapkan menjadi motivasi bagi generasi muda kita, sehingga muncul ribuan Rida K Liamsi di rantau ini.

Pesan lain, bisnis media hanya akan tumbuh berkembang di tengah kehidupan demokrasi yang semakin sehat dimana keterbukaan informasi bukan basa-basi. Dengan demikian media pers bisa mengukuhkan dirinya sebagai kekuasaan keempat setelah eksekutif, legislatif dan yudikatif. Dan tetap berpihak pada kepentingan perjuangan agar rakyat memperoleh keadilan dan haknya. Syabas Riau Pos.

kolom - Riau Pos 24 Januari 2016
Tulisan ini sudah di baca 342 kali
sejak tanggal 24-01-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat