drh. Chaidir, MM | Tahun-Tahun Kelam | OBLIVIONE sempiterna delendam. Biarlah masa silam yang kelam itu tenggelam dalam tidurnya abadi. Begitu filsuf Romawi, Cicero, mengekspresikan perasaannya  ketika menyaksikan Roma hangus terbakar lautan api akibat perang angkara murka. Masa lalu biarlah berlalu, begitu kemudian kita menyebut. Tahun-
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Tahun-Tahun Kelam

Oleh : drh.chaidir, MM

OBLIVIONE sempiterna delendam. Biarlah masa silam yang kelam itu tenggelam dalam tidurnya abadi. Begitu filsuf Romawi, Cicero, mengekspresikan perasaannya ketika menyaksikan Roma hangus terbakar lautan api akibat perang angkara murka. Masa lalu biarlah berlalu, begitu kemudian kita menyebut. Tahun-tahun yang telah pergi memang tak akan pernah lagi kembali selamanya.
Oleh karena itulah sebuah masa lalu yang gilang gemilang tak lebih baik dari hari esok (yang betapapun kelamnya), sebab kita masih hidup dan masih punya harapan, dan tentu, masih ada kemungkinan tetap eksis, bila kita menemukan cara tepat untuk menyiasatinya. Bukankah kita tidak hidup untuk hari kemarin, tetapi untuk hari ini dan hari esok? Namun sejarah masa lalu tetaplah menjadi cermin tempat kita mengaca diri.
Kita semua mafhum, tidak ada lautan api yang menghanguskan desa atau membakar kota di tahun 2015 yang baru kita lewati. Tapi musibah kabut asap yang melanda Sumatera, Kalimantan dan Papua, tak ubahnya negeri ini seperti lautan api. Kabut asap tersebut telah menimbulkan kerugian besar bagi bangsa Indonesia, tidak hanya pada kerugian material yang disebut lebih dari 200 triliun rupiah, tapi juga demoralisasi dalam kehidupan berbangsa, runtuhnya kepercayaan terhadap cabang-cabang kekuasaan negara.
Cabang-cabang kekuasaan negara (eksekutif-legislatif-yudikatif) seakan tak berdaya menggunakan pedang kekuasaan yang berada di tangannya. Entah tidak tahu atau pura-pura tidak tahu cara menggunakannya. Atau, mereka telah menggunakannya menurut cara mereka sendiri, didorong oleh syahwat kekuasaan, tak ubahnya seperti Don Quixote menghajar menara kincir angin dengan pedangnya karena mengira itulah penjahat yang harus ia tumpas, padahal ajudannya sudah mengingatkan itu bukan penjahat yang dicari. Akibatnya, Don Quixote yang keras kepala terpental terguling-guling, babak-belur.
Kabut asap yang melanda Indonesia di tahun 2015 lalu mengingatkan kepada kita bahwa setelah sekian lama menghadapi masalah yang sama, cabang kekuasaan kita ternyata tak menemukan solusi yang tepat, tak menemukan cara yang mangkus, padahal menghabiskan anggaran milyaran rupiah setiap tahun. Maka jangan salahkan bila sakwasangka tumbuh subur, bahwa cabang kekuasaan kita ikut menangguk di air keruh. Sebab ternyata oh ternyata, akhirnya hujan dari langit jualah yang meredakan asap.
Lain perangai asap, lain pula perangai ‘makhluk’ yang bernama korupsi. Oknum-oknum yang sedang berada di singgasana cabang-cabang kekuasaan negara kita tak jera-jera. Klimaks lautan api korupsi 2015 adalah kasus "Papa Minta Saham" yang menghanguskan negeri. Kasus ini menyadarkan kita, bahwa virus korupsi telah menyebabkan penyakit sistemik stadium tiga, karena telah merasuk ke cabang-cabang kekuasaan negara. Kolusi, konspirasi, kongkurensi bercampur aduk jadi satu, anehnya semua berdalih demi negara dan rakyat.
Sebenarnya ada "cabang kekuasaan keempat negara" di samping tiga cabang kekuasaan (Trias Politica Montesqiu), seperti sering disebut, yakni media pers. Ketika tiga cabang kekuasaan negara merana karena mengidap penyakit menahun parah, media perslah yang diharapkan membela kepentingan rakyat. Tapi cabang kekuasaan keempat ini pun terperangkap pula dalam perilaku dunia industri yang kejam: persaingan. Banyak segi dan strategi dipertaruhkan demi memenangkan persaingan dan bertahan hidup. Akibatnya, benturan kepentingan tak terelakkan.
Lalu, ke cabang kekuasaan mana lagi rakyat pemilik kedaulatan mengadu minta perlindungan? Ah, biarlah itu jadi pertanyaan di tahun kelam masa silam. Tahun ini dan ke depan tak boleh lagi ada pertanyaan serupa. Kita harus lebih baik, kan Bro?


kolom - Riau Pos 4 Januari 2016
Tulisan ini sudah di baca 339 kali
sejak tanggal 04-01-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat