drh. Chaidir, MM | Politik Opera Sabun | TAHUN 2015 tinggal menghitung hari, selanjutnya berlalu memasuki bilik sejarah dan selamanya tak akan lagi pernah kembali sampai dunia kiamat kelak. Memang banyak sejarawan menyebut, bahwa sejarah selalu berulang, history repeat itself. Tapi itu menyangkut peristiwa-peritiwa sejarah, misalnya sebuah
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Politik Opera Sabun

Oleh : drh.chaidir, MM

TAHUN 2015 tinggal menghitung hari, selanjutnya berlalu memasuki bilik sejarah dan selamanya tak akan lagi pernah kembali sampai dunia kiamat kelak. Memang banyak sejarawan menyebut, bahwa sejarah selalu berulang, history repeat itself. Tapi itu menyangkut peristiwa-peritiwa sejarah, misalnya sebuah pemerintahan yang tumbang karena people power, suatu saat mungkin akan terulang kembali. Sebuah negeri yang suatu masa dipimpin oleh seorang kepala negara perempuan, suatu ketika mungkin peristiwa yang sama akan terulang.
Tapi secara kalenderiah, sebuah tahun yang telah pergi, selamanya tak lagi bisa kembali. Tahun-tahun yang berlalu selamanya akan tenggelam dalam tidurnya yang abadi dengan segala kisah suka dan dukanya. Paling kita hanya bisa melihat catatan sejarah. Catatan peristiwa politik di tahun 2015 misalnya, sebagian tutup buku, tapi sebagian masih berkait kelindan dengan benang-benang kusut yang bakal kita hadapi di tahun 2016, menjadi penyebab atau menjadi akar masalah lain yang akan muncul.
Panggung politik kita yang semula diperkirakan klimaksnya pada agenda pilkada serentak 2015 di berbagai daerah di Indonesia, rupanya meleset. Pilkada serentak memang tetaplah seru, tapi permasalahannya setiap kali dari itu ke itu saja; dari kecurangan, tidak jujur dan tidak adil, intimidasi, sampai politik uang. Sebagian besar kemudian membawa persengketaannya ke Mahkamah Konstitusi (MK), adu dalil hukum di meja hijau, kemudian selesai dengan meninggalkan kekecewaan mendalam bagi pihak yang kalah.
Semua persoalan pilkada serentak terkesan menjadi panggung monoton dan membosankan. Untung ada panggung DPR kita di Senayan yang justru banyak mencuri perhatian, ketika Majelis Kehormatan DPR (MKD) bersitegang menyidangkan kasus "Papa Minta Saham" yang menyangkut diri Ketua DPR Setya Novanto. Kasus "Papa Minta Saham" telah menimbulkan kegaduhan politik yang luar biasa di Ibukota Jakarta bahkan di seluruh tanah air. Apatah lagi pada awalnya MKD secara atraktif menggunakan atribut toga hakim dalam sidang MKD. Penggunaan atribut itu memberi kesan kuat bahwa MKD bermain sandiwara dengan menyidangkan para pihak di MKD. Hal ini segera terlihat, kasus "Papa Minta Saham" yang semula pada awalnya terang benderang, kemudian masuk angin jadi kabur.
Setya Novanto akhirnya mundur dari jabatan Ketua DPR pada detik-detik terakhir. Tapi publik sudah terlanjur curiga, kemunduran itu bukan merupakan dorongan dari dalam sanubari sebagai hasil komunikasi intrapersonal intens yang dilakukannya, sebagai bentuk tanggung jawab moral, melainkan ibarat sebuah langkah penyelamatan diri. Buktinya, dia belum habis. Setya Novanto masih diberi kepercayaan oleh partainya untuk menjabat posisi penting sebagai ketua fraksi. Maka, diprediksi kasus "Papa Minta Saham" akan terus bergulir menjadi bola liar di DPR dan di tanah air. Drama besar seperti kasus "Papa Minta Saham" saja bisa dikemas sedemikian rupa, apatah lagi drama-drama lain yang lebih kecil skalanya, tentu akan menjadi kaji menurun.
Tak bisa dipungkiri, kasus "Papa Minta Saham" adalah puncak gunung es dari politik opera sabun di negeri kita. Ada banyak kasus yang digoreng sedemikian rupa laksana serial drama opera sabun (soap opera) radio atau televisi yang alurnya berbelit-belit, sarat dengan lakon, adakalanya sentimentil, adakalanya mendebarkan atau bahkan memancing kemarahan penonton. Tapi yang tak kalah pentingnya, opera sabun selalu didukung oleh sponsor. DPR sebagai sebuah lembaga politik perwakilan rakyat acapkali mempermainkan kepercayaan rakyat. Revisi UU KPK, uji kepatutan dan kelayakan calon pimpinan KPK tak ubahnya juga sebuah opera sabun. Lain yang gatal, lain yang digaruk. Tapi barangkali begitulah perangai politik opera sabun, tayangannya sarat dengan sponsor.

kolom - Riau Pos 21 Desember 2015
Tulisan ini sudah di baca 298 kali
sejak tanggal 21-12-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat