drh. Chaidir, MM | Demokrasi Semu | TIDAK ada kenduri yang tak berakhir. Begitulah terlebih terkurangnya. Pilkada serentak di berbagai pelosok negeri tanggal 9 Desember pertengahan pekan lalu, ibarat kenduri, menyisakan pemandangan klasik:  sampah yang berserakan, sisa-sisa makanan, piring-piring kotor, pinggan pecah, mangkok yang ret
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demokrasi Semu

Oleh : drh.chaidir, MM

TIDAK ada kenduri yang tak berakhir. Begitulah terlebih terkurangnya. Pilkada serentak di berbagai pelosok negeri tanggal 9 Desember pertengahan pekan lalu, ibarat kenduri, menyisakan pemandangan klasik: sampah yang berserakan, sisa-sisa makanan, piring-piring kotor, pinggan pecah, mangkok yang retak. Itu biasa. Kalau tak begitu taklah kenduri namanya.
Maka seperti diprediksi, pilkada serentak 2015, "kloter" pertama ini pun, seperti biasa, sarat cerita suka dan duka. Sorak-sorai pemenang itu lumrah. Jangankan pilkada yang diselenggarakan sekali lima tahunan, pertandingan sepakbola liga Eropa saja yang dapat kita saksikan dua kali seminggu pun tak pernah sepi dari berbagai selebrasi pemain pencetak gol dan berbagai kejadian seperti saling sikut, saling tebas, saling caci, bahkan saling gigit.
Adalah sebuah utopia bila dalam kondisi masyarakat kita sekarang, pemilihan umum sebagai wujud demokrasi berlangsung sungguh-sungguh sesuai asas LUBER dan JURDIL. Tak mungkin. Alasannya sederhana. Pemilih kita, karena tingkat pendidikan formal yang rata-rata rendah, umumnya masih belum menyadari hakikat pilkada itu sendiri. Rata-rata income per kapita yang masih rendah juga menyebabkan pemilih pada umumnya toleran terhadap politik uang. Penyelenggara pemilihan, petugas, pegawai, mereka semuanya juga manusia yang tak luput dari kesalahan.
Maka jangan heran, di sana-sini ada aroma kecurangan, tindakan tidak sportif, politik uang, patgulipat, politik kipas sate, ada pula jurus "pembawa kayu api" yang siap dengan segerobak fitnah, semuanya bercampur aduk memberi sensasi yang menimbulkan persepsi miring. Apa hendak dikata, demokratisasi di negeri kita barangkali baru sampai pada tahap itu. Atau paling tidak, kita barangkali bisa menyebut, bahwa saat ini, penyakit-penyakit demokrasi itu memang harus kita tanggungkan, entah bila akan sembuh.
Bukankah Adolf Hitler, terpilih menjadi Kanselir Jerman dalam sebuah pemilu yang demokratis? Bahwa kemudian demagog terbesar sepanjang sejarah itu menjadi fasis, itu masalah lain, itu nestapa yang menjadi takdir rakyat Jerman. Penyakit demokrasi yang paling umum: pemilihan umum yang dilaksanakan secara bebas dan jujur, tidak merupakan jaminan terpilihnya pemimpin yang baik. Itulah dilema demokrasi kata diplomat Amerika Richard Holbrooke setelah melihat fenomena itu terjadi di Yugoslavia pada tahun 1990an. Negara-negara yang baru menganut asas demokrasi, karena euforia kebebasan, seringkali terperangkap dalam kemasan demokrasi. Yang terjadi kemudian adalah kekecewaan, penyesalan, kekacauan, kekerasan, dan tirani dalam berbagai bentuk baru.
Di seluruh dunia, rezim-rezim yang secara demokratis terpilih (baik merupakan rezim yang terpilih kembali atau rezim baru), terus menerus mengabaikan batasan-batasan konstitusi atas kekuasaannya dan merampas hak-hak dasar warga negaranya. Penguasa tersebut, dipilih oleh rakyatnya secara bebas dalam pemilu yang adil. Sang penguasa seolah-olah diberi mandat oleh rakyatnya untuk menyengsarakan rakyat pemilihnya sendiri. Apa boleh buat, nasi sudah jadi bubur. Demokrasi "terkicuh di tempat terang" seperti itulah yang disebut Fareed Zakaria (2003), editor Newsweek International, sebagai Demokrasi Semu. Secara normatif, prosedural, tak ada yang salah dengan pemilu kita, sebagai bukti bahwa kita berdemokrasi, tapi hasil yang diharapkan bukan begitu. Sebab sejatinya, muara dari demokrasi itu adalah untuk menciptakan kesejahteraan rakyat yang lebih baik.
Berdasarkan fenomena itulah Churchill menyebut bahwa demokrasi bukan sistem pemerintahan terbaik, tetapi sayangnya belum ada sistem lain yang lebih teruji dari demokrasi. Maka, seburuk apapun wajah demokrasi kita, tak ada seorang pun yang rela disebut anti-demokrasi. Kicuh.


kolom - Riau Pos 14 Desember 2015
Tulisan ini sudah di baca 374 kali
sejak tanggal 14-12-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat