drh. Chaidir, MM | Tinta Emas Demokrasi | RABU (9/12/2015) esok lusa, Indonesia akan kembali nyoblos. Kali ini serentak di sembilan provinsi dan 269 kabupaten/kota; memilih gubernur-wakil gubernur, bupati-wakil bupati dan walikota-wakil walikota. Hasilnya, diperkirakan paling lambat tanggal 10 Desember, sebagian besar daerah sudah memperole
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Tinta Emas Demokrasi

Oleh : drh.chaidir, MM

RABU (9/12/2015) esok lusa, Indonesia akan kembali nyoblos. Kali ini serentak di sembilan provinsi dan 269 kabupaten/kota; memilih gubernur-wakil gubernur, bupati-wakil bupati dan walikota-wakil walikota. Hasilnya, diperkirakan paling lambat tanggal 10 Desember, sebagian besar daerah sudah memperoleh gambaran siapa pasangan calon yang akan terpilih menjadi nakhoda di daerah masing-masing selama lima tahun ke depan.
Pilkada serentak ini merupakan sebuah prestasi yang dahsyat bangsa Indonesia dalam kehidupan berdemokrasi. Tidak ada satu bangsa pun di dunia ini yang "gila" melakukan pemilihan umum seperti yang dilakukan bangsa Indonesia; bahkan negeri-negeri yang dianggap sebagai "induk hangkang" demokrasi, seperti Amerika Serikat, Inggris dan Prancis, tidak segila itu. Sekali lagi, dalam sejarah demokrasi dunia, bolehlah disebut, ini sebuah goresan tinta emas.
Tidak ada satu negeri pun di belahan lain planet ini yang menghargai hak-hak rakyatnya demikian besar dan kolosal dalam memilih pemimpinnya sendiri seperti yang dilakukan bangsa Indonesia. Apa yang kita lakukan dengan pilkada serentak seakan meneguhkan postulat demokrasi Abraham Lincoln, bahwa demokrasi itu hakikatnya pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat (government from the people, by the people, for the people). Negera kita telah memberi ruang yang sangat lebar bagi rakyatnya untuk memilih pemimpinnya sendiri.
Bila kita membalik lembaran sejarah dunia yang jauh, tentu kita menemukan semboyan legendaris liberte, egalite, fraternite, yang diteriakkan rakyat Prancis, yang kemudian terkenal dalam sejarah dunia sebagai Revolusi Prancis (1789). Semboyan itu kemudian melintasi zaman, melintasi benua dan menyeberangi samudra menjadi nilai-nilai asasi demokrasi, yakni semangat kemerdekaan, persamaan, dan persaudaraan.
Semangat itu pulahlah yang secara inheren, terlebih terkurang, menyelimuti gerakan reformasi di Indonesia dengan dipelopori oleh mahasiswa pada 1998. Mahasiswa berhasil memaksa rezim yang telah berkuasa sekian lama untuk meletakkan jabatan; salah satu alasannya karena dianggap gagal mengembangkan kehidupan berdemokrasi. Mahasiswa menganggap, tak begitu caranya memberikan hak-hak rakyat secara demokratis. Jarak kekuasaan antara rakyat dan penguasa terlalu jauh. Maka salah satu agenda reformasi bidang politik adalah demokratisasi. Wujudnya pemilu multipartai, pemilihan presiden secara langsung, dan otonomi daerah (yang kemudian diwujudkan pula dalam pilkada langsung).
Namun disayangkan, segera saja dalam gegap gempita gerakan reformasi ketika itu secara diam-diam terbentuk kutub-kutub baru; di samping munculnya kelompok pro-reformasi seperti jamur di musim penghujan yang dinilai wajar, ada pula kelompok anti-reformasi dan kelompok sunsang konsumen reformasi. Kelompok anti-reformasi posisinya jelas, adalah kelompok statusquo. Kemunculan kelompok konsumen reformasi adalah yang jelas dan merisaukan; mereka ini adalah oknum-oknum kelompok yang menggunakan jaket reformasi tapi menangguk di air keruh. Mereka-mereka ini, sebagian didukung oleh orang-orang kuat lokal (local strongmen).
Lima belas tahun pasca reformasi, agenda demokratisasi, antara lain melalui pilkada langsung, barangkali boleh pula kita sebut, mungkin tak begini caranya. Asas pemilihan langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil, telah dinodai oleh politik uang. Demokratisasi telah dinodai. Rakyat kita yang miskin memang butuh uang, tapi memberi kompensasi uang untuk suaranya, sama saja merendahkan martabat mereka. Menang dengan segala cara adalah upaya, tapi menang dengan menghalalkan segala cara adalah noda dan dosa. Katakan "NO" pada politik uang. Selamat menyoblos.


kolom - Riau Pos 7 Desember 2015
Tulisan ini sudah di baca 297 kali
sejak tanggal 07-12-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat