drh. Chaidir, MM | Sajak Kotak Pandora | MALAM  Madah Poedjangga di Graha Pena Riau, Sabu (28/11/2015) dua hari lalu, adalah sebuah malam yang tak biasa, setelah lebih dari seribu satu malam sejak kepergian sang seniman. Malam itu dikemas oleh tuan rumah, siapa lagi kalau bukan penyair  Tuan Rida K Liamsi  sang pemilik Graha Pena  untuk
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Sajak Kotak Pandora

Oleh : drh.chaidir, MM

MALAM Madah Poedjangga di Graha Pena Riau, Sabu (28/11/2015) dua hari lalu, adalah sebuah malam yang tak biasa, setelah lebih dari seribu satu malam sejak kepergian sang seniman. Malam itu dikemas oleh tuan rumah, siapa lagi kalau bukan penyair Tuan Rida K Liamsi sang pemilik Graha Pena untuk mengenang sahabatnya, pujangga almarhum Idrus Tintin. Tetamu terpesona dibuai oleh "dendang" pilihan kata-kata molek budayawan Al Azhar yang mendedah lintasan kepenyairan "Sang Burung Waktu".
Malam pun terasa sahdu ketika Multi Tintin (anak Idrus Tintin, "Sang Burung Waktu" itu) membacakan puisi liris karya ayahandanya; sebuah puisi panjang yang berjudul "Prasasti Kedukaan Kita". Darah sastra Sang Burung Waktu yang mengalir dalam setiap sel jantung putrinya itu terasa sangat kental. Benarlah ungkapan orang Yunani, "Poeta nascitur", seniman itu dilahirkan.
Bagiku, pilihan puisi yang dibaca Multi di malam spesial seperti itu terasa sangat mengena dan kontekstual dengan dinamika sebuah negeri yang selalu diberi aksentuasi oleh Sang Burung Waktu ketika masih hidup, sebagai sebuah negeri yang sarat dengan nestapa. Pada masanya, negeri Laut Sakti Rantau Bertuah ini sesungguhnya taklah sepantun negeri tak bertuan sebagaimana kondisi kekinian yang kita temui. Namun puisi itu seakan ditulis untuk pentas hari ini yang dibasahi ratapan. Agaknya benar ulasan Al Azhar, sebuah kegundahan pasti menimbulkan sensasi, tapi sensasi ini akan dipersepsi berbeda oleh setiap orang apalagi bila sensani itu menyentuh dawai sanubari pujangga yang tak terduga logika biasa. Maka, perangai kegundahan yang sama akan diberi persepsi berbeda dan tak jarang menjadi ladang subur inspirasi.
Lihatlah metafora yang yang dirangkai oleh Idrus Tintin dalam sajak "Prasasti Kedukaan Kita", dan dibacakan penuh penghayatan oleh Multi Tintin:
"......
Marahku singa lapar yang bisu / ketika lancang diturunkan ke laut / berlandas perut perempuan / bunting sembilan bulan / tak tahukah sang raja / doa orang teraniaya / lebih sakti dari daulat dan pangkatnya / zaman selalu mengulang peristiwa ini / karena zalim dan aniaya / bukan monopoli suatu masa / semua itu tergumam dalam gurindam / pantun dulu dan puisi masa kini
......."
Pada bait lain sajak tersebut Idrus Tintin meluahkan kegalauannya.
".........
Telah kita undang malapetaka / telah kita campakkan kotak Pandora / di tengah rumah sendiri
............"
Kotak Pandora dalam mitologi Yunani kuno penuh berisi keburukan, kejahatan dan berbagai titik api permasalahan. Dalam mitologi tersebut, konon Dewa Zeus sebenarnya melarang Kotak Pandora itu dibuka, tapi dewi Pandora membukanya, maka berhamburanlah kejahatan dan keburukan ke seluruh penjuru dunia sampai akhir zaman.
Di era modern, Kotak Pandora itu justru harus dibuka, sehingga tidak ada lagi keburukan dan kejahatan yang tertutup atau ditutup-tutupi. Dengan demikian semuanya bisa ditumpas habis. Kasus superjumbo pembagian saham Freeport Papua sebenarnya bisa jadi momentum untuk Indonesia bersih-bersih. Beranikah kita? Di dasar Kotak Pandora itu sesesungguhnya ada setitik harapan tanpa ketakutan, seperti ditulis Sang Burung Waktu.

kolom - Riau Pos 30 November 2015
Tulisan ini sudah di baca 451 kali
sejak tanggal 30-11-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat