drh. Chaidir, MM | Priuk dan Penguasa | TERBUKTI apa yang dikatakan Nabi Muhammad SAW seribu empat ratus tahun lampau. Bahwa, umatnya akan bertengkar satu dengan lainnya, bahkan akan saling bunuh antara sesama saudara sekalipun, tersebab ulah harta dan tahta. Ucapan itu walau sudah melintasi zaman, tapi terasa aktual sampai hari ini.

B
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Priuk dan Penguasa

Oleh : drh.chaidir, MM

TERBUKTI apa yang dikatakan Nabi Muhammad SAW seribu empat ratus tahun lampau. Bahwa, umatnya akan bertengkar satu dengan lainnya, bahkan akan saling bunuh antara sesama saudara sekalipun, tersebab ulah harta dan tahta. Ucapan itu walau sudah melintasi zaman, tapi terasa aktual sampai hari ini.

Berapa ratus tahun kemudian setelah Nabi, seorang filsuf Thomas Hobbes membuat pernyataan yang hampir sama. "Bellum omnium contra omnes...homo homini lupus". Manusia cenderung bersaing antara satu dengan lainnya karena kepentingan. Hobbes bahkan mengumpamakan, manusia yang satu akan menjadi serigala bagi manusia lainnya. Mengerikan.

Ahmad Tajudin (26) tak pernah tahu bahwa nasibnya akan berakhir tragis di Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Demikian juga Warsito Supono (40) dan Israel Jaya Simangunsong (27), ketiganya anggota Satpol PP Pemda DKI Jakarta. Mereka semua tewas sia-sia. Ironisnya, sebagaimana ditulis berbagai media cetak, Ahmad Tajudin justru sering berziarah ke pusara Mbah Priuk di Tanjung Priok itu. Barangkali, ya barangkali, tidak hanya Ahmad Tajudin dari kubu Satpol PP dan kepolisian yang menaruh hormat kepada arwah Mbah Priuk sebagai seorang penyebar Agama Islam yang disegani seperti hormatnya kubu yang mempertahankan makam Mbah Priuk itu, mungkin masih banyak yang lain. Tapi mereka ditakdirkan harus baku hantam, bahkan saling bunuh.

Tayangan bentrokan yang disiarkan berulangkali secara vulgar melalui layar televisi itu sungguh mengerikan. Kita seakan tak percaya hal seperti itu boleh terjadi (lagi) di negeri ini. Hari gene? "Perang sosoh?" Masalahnya, konflik itu terjadi di zaman modern, ketika negeri ini dipenuhi oleh semakin banyak orang terdidik, semakin banyak tokoh bijak bestari, ketika semua saluran komunikasi mestinya tidak ada yang tertutup, semua terbuka dan bisa dibuka. Tinggal pilih dengan metoda apa dan menggunakan bahasa apa, semua ada ahlinya.

Tayangan tersebut ditonton sampai ke seluruh pelosok, bahkan juga sampai ke manca negara. Siapa yang hendak disalahkan? Nasi sudah jadi bubur. Ahmad Tajudin, Warsito Supono dan Israel Jaya Simangunsong tak lagi bisa dikembalikan. Mereka yang cacat? Mungkin bisa diobati, tetapi mungkin lukanya akan terbawa sampai mati. Dan luka yang tak berkesudahan itu tak hanya dirasakan oleh mereka yang kehilangan orang tercinta, tapi juga dirasakan oleh mereka yang sangat peduli terhadap marwah bangsa ini. Begini burukkah rupa kita yang mengaku sebagai bangsa yang berbudaya dan berbudi luhur?

Komunikasi yang tersumbat adalah kambing hitam yang paling realistis. Bertemu, tetapi tak pernah ada titik temu, karena hanya sekedar formalitas, basa-basi. Padahal komunikasi yang baik dan substansial hanya akan terbangun bila para pihak memiliki kredibilitas, itikad baik, dan hati-hati (prudently). Sayangnya kapasitas itu tak dimiliki oleh seorang penguasa, kecuali sang penguasa yang juga seorang pemimpin. Dan sayangnya lagi, di negeri ini yang banyak adalah penguasa, pemimpin hanya sedikit.

kolom - Riau Pos 18 April 2010
Tulisan ini sudah di baca 1285 kali
sejak tanggal 18-04-2010

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat