drh. Chaidir, MM | Mencoreng Arang di Kening | TAJUK Rencana Riau Pos 19/11 Kamis pekan lalu,
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Mencoreng Arang di Kening

Oleh : drh.chaidir, MM

TAJUK Rencana Riau Pos 19/11 Kamis pekan lalu, "Kasus Catut Nama Presiden, Jangan Biarkan Berlarut-larut", merupakan refleksi atas keprihatinan publik terhadap kasus Freeport yang memalukan dan memilukan itu. Tajuk itu mewakili perasaan ratusan ribu pembaca yang geleng-geleng kepala menyadari apa yang telah terjadi. Bangsa ini untuk kesekian kalinya mencoreng arang di kening sendiri. Kemanakah muka hendak disurukkan, adakah sehelai ilalang tempat berlindung?
Tak bisa dipungkiri, kasus tersebut kini bergulir kian liar, fakta dan opini bercampur aduk. Informasi mundur-maju, buka-tutup, saling timpa. Saling hujat saling ancam semakin merisaukan. Sak wasangka merajalela. Kritik dan fitnah talu bertalu. Pejabat negara bertugas dengan baik saja dicurigai, apatah lagi dengan mega-kasus seperti ini, kepercayaan publik akan semakin runtuh. Kita dengan sengaja memberi peluru kepada lawan.
Kini, siapa yang benar atau siapa yang salah, kian hari semakin antara ada dan tiada. Semakin diperjelas duduk masalahnya, semakin kabur. Semakin diidentifikasi wujud makhluknya, semakin tak berbentuk, bahkan semakin menakutkan. Kita tak bisa menyebut begitulah perangai penegakan hukum di negeri ini, tajam ke bawah tumpul ke atas. Tidak. Tidak juga demikian. Jujur, ada banyak kasus kategori sensitif seperti peradilan terhadap beberapa oknum menteri kabinet, pemimpin lembaga tinggi negara, juga gubernur, dan banyak petinggi, diselesaikan secara adil oleh kekuasaan yudikatif kita. Masyarakat umum tahu, keberanian seperti itu sesuatu yang langka di awal-awal era reformasi. Banyak yang berbuai-buai dan bahkan ikut berbuai-buai di zona nyaman.
Tetapi, ketika topan badai itu menghampiri parlemen, lembaga perwakilan rakyat kita, kondisinya agak beda. Lembaga itu terkesan memiliki tembok-tembok tebal tak tergoyahkan. Berbekal jampi-jampi "vox populi vox Dei", suara rakyat suara Tuhan, tubuh lembaga itu seakan kebal terhadap aneka bisa yang mematikan; tubuhnya seakan memiliki anti-dotum sapu jagat yang bisa melemahkan segala macam racun. Ingatkah ketika beberapa oknum pimpinan Badan Aggaran DPR periode lalu diperiksa KPK dalam kasus dugaan korupsi? Beberapa anggota DPR kemudian "keluar" menyerang KPK seperti lebah menyerang burung elang yang mengganggu sarangnya. KPK pun terancam dilemahkan melalui revisi undang-undang.
Kini, dalam kasus Freeport yang pasti menyangkut nama baik lembaga, publik menanti akhir pementasan dengan berdebar-debar, akankah lembaga perwakilan kita lolos dari lubang jarum seperti biasanya? Ada gerakan-gerakan signifikan menggalang mosi tak percaya, namun seperti kita baca diberbagai media, mosi itu diakui sendiri oleh para anggota dewan, tak lebih dari sebuah gerakan moral karena tak memiliki cukup dasar hukum. Bukankah sistem pemerintahan kita presidensiil? Oleh karena itu pasti tak ditemukan terminologi mosi tak percaya dalam tata-tertib DPRD.
Kini para pemimpin kita kembali diuji, seperti disebut Tajuk Renaca Riau Pos yang disinggung di awal, pertama, cepatnya penyelesaian akan menjadi ujian bagi kepemimpinan Presiden Jokowi; kedua, percatutan itu memberi indikasi bahwa kasus tindakan korupsi di parlemen masih terbuka lebar; ketiga, kasus ini menyangkut legitimasi pemerintah; dan keempat, kasus ini sebuah preseden buruk. Dan tentu membuat kita kehilangan muka.
Semogalah krisis ini bisa diselesaikan secara elegan. Korban pasti ada tetapi janganlah sampai ada peluru nyasar ke pihak-pihak yang tak berdosa, yang hanya karena tak berdaya, dijadikan kambing hitam. Para elit pemerintahan dan politik kita hendaknya menyempatkan diri melakukan dialog intrapersonal secara lebih intens sehingga tak membohongi diri sendiri. Jangan pertebal arang di kening.


kolom - Riau Pos 23 Nov 2015
Tulisan ini sudah di baca 407 kali
sejak tanggal 23-11-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat