drh. Chaidir, MM | Mengenang Jasa Pahlawan | SEPULUH November adalah Hari Pahlawan. Di seluruh pelosok tanah air dilakukan upacara bendera. Ada ziarah tabur bunga, ada mengheningkan cipta. Tapi jujur, terasa ada sebuah fenomena, kian lama kian terasa bahwa upacara peringatan tinggal seremonial, miskin sentuhan pesan.
Pada satu sisi, peringata
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Mengenang Jasa Pahlawan

Oleh : drh.chaidir, MM

SEPULUH November adalah Hari Pahlawan. Di seluruh pelosok tanah air dilakukan upacara bendera. Ada ziarah tabur bunga, ada mengheningkan cipta. Tapi jujur, terasa ada sebuah fenomena, kian lama kian terasa bahwa upacara peringatan tinggal seremonial, miskin sentuhan pesan.
Pada satu sisi, peringatan Hari Pahlawan itu adalah salah satu cara mengenang jasa para pahlawan, kita tak hendak disebut seperti pepatah lupa kacang akan kulitnya. Kita tak rela dianggap sebagai bangsa yang kerdil jiwanya, sebab seperti dinasihatkan, bangsa yang besar adalah bangsa yang tak pernah melupakan jasa pahlawannya. Namun andai kita bisa bertanya, para pahlawan sejati sesungguhnya tak pernah minta dikenang jasanya.
Nilai semangat kepahlawanan yang kita pahami dan diwariskan oleh para pahlawan kita adalah semangat rela berkorban tanpa pamrih, rela berkorban jiwa raga untuk membela negara, nusa dan bangsa. Tak minta dihargai tak harap dikenang. Mereka demikian saja berjuang sampai tetesan darah penghabisan. Selebihnya sunyi.
Tantangan memang berbeda sesuai zamannya. Kini ini tak ada lagi musuh yang ingin menguasai jengkal demi jengkal wilayah tanah air kita; tak ada invasi militer, walau kemungkinan itu tak boleh diabaikan. Kewaspadaan tentulah menjadi bagian dari doktrin pertahanan keamanan nasional kita. Tapi kita tidak ingin jadi paranoid memikirkan ancaman invasi musuh.
Gangguan terhadap stabilitas nasional kita dewasa ini justru bukan berasal dari provokasi kekuatan militer asing, provokasi itu justru banyak muncul berupa provokasi mental yang berasal dari dalam tubuh kita sendiri. Seperti kata pakar manajemen dunia Peter Drucker, "musuh tidak berada di luar sana." Gangguan itu misalnya, muncul dalam bidang "IPOLEKSOBUD" (maaf menggunakan terminologi lama: Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial dan Budaya).
Masalah ideologi sebenarnya sudah lama dianggap selesai, sampai kemudian tiba-tiba saja pertengahan tahun ini kembali terusik ketika ada gerakan, bangsa ini harus minta maaf kepada PKI, sebuah partai komunis dinyatakan terlarang pasca G-30-S/PKI. Di samping itu muncul pula kelompok esktrim keagamaan (ISIS) dan kelompok separatis lainnya secara sporadis.
Di bidang politik, kita telah menjadi bangsa yang menganut paham liberalisme bahkan sangat liberal (kutub yang kita didikotomikan dengan komunis, jalan tengahnya adalah Pancasila). Pendidikan politik, yang menjadi salah satu fungsi partai politik untuk mendidik agar warga Negara mengerti hak dan kewajibannya secara selaras serasi dan seimbang, justru telah mendidik insan-insan partisan yang sarat dengan kepentingan sempit partai politik. Demokrasi yang terbentuk tak menyejahterakan seperti yang diinginkan semula.
Demokrasi ekonomi tak usah banyak cerita, semua sudah paham eknomi negeri ini dikuasai oleh konglomerasi multinasional (postulat ekonom Italia, Pareto benar adanya, 80 persen asset nasional dikuasai oleh 20 warga negara yang terkoneksi dengan konglomerasi multinasional, 20 persen sisa asset dikuasai oleh 80 persen warga negara asli).
Di bidang sosial budaya, prihatin. Tatanan sosial budaya yang diharapkan, berbeda jauh dengan tatanan sosial budaya yang terbentuk. Identitas budaya nasional sebagai landasan kehidupan nasional yang produktif, seperti Jepang, Korea, China dan Thailand, tak terbentuk.
Indikasi tipisnya semangat nasionalisme dan patriotisme terlihat ketika munculnya resistensi terhadap gagasan penataran bela negara yang dianggap sebagai wajib militer. Padahal wajib militer sekali pun ada landasan hukumnya. Negara-negara maju lain seperti AS, Inggris, bahkan memiliki landasan empiris tetap melaksanakan wamil. Kenapa di negeri warisan para pahlawan ini hal tersebut mesti dicurigai? Gerangan sirnakah semangat kepahlawanan itu di hati kita? Malu rasanya kita pada arwah para pahlawan.


kolom - Riau Pos 9 November 2015
Tulisan ini sudah di baca 301 kali
sejak tanggal 09-11-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat