drh. Chaidir, MM | Gatal Kemarin Digaruk Sekarang | PIMPINAN DPR kita memakai masker ketika memimpin rapat paripurna pengesahan APBN 2016 sekaligus penutupan Masa Sidang beberapa hari lalu. Aksi itu menarik perhatian. Bagi sebagian anggota DPR dianggap sebagai pelecehan terhadap masyarakat yang terkena musibah kabut asap khususnya di Sumtera dan Kali
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Gatal Kemarin Digaruk Sekarang

Oleh : drh.chaidir, MM

PIMPINAN DPR kita memakai masker ketika memimpin rapat paripurna pengesahan APBN 2016 sekaligus penutupan Masa Sidang beberapa hari lalu. Aksi itu menarik perhatian. Bagi sebagian anggota DPR dianggap sebagai pelecehan terhadap masyarakat yang terkena musibah kabut asap khususnya di Sumtera dan Kalimantan, yang lain menganggap sebagai pencitraan politik, bahkan ada yang menyebut tindakan itu sebagai politisasi kabut asap.
Alasan yang disebut terakhir wajar terutama bila dikaitkan dengan argumentasi pimpinan DPR bahwa aksi itu adalah sebagai salah satu bentuk protes terhadap pemerintahan Jokowi yang dinilai gagal dalam menangani musibah kabut asap sehingga membuat selama hampir tiga bulan masyarakat di Sumatera dan Kalimantan menderita bernafas dalam asap. Dengan kata lain, aksi tersebut adalah sebuah sindiran.
Bagi masyarakat di daerah bencana, khususnya di Riau dimana penulis bermastautin, aksi pimpinan DPR bermasker-ria tersebut jelas kesiangan. Di Riau dalam beberapa hari terakhir ini, masyarakat sudah bisa menikmati matahari dan langit biru. Langit sudah mencurahkan hujan selama beberapa hari (ternyata hujan dari langit juga yang bisa menyelesaikan masalah; kalau begitu, bila tahun depan musim asap datang lagi, pemerintah tidak usah repot-repot mengeluarkan anggaran milyaran rupiah untuk penanggulangan asap; sediakan saja rumah oksigen selebihnya tunggu hujan dari langit, habis perkara). Konon beritanya, di Jambi dan di Sumsel pun hujan sudah turun dan kabut asap jauh berkurang.
Menonton di layar televisi pimpinan DPR menggunakan masker, memberi sensasi yang terasa aneh. Sensasi itu menjalar cepat ke pusat syaraf membentuk persepsi publik yang beraneka ragam dan tak bisa dihalang-halangi. Maka wajar saja bila ada yang mengatakan perangai itu sebagai salah satu bentuk gagal pikir dari para politisi kita di senayan, dengan kata lain kehilangan common sense. Logika akal sehat terbang entah kemana.
Aksi tersebut tak ubahnya ibarat gatalnya kemarin digaruk sekarang. Artinya, suatu perbuatan yang tak lagi diperlukan. Masa krisis dan kritisnya sudah lewat, asap sudah berlalu. Yang mengherankan, ketika masyarakat kalang kabut melawan kabut asap, senayan seakan diam seribu bahasa. Tak terdengar nada alto seperti biasanya dilantunkan oleh para vokalis DPR pujaan media. Memang tidak ada penerbangan ke daerah pada masa kalang kabut kabut asap itu. Tapi, bukankah tak satu jalan ke Roma?
Sesungguhnya akan sangat terpuji bila para politisi kita di Senayan turun ke daerah kabut asap berempati dengan masyarakat. Lihat dan rasakan langsung penderitaan masyarakat dan dengarkan keluhan yang disuarakan oleh para aktivis di daerah. Akan semudah membalik telapak tangan bagi anggota DPR untuk mengatur keberangkatannya ke daerah melalui darat dan laut. Pasti ada angkutan kelas satu; hitung-hitung sambil menikmati wisata asap.
Namun upaya DPR membentuk Pansus Asap perlu diberi apresiasi dengan catatan, Pansus diharapkan bisa menggali permasalahan asap yang telah berulang terjadi puluhan tahun, sampai ke akar-akarnya. Akan tetapi jurang permasalahan kelihatannya menganga lebar di depan, sebab ekploitasi legal dan illegal hutan dan lahan kita melibatkan korporasi skala besar, yang belum-belum sudah terasa berkait kelindan dengan banyak kepentingan. Pansus DPR, salah-salah, bisa berhadapan dengan jebakan titian berakuk. Maju kena mundur kena.
Presiden ke-4 kita Gus Dur barangkali tertawa terpingkal-pingkal di alam baka sana, hipotesisnya betul, DPR itu seperti taman kanak-kanak. Mosok sih Gus?

kolom - Riau Pos 2 November 2015
Tulisan ini sudah di baca 276 kali
sejak tanggal 02-11-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat