drh. Chaidir, MM | Kiamat Kecil Bangsa Lebah |  
PARA pekerja pencari madu dari nektar bunga itu ketakutan alang kepalang. Mereka terkepung asap.
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Kiamat Kecil Bangsa Lebah

Oleh : drh.chaidir, MM


PARA pekerja pencari madu dari nektar bunga itu ketakutan alang kepalang. Mereka terkepung asap.
"Dunia sudah kiamat", teriak beberapa pekerja.
"Jangan asbun kamu, kalau kiamat ada tanda-tandanya", kata yang lain.
"Asap yang hebat ini kan tanda-tanda, ini kiamat."
" Terus bagaimana?" Yang lain berteriak panik.
"Aku tak percaya ini".
"Tapi ini nyata."
"Bagaimana ratu kita?" Pekerja lain cemas.
"Kelihatannya gawat. Tipis harapan. Kita tak bisa mendekat istana ratu."
"Habis sialang kita, habis. Kamu lihat itu, asapnya pekat sekali. Tamat riwayat kita."
"Ayo menjauh." Yang lain berteriak.
Tapi mereka terlambat. Rombongan pencari madu nectar itu terjebak asap tebal, satu demi satu mereka jatuh ke bumi yang hangus. Tragis.
Mereka tidak tahu dan tak akan pernah tahu apa yang terjadi. Bagi mereka dunia sudah kiamat. Beberapa saat sebelumnya, ketika meninggalkan sarang seperti biasanya menjalankan tugas setiap hari untuk mengumpulkan madu bunga-bungaan sedikit demi sedikit, semua masih biasa-biasa saja. Ratu masih berada di dalam sarang dan dijaga oleh lebah penjaga. Tapi sekarang semuanya berakhir dengan sebuah malapetaka. Pohon sialang tempat lebah-lebah itu bersarang hangus terbakar api.
Kasihan bangsa lebah. Padahal madu yang mereka hasilkan, tidak hanya melulu untuk kepentingan lebah itu sendiri, tapi juga untuk keperluan dan disukai oleh bangsa lain, yakni bangsa manusia. Bangsa lebah yang masih tersisa di kawasan hutan lain, tak bisa menghitung kerugian akibat kiamat kecil yang dialami oleh bangsanya yang terbakar bersama hutan..
Bangsa lebah memang memiliki kasta dalam kehidupannya. Ada kasta lebah pekerja yang bertugas mencari madu dari nektar bunga dan mengumpulkannya di dalam sarang. Dalam sarangnya menunggu ratu lebah yang merupakan satu- satunya betina dalam kelompok dan menjadi pusat perkembang biakan lebah madu lainnya. Ratu lebah ini tak bergerak kemana-mana. Kalau terjadi kebakaran seperti itu, seribu ekor lebah penjaga ratu tak berdaya. Lebah ratu pastilah jadi korban pertama. Lebah ratu tersebut dapat hidup berkisar antara 2-3 tahun dan selama hidupnya hanya bertugas untuk kawin dan beterlur. Dalam sekali bertelur, ratu lebah tersebut mampu menghasilkan hingga 2300 butir telur lebah.
Selain itu terdapat juga raja lebah yang tidak memiliki sengat seperti layaknya lebah jantan pekerja yang lain. Raja lebah tersebut hanya bertugas untuk melakukan pembuahan dengan betina. Setiap kasta lebah saling bekerja sama untuk mengumpulkan madu dan juga menjaga sarangnya dari ancaman musuh atau predator.
Lebah pekerja biasanya harus terbang menempuh jarak jauh dan menjajagi wilayah luas untuk menemukan makanan. Mereka mengumpulkan serbuk sari bunga dalam radius 800 meter dari sarangnya. Seekor lebah, yang telah menemukan bunga, terbang kembali ke sarangnya untuk memberi tahu lebah lain. Cara lebah berkomunikasi sangat menarik dan telah diteliti oleh para ahli. Lebah pekerja tentu tidak melakukannya dengan olah vokal, tetapi dengan menari.
Lebah komunikator itu terbang menari-nari sambil membuat lingkaran-lingkaran kecil. Tarian ini tentunya menarik perhatian lebah-lebah yang lainnya dan ini merupakan isyarat bagi mereka bahwa lebah yang sedang menari itu telah menemukan suatu tempat dimana terdapat tepung sari bunga. Lebah-lebah madu yang lainnya dapat pula mencium bau sari bunga yang dibawa pulang oleh si lebah penemu.
Bila lebah penemu itu menari-nari dengan penuh gairah dan bersemangat, berarti bunga temuannya banyak. Lebah pekerja pun akan berangkat beramai-ramai. Tak pernah ada mata pelajaran komunikasi dalam masyarakat lebah. Komunikasi itu berkembang dari naluri. Setiap lebah pekerja, yang sudah mencapai tingkat usia tertentu pasti memahami "bahasa" ini secara otomatis. Yang tak mereka pahami adalah mengapa hutan, bunga-bunga dan sarang mereka terbakar api. Apa dosa mereka?

kolom - Riau Pos 27 Oktober 2015
Tulisan ini sudah di baca 331 kali
sejak tanggal 27-10-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat