drh. Chaidir, MM | Asap, Sepakbola dan Kekuasaan | SEMUA baca-baca doa sudah dikirim ke langit. Semua metafora sudah dimadahkan dalam  puisi, semua kata sudah dipetik untuk selaksa prosa, bahkan semua perbendaharaan kosa kata,  termasuk nama-nama hewan sudah dihumpatkan sebagai ungkapan kemarahan, tapi asap tak kunjung sirna, seperti enggan disapa.
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Asap, Sepakbola dan Kekuasaan

Oleh : drh.chaidir, MM

SEMUA baca-baca doa sudah dikirim ke langit. Semua metafora sudah dimadahkan dalam puisi, semua kata sudah dipetik untuk selaksa prosa, bahkan semua perbendaharaan kosa kata, termasuk nama-nama hewan sudah dihumpatkan sebagai ungkapan kemarahan, tapi asap tak kunjung sirna, seperti enggan disapa. barangkali doa tak boleh dipadu dengan mantra kebencian. Mungkin puisi tak mau dirangkai dengan prosa. Sudah berhari-hari kepala barbie pushyng memikirkannya.
Di tengah kabut asap yang menyesakkan nafas dan memedihkan mata, ketika pemerintah menyerah tak mampu padamkan api, arahkan sejenak pandangan sambil lalu ke sebuah parodi sepakbola nun di sana di ibukota negara. Sesungguhnya, keduanya, darurat asap dan masalah sepakbola di negeri ini, adalah masalah kemanusiaan. Keduanya produk kebijakan selendang kekuasaan yang terselempang di pundak.
Kekuasaan, dimana pun, selalu, dan patut dicurigai, karena memiliki perangai aneh. Jangan salahkan sesiapa. Jangan cari kambing hitam kemana-mana. Makhluk aneh yang bernama kekuasaan itu, saat didambakan kehadirannya, dia tak hadir-hadir; saat tak diperlukan, malah hadir lengkap dengan teman-temannya dan segala pernak-pernik yang merepotkan dan membingungkan.
Perangai aneh itulah yang dilukiskan secara hiperbolis oleh novelis Amin Maalouf, dalam novel Leo The African (1994), "Negeri ini dilindungi oleh orang-orang yang ingin menjarahnya dan diperintah oleh orang-orang yang menjadi musuhnya", tulisnya. Mungkin novel yang diangkat dari kisah nyata kehidupan Hasan Al-Wazzan, seorang petualang dan penulis yang hidup pada abad ke-16 di Afrika utara itu berlebihan memotret realitas kehidupan yang dihadapi pada masanya. Tapi makhluk yang bernama kekuasaan itu, dewasa ini tetap relevan. Dan sekarang berkait kelindan dengan musibah kabut asap berkepanjangan dan masalah sepakbola yang mengada-ada, yang dihadapi oleh masyarakat dan membuat orang-orang yang memiliki common sense geleng-geleng kepala.
Betapa tidak. Di ibukota sebuah negara, sepakbola bisa memaksakan kondisi Siaga I, sesuatu yang tak bisa dipaksakan oleh musibah kabut asap yang telah menelan korban jiwa dan membuat banyak orang sengsara. Keduanya di negeri kita adalah masalah kemanusiaan karena menyangkut nasib nanyak orang. Sayangnya final turnamen sepakbola "Tarkam Tingkat Nasional" (maaf meminjam terminologi yang digunakan Hinca Panjaitan, Wakil Ketua Umum PSSI) itu adalah sebuah turnamen tidak resmi yang tidak diakui FIFA.
Piala Presiden tersebut juga tercatat sebagai sebuah turnament tidak resmi yang memperebutkan hadiah uang dalam jumlah besar. Total hadiah untuk mencapai Rp 26,5 miliar. Tim juara menerima hadiah Rp 3 miliar, runner up memperoleh Rp 2 miliar, peringkat ketiga mendapat Rp 1 miliar, dan peringkat keempat memperoleh Rp 500 juta. Presiden bahkan minta hadiah untuk Piala Presiden tahun depan dilipatgandakan.
Pada sisi lain komunitas sepakbola menjerit, mereka tidak butuh turnamen, mereka butuh kompetisi yang bergulir teratur. Tapi elit kekuasaan kelihatannya tak paham. Kabut asap di Sumatera dan Kalimantan seakan terabaikan dibanding gairah sesaat turnamen sepakbola yang tak berpucuk ke atas dan tak berakar ke bawah itu. Rasanya ada persepsi yang berbeda antara elit politik dan masyarakat umum soal asap dan sepakbola ini. Kita hidup di abad ke-21, bukan di abad ke-16 di era Hasan Al-Wazzan.


kolom - Riau Pos 26 Oktober 2015
Tulisan ini sudah di baca 288 kali
sejak tanggal 26-10-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat