drh. Chaidir, MM | Bravo PSPS | INGAT Martunis? Bocah berusia 10 tahun ini terombang-ambing selama dua hari dua malam di laut akibat bencana tsunami di Aceh pada 2004 silam. Martunis memakai kaos tim nasional Portugal yang sudah robek. Fakta itu terlihat oleh Portugal melalui siaran televisi. Komunitas sepakbola Portugal tanpa dis
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Bravo PSPS

Oleh : drh.chaidir, MM

INGAT Martunis? Bocah berusia 10 tahun ini terombang-ambing selama dua hari dua malam di laut akibat bencana tsunami di Aceh pada 2004 silam. Martunis memakai kaos tim nasional Portugal yang sudah robek. Fakta itu terlihat oleh Portugal melalui siaran televisi. Komunitas sepakbola Portugal tanpa disangka merespon kejadian tersebut. Pelatih Tim Nasional Portugal, Fillipe Scolari menunjukkan empatinya. Cristiano Ronaldo datang ke Aceh. Martunis secara khusus diundang ke Portugal dan diberi kehormatan dengan selebrasi khusus dalam pembukaan pertandingan kualifikasi Piala Eropa di Lisabon, ibukota Portugal.

Itulah sepakbola. Gila dan menggilakan. Olahraga boleh bercabang-cabang, tapi sepakbola tetap number one. Tak bisa dipungkiri, sepakbola adalah cabang olahraga yang paling banyak penggemarnya di dunia. Tak perlu lagi diperdebatkan, seperti "markus-kontra-markus" itu.

Barangkali hanya di negeri Obama, cabang rugby dan bola basket yang bisa mengimbangi ketenaran sepakbola, tapi dunia kan tidak hanya AS. Coba lihat di Amerika Latin. Di Brazil dan di Argentina misalnya, konon sepakbola sudah menjadi seperti agama; bagi rakyatnya, pandangan hidup mereka adalah sepakbola, yang lain nomor sekian. Di Eropa? Jangan tanya, sepakbola sudah menjadi industri raksasa. Gengsi Piala Eropa, baik antar klub maupun antar Negara, hanya bisa diimbangi oleh Piala Dunia.

Bagaimana di Afrika? Mereka lupa urusan lain kecuali sepakbola. Apalagi tahun ini Afrika Selatan akan menjadi tuan rumah Piala Dunia. Masyarakat Afrika juga tersihir dengan bintang-bintang mereka yang bertebaran di klub-klub elit Eropa. Di Asia, setelah Korea dan Jepang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2002, dan Korea Selatan tampil di babak empat besar, sepakbola menjadi mantra baru. Australia dan Selandia Baru, kini sedang mabuk kepayang karena kesebelasan mereka akan bertanding di Afrika Selatan.

Martinus adalah satu diantara sekian juta bocah-bocah kita di pelosok desa yang tergila-gila dengan sepakbola. Olahraga ini tidak hanya dicintai rakyat, tetapi juga membuat remaja-remaja kita bermimpi menjadi pemain-pemain terkenal seperti pemain pujaannya. Anak-anak kecil di kampung, hafal dengan baik nama-nama bintang kompetisi Eropa seperti Messi, Ibrahimovic, Rooney, Ronaldo, dan seterusnya. Keponakan saya di Sukajadi mogok sekolah karena klub kebanggaannya, Manchester United kalah agregat melawan Bayern Munchen dan tersingkir dari Piala Eropa.

Sayang disayang, PSSI tak diurus dengan benar. Prestasi kesebelasan Indonesia terpuruk, tertinggal jauh dari negara-negara Asia yang dulu kita ajari bermain bola. Persepakbolaan kita sedang mengidap penyakit pendarahan stadium empat. Salah satu saja indikatornya adalah, hampir di setiap daerah, di setiap pelosok, kita tidak memiliki lapangan sepakbola yang rumputnya bagus terawat dengan baik. Semua berlubang-lubang, tak terkecuali di Pekanbaru. Dimana anak-anak kita akan berlatih secara benar? Kita sibuk di level atas, tapi cuai dalam mempersiapkan prasarana dasar. Bola memang bundar tapi bukan berarti kita hanya bergantung pada bakat alam. Hari ini PSPS hebat, kita bangga. Tapi alangkah lebih membanggakan bila kehebatan itu berasal dari sebuah tradisi pembinaan yang sistemik, melalui kompetisi teratur dari bawah dengan prasarana memadai. Bravo PSPS!!

kolom - Riau Pos 12 April 2010
Tulisan ini sudah di baca 1367 kali
sejak tanggal 12-04-2010

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat